Jumat, 17 Desember 2010

HAKIKAT SYUKUR



Sebagai manusia yang cerdas dan berbudi pekerti yang mulia, sudah menjadi keharusan untuk selalu melirik, memperhatikan dan mengintrospeksi diri terhadap tingkah laku yang diperbuat, apakah telah melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. Manusia terkadang lupa dan lalai atas beberapa nikmat yang telah didapatkan. Manusia terbuai dan terpesona dengan nikmat dan kebahagiaan sebagai hasil jerih payah yang secara maksimal diusahakan. Manusia sering mengalami kebutaan mata hati dan pikiran tentang apa yang telah ia perbuat. Oleh sebab itu, tanpa disadari ia semakin jauh dari sumber yang telah di berikan keberhasilan dan kebahagiaan serta kesuksesan dalam menjalani hidup yang sementara ini. Bahkan tidak sedikit yang sudah jatuh dalam jalan kemungkaran dan kesesatan.

Kita sebagai seorang muslim yang selalu mengharapkan ridha dan kasih sayang-Nya dalam menjalani kehidupan ini, tidak seharusnya menjauhi dan melupakan nikmat dan rahmat yang Allah berikan pada kita semua. Kita harus ingat bahwa tanpa pertolongan dan rahmat-Nya yang selalu tercurah, kita tidak akan memperoleh apa yang kita inginkan walaupun usaha tersebut sudah maksimal kita kerjakan sesuai dengan rencana dan prosedur yang matang. Untuk itulah, kita harus mampu memahami hakikat dan rasa syukur kita pada Allah SWT, bukan hanya sekadar sebagai kajian dan renungan, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita dapat mengimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Menguak Hakikat Makna Syukur
Secara etimologi, kata syukur berasal dari kata "syakara" yang maknanya antara lain "pujian atas kebaikan" dan "penuhnya sesuatu". Allah SWT. Memperkenalkan dirinya kepada makhluknya dengan menggunakan kata "syakur" sebagai salah satu sifat-Nya, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi: "...innahu ghafurun syakur (...Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri)" (QS. Fathir/35:30) Muhammad Quraish Shihab menyatakan bahwa jika anda melihat makna syukur dari segi pujian, maka dapat disadari bahwa pujian terhadap yang dipuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Oleh sebab itu, segala pujian yang kita ungkapkan kepada manusia, pada hakikatnya kembali pada yang memberikan kebaikan dan kenikmatan, yaitu Allah SWT dalam hal ini, Allah mengajarkan pada manusia agar selalu mengucapkan Al-Hamdulilah sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya.

Kata "syukur" ini dapat juga di artikan dengan "menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya". Dari pengertian ini dapatlah dipahami bahwa makna "syukur" ini memberikan dorongan kepada manusia agar menggunakan segala yang dianugerahkan Allah di alam raya ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya.Dengan demikian, jikalau kita mampu menggunakan nikmat yang Allah berikan pada tempatnya, secara otomatis kita termasuk orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, jikalau kita tidak mampu menggunakan nikmat yang Allah berikan pada tempatnya, secara otomatis kita termasuk orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah SWT.

Di dalam Al-Qur'an, kata "syukur" biasanya diikuti oleh kata "kufur", seperti firman Allah SWT. Yang berbunyi: "...Sesugguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nimat-Ku), maka sesugguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS.ibrahim /14:7). Dari ayat diatas, kata "syukur" juga dapat diartikan dengan "menampakkan sesuatu kepermukaan", sedang kata "kufur" diartikan dengan "menutupi".oleh sebab itu, cara menampakkan nikmat Tuhan antara lain dalam bentuk memberikan sebagian dari nikmat yang Allah berikan kepada pihak yang membutuhkan. Sedangkan cara menutupi nikmat tersebut ialah dengan bersifat kikir kepada orang lain. Dengan demikian, dapatlah kita ketahui bahwa untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan nikmat, kita harus mensyukuri dengan cara menampakkan rasa terima kasih kita kepada Allah SWT. Dengan kata lain bahwa ungkapan rasa syukur tersebut tidak hanya di buktikan dengan ucapan saja, akan tetapi lebih dari pada itu harus dilakukan melalui perbuatan.

Menakar Rasa Syukur Kepada Allah SWT.
Tanpa kita sadari, hari demi hari, minggu ke minggu, selanjutnya bulan berganti bulan begitu cepat berlalu meniggalkan kita. Tak terasa sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru dan meninggalkan tahun yang sedang kita jalani. Begitulah roda kehidupan yang sehari-hari kita lalui dalam meraih sukses secercah harapan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat di mana kita berada. Kita sadar bahwa rezeki, kebahagian dan kehancuran adalah datangnya dari sang pencipta alam raya ini.Oleh sebab itu,kita selalu mengharapkan karunia, nikmat dan rahmat-Nya untuk mendapatkan rezeki dan kebahagian agar kita menjadi manusia yang sukses serta mendapatkan rezeki serta menempatkan diri sebagai orang yang dipandang dalam status sosial kemasyarakatan.

Di samping itu juga kita berharap agar Allah SWT menjauhkan diri kita, keluarga, bangsa dan negara yang kita cintai dari bala serta kesengsaraan yang akan membuat kita hidup dalam kemiskinan. Akan tetapi, pada masa sekarang ini, tidak sedikit manusia yang ingkar terhadap nikmat-nikmat-Nya. Kebanyakan manusia mengangap "boleh jadi dengan rasa keangkuhan" bahwa harta kekayaan, kemewahan yang ia dapatkan semata-mata hasil kerja kerasnya. Mereka lupa bahwa semua itu adalah berkat karunia dan nikmat Allah yang dicurahkan-Nya melalui rahmat dan kasih sayang-Nya kepada semua manusia. Oleh sebab itu, ia merasa berat memberikan sedikit harta yang ia punyai kepada orang yang membutuhkan.

Pada hal, pada hakikatnya, di dalam harta benda yang ia miliki terdapat sebagian hak orang miskin (orang yang membutuhkan) yang harus diberikan yang menjadi kewajibannya Melalui makna syukur dan gambaran fenomena manusia dalam menghayati nikmat dan karunia Allah SWT. Di atas, kita sebagai muslim yang menyakini janji dan ancaman Allah, sewajarnyalah kita selalu merenungi dan mengintrospeksi diri apakah kita telah menggunakan nikmat-Nya kejalan yang benar, apakah kita sudah termasuk pada orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat-Nya atau kita telah melupakan nikmat-Nya bahkan menjauhkan diri kita sendiri dari keridhaan-Nya? Di penghujung tahun ini, mari sama-sama kita perbaiki rasa syukur kita kepada Allah SWT. Dari diri kita sendiri agar kita tidak diberi-Nya kesulitan dan kesengsaraan dalam menjalani kehidupan ini. (Oleh Edi Agusman, SHI )

SYUKUR (Pujian, Terima kasih)
Kata syukur (شُكُوْر) adalah bentuk mashdar dari kata kerja syakara - yasykuru- syukran - wa syukuran - wa syukranan (شَكَرَ - يَشْكُرُ - شُكْرًا - وَشُكُوْرًا - وَشُكْرَانًا). Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf syin (شِيْن), kaf (كَاف), dan ra’ (رَاء), yang mengandung makna antara lain ‘pujian atas kebaikan’ dan ‘penuhnya sesuatu’.

Menurut Ibnu Faris bahwa kata syukur memiliki empat makna dasar. Pertama, pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh, yakni merasa ridha dan puas sekalipun hanya sedikit, di dalam hal ini para pakar bahasa menggunakan kata syukur untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput. Kedua, kepenuhan dan ketabahan, seperti pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat شَكَرَةُ الشَّجَرَة (syakarat asy-syajarah). Ketiga, sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit). Keempat, pernikahan atau alat kelamin. Dari keempat makna ini, M. Quraish Shihab menganalisis bahwa kedua makna terakhir dapat dikembalikan dasar pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Yakni, makna ketiga sejalan dengan makna pertama yang menggambarkan kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedangkan makna keempat sejalan dengan makna kedua karena dengan pernikahan atau alat kelamin dapat melahirkan anak. Dengan demikian, makna-makna dasar tersebut dapat diartikan sebagai penyebab dan dampaknya sehingga kata syukur (شُكُوْر) mengisyaratkan, “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur”.

Al-Asfahani menyatakan bahwa kata syukur mengandung arti ‘gambaran di dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan’. Pengertian ini diambil dari asal kata syukur (شُكُوْر) --seperti dikemukakan di atas-- yakni kata syakara (شَكَرَ), yang berarti ‘membuka’ sehingga ia merupakan lawan dari kata kafara/kufur (كَفَرَ\كُفُوْر), yang berarti ‘menutup’, atau ‘melupakan nikmat dan menutup-nutupinya’. Jadi, membuka atau menampakkan nikmat Allah antara lain di dalam bentuk memberi sebahagian dari nikmat itu kepada orang lain, sedangkan menutupinya adalah dengan bersifat kikir.

Kata syukur (شُكُوْر) di dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 75 kali tersebar di dalam berbagai ayat dan surat di dalam Alquran. Kata syukuran (شُكُوْرًا) sendiri disebutakan hanya dua kali, yakni pada S. Al-Furqan (25): 62 dan S. Al-Insan (76): 9.
Kata syukuran (شُكُوْرًا) yang pertama digunakan ketika Allah Swt. menggambarkan bahwa Allah yang telah menciptakan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Di dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Kasir berpendapat bahwa Allah Yang Mahasuci menjadikan malam dan siang silih berganti dan kejar-mengejar, yang kesemuanya itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hedaknya direnungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur kepada-Nya.

Kata syukuran (شُكُوْرًا) kedua yang terdapat di dalam S. Al-Insan (76): 9 digunakan oleh Alquran ketika Allah menggambarkan pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada orang-orang fakir dan miskin yang tiada lain yang mereka harapkan kecuali keridaan Allah Swt; dan mereka tidak akan pernah mengharapkan dari mereka yang diberi itu balasan serta ucapan terimakasih atas pemberian itu. M. Quraish Shihab menukilkan bahwa adalah Ali bin Abi Talib dan istrinya, Fatimah, putri Rasulullah Saw. memberikan makanan yang mereka rencanakan menjadi makanan berbuka puasa kepada tiga orang yang membutuhkan, dan ketika itu mereka membaca ayat di atas. Karena itu, dari sini dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah di dalam sifat-sifat-Nya dan mencapai peringkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti syukur; di dalam arti, balasan dari yang diberi, atau ucapan terimakasih.
Kalau kata syakara (شَكَرَ) merupakan antonim dari kata kafara (كَفَرَ) maka bentukan dari kedua kata ini pun sering diperhadapkan di dalam Alquran, antara lain pada S. Ibrahim (14): 7. Jadi, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat”, sedangkan hakikat kufur adalah “menyembunyikan nikmat”. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya. Di samping itu, berarti juga menyebut-nyebut nikmat serta pemberinya dengan lidah (S. Adh-Dhuha [93]: 11). Demikian pula pada S. Al-Baqarah (2): 152. Para mufasir menjelaskan bahwa ayat yang disebut terakhir ini mengandung perintah untuk mengingat Allah tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur yang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya. Di dalam kaitan ini, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.
Kata syukur (شُكُوْر) juga berarti ‘puji’; dan bila dicermati makna syukur dari segi pujian maka kiranya dapat disadari bahwa pujian terhadap yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Dengan begitu, setiap yang baik yang lahir di alam raya ini adalah atas izin dan perkenan Allah. Apa yang baik dari kita, pada hakikatnya adalah dari Allah semata; jika demikian, pujian apapun yang kita sampaikan kepada pihak lain, akhirnya kembali kepada Allah jua. Jadi, pada prinsipnya segala bentuk pujian (kesyukuran) harus ditujukan kepada Allah Swt. Di dalam hal ini, Alquran memerintahkan umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya (S. Al-Baqarah [2]:152 dan S. Luqman [31]: 12. Itu sebabnya kita diajarkan oleh Allah untuk mengucapkan “Alhamdulillah” (اَلْحَمْدُ ِلله), di dalam arti ‘segala puji (hanya) tertuju kepada Allah’. Namun, ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Misalnya, Alquran secara tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua orang, yang menjadi perantara kehadiran kita di pentas dunia ini (S. Luqman [31]: 14).
Pada sisi lain, Alquran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedangkan Allah sama sekali tidak memperoleh, bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya (S. An-Naml [27]: 40). Akan tetapi, karena kemurahan Allah, Dia menyatakan diri-Nya sebagai Syakirun ‘Alim (شَاكِرٌ عَلِيْمٌ) di dalam S. Al-Baqarah (2): 158 dan Syakiran ‘Alima (شَاكِرًا عَلِيْمًا) di dalam S. An-Nisa’ (4): 147, yang keduanya berarti ‘Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui’; di dalam arti, Allah akan menganugerahkan tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk yang bersyukur. Demikian M. Quraish Shihab.
Di dalam Alquran, selain kata syukur (شُكُوْر) ditemukan juga kata syakur (شَكُوْر). Kata yang disebut terakhir ini berulang sebanyak sepuluh kali, tiga di antaranya merupakan sifat Allah dan sisanya menjadi sifat manusia. Al-Ghazali mengartikan syakur sebagai sifat Allah adalah bahwa Dia yang memberi balasan banyak terhadap pelaku kebaikan atau ketaatan yang sedikit; Dia yang menganugerahkan kenikmatan yang tidak terbatas waktunya untuk amalan-amalan yang terhitung dengan hari-hari tertentu yang terbatas. Di dalam pada itu, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ada juga hamba-hamba Allah yang syakur, walau tidak banyak, sebagaimana firman-Nya di dalam S. Saba’ (34): 13. Dari sini, tentu saja makna dan kapasitas syakur hamba (manusia) berbeda dengan sifat yang disandang Allah. Manusia yang bersyukur kepada manusia/makhluk lain adalah dia yang memuji kebaikan serta membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak dari apa yang telah dilakukan oleh yang disyukurinya itu. Syukur yang demikian dapat juga merupakan bagian dari syukur kepada Allah. Sebab, berdasarkan hadis Nabi Saw, “Wa-man lam yasykur an-nas lam yasykur Allah” (وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لمَ ْيَشْكُرِ اللهَ = Siapa yang tidak mensyukuri manusia maka dia tidak mensyukuri Allah). (HR. Abu Daud dan At-Turmuzi). Hadis ini antara lain berarti bahwa siapa yang tidak pandai berterimakasih (bersyukur) atas kebaikan manusia maka dia pun tidak akan pandai mensyukuri Allah karena kebaikan orang lain yang diterimanya itu bersumber dari Allah juga. Jadi, syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya serta dorongan untuk bersyukur dengan lidah dan perbuatan.
Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kata syukur (شُكُوْر) dan kata-kata yang seakar dengannya di dalam Alquran meliputi makna ‘pujian atas kebaikan’, ‘ucapan terimakasih’, atau ‘menampakkan nikmat Allah ke permukaan’, yang mencakup syukur dengan hati, syukur dengan lidah, dan syukur dengan perbuatan. Di dalam hal ini, syukur juga diartikan sebagai ‘menggunakan anugerah Ilahi sesuai dengan tujuan penganugerahannya’. [Muhammadiyah Amin]


Apa makna syukur bagi anda?
"Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" QS. Ar Rahman:13
Apa yang anda rasakan ketika mendengar ayat ini? Bahwa tidak ada setitik pun yang ada di dunia ini yang dapat manusia dustakan. Semua keindahan yang diciptakan oleh Ar Rahman diberikan pada tiap partikel ciptaanNya. Pegunungan hijau yang terhampar luas. Lautan biru yang membentang, menyediaakan sumber makanan serta kekayaan bumi yang melimpah ruah yang dapat digunakan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Bintang bintang di langit, bisa menjadi petunjuk jalan ketika seorang musafir, nelayan, atapun sekelompok pecinta Alam yang tengah tersesat mencari jalan keluar. Semua telah ALLAH SWT sediakan bagi manusia. Namun, banyak manusia yang tidak menyadarinya. Lantas, lupa ataupun lalai mengucapkan terima kasih pada-Nya.

Syukur. Apa makna syukur bagi anda? Syukur memiliki begitu banyak definisi. Tergantung pada tiap otak manusia mendefinisikan kata syukur itu seperti apa. Tetapi, bagi setiap muslim. Ketika ia sholat, lalu bersujud dan berdoa di dalam sujudnya mengucapkan terima kasih tiada tara atas apa yang telah Rabb-Nya berikan kepada dia di dalam kehidupannya. Baik itu kemudahaan ataupun kesulitan. Baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan. Namun, ia masih mengucap syukur, "Terima kasih untuk segala nikmat yang telah engkau berikan pada hamba Ya RABB!" di dalam untaian doanya di setiap sujud syukur.


Ketika seorang muslim bersedekah. Memberikan apa yang ia miliki kepada orang lain. Berbagi apa yang dimiliki, entah itu berupa materi, sandang pangan, ataupun darah yang mengalir di dalam tubuhnya untuk di donorkan. Itu juga merupakan salah satu wujud dari rasa syukur kepada Rabb-Nya.

Begitu banyak cara bagi seorang muslim untuk menyatakan bahwa dirinya berbahagia, berterima kasih, lantas bersyukur kepada Rabb-Nya atas nikmat yang telah hadir di dalam kehidupannya. Nikmat sehat, nikmat sakit, nikmat ketika menyantap makanan serta minuman halal, nikmat kasih sayang dari keluarga dan orang yang mencintai kita dengan tulus, dan masih banyak nikmat yang kadang luput dari kesadaran seorang muslim.

ALLAH SWT berfirman,
"Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." QS.Ibrahim:34
"Dan, menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." QS.Luqman:20
"Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah datangnya." QS. An-Nahl : 53

Ketika seorang muslim sudah bisa berada pada titik syukur, dan mensyukuri apapun yang telah dialami dalam kehidupannya. Maka, ia akan lebih mudah mengundang rasa bahagia masuk ke dalam nurani. Kebahagiaan, ketenangan, dan rasa syukur yang senantiasa membuahkan rasa ikhlas dan nyaman dalam menjalani kehidupan. Kecemasan, rasa takut yang berlebihan akan masa depan, berbagai prasangka yang di alamatkan kepada Rabb-Nya ataupun kepada sodara sesama muslim dapat dikelola dengan baik.

Sudahkah anda bersyukur, dan tersenyum atas nikmat serta karunia yang ALLAH SWT berikan pada anda hari ini? :)


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".( QS. Ibrahim: 7 )


Saat ini kembali rasa malu yang amat sangat menyusup di dadaku, ketika ku baca berulang-ulang salah satu isi dari surat cinta-Nya diatas

Sudahkan aku bersyukur dengan tulus terhadap apa yang semua ku miliki sekarang ???
Sudahkah Aku bersyukur terhadap Anugrah terbesar yang DIA berikan kepadaku yaitu Anugrah Islam dan Iman yang diselipkan dalam Qalbuku ???
Sudahkah…….???
Sudahkan……???
Sudahkan……???

Beribu pertanyaan menghujam diriku karena Aku sadar bahwa Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting.Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Menurutku ada dua hal yang sering membuat kita lalai dalam bersyukur…

Yang pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang
kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.Sehingga kita lalai untuk mensyukuri apa yang kita miliki saat ini

Yang kedua, Selalu membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan orang lain seperti istilah yang sering kita dengar “Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.”

Ah…Rasanya Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki karena Orang yang kaya bukanlah yang memiliki segala hal, tapi orang yang bisa menikmati apa yang dimilikinya dengan penuh rasa syukur


SUDAHKAH KITA BERSYUKUR HARI INI ???


وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” ( QS. Al-A`raaf:10 )
Hakikat Syukur!

“Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatku kepada kamu dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabku amatlah keras”.
(Ibrahim: 7)
Bersyukurkah Kita?
Syukur merupakan suatu amalan yang utama dan mulia, oleh itu Allah s.w.t. memerintahkan kita semua untuk bersyukur kepadaNya, mengakui segala keutamaan yang telah Dia berikan , firmanNya:
“Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu (dengan mematuhi hukum dan undang-undangKu), supaya aku membalas kamu dengan kebaikan dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur (akan nikmatKu).
(Al-Baqarah: 152)
Allah SWT juga memberitahu bahawa Dia tidak akan menyeksa mereka yang bersyukur, sebagaimana yang difirmankan, ertinya;
“Apa gunanya Allah menyeksa kamu sekiranya kamu bersyukur (akan nikmatNya) serta kamu beriman (kepada Nyata)? Dan (Ingatlah) Allah sentiasa membalas dengan sebaik-baiknya (akan orang-orang yang bersyukur kepadaNya), lagi Maha Mengetahui (akan hal keadaan mereka)” (An-Nisaa:147)
Mereka yang bersyukur merupakan golongan yang istimewa di hadapan Allah firmanNya:
“Kalaulah kamu kufur ingkar (tidak bersyukur) akan nikmat-nikmatNya itu, maka ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah tidak berhajatkan (iman dan kesyukuran) kamu (untuk kesempurnaanNya) dan Dia tidak redakan hamba-hambanya berkeadaan kufur dan jika kamu bersyukur, Dia meredainya menjadi sifat dan amalan kamu”
(QS Az Zumar: 7)
Allah juga menegaskan bahawa syukur merupakan sebab kekalnya sesuatu nikmat, juga semakin bertambah, firmanNya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabKu amatlah keras”. (Ibrahim: 7)
Hakikat Syukur:
Kesyukuran yang hakiki didirikan di atas lima asas utama yang mana barang siapa mengamalkannya, maka dia adalah seorang yang benar-benar bersyukur iaitu;
1. Merendahkan diri terhadap yang disyukuri (Allah).
2. Rasa cinta terhadap Pemberi Nikmat (Allah).
3. Mengakui seluruh nikmat yang Dia berikan.
4. Senantiasa memuji-Nya atas nikmat tersebut.
5. Tidak menggunakan nikmat untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah.
Jenis-Jenis Syukur:
Imam Ibnu Rajab berkata, “Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan”.
Syukur dengan hati adalah mengakui nikmat tersebut dari Allah, berasal dari-Nya dan atas keutamaannya.
Syukur dengan lisan iaitu selalu memuji Yang Memberi nikmat (Allah), menyebut nikmat itu, mengulang-ulangnya serta menampakkan nikmat tersebut, Allah s.w.t. berfirman, ertinya, “ dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-yebutNya (dengan bersyukur)”. (QS:93:11)
Syukur dengan anggota badan iaitu tidak menggunakan nikmat tersebut, kecuali dalam rangka ketaatan kepada Allah s.w.t., berwaspada dari menggunakan nikmat untuk kemaksiatan kepada-Nya.
Setelah kita tahu hakikat dan jenis-jenis syukur, maka marilah kita memuhasabah diri, adakah selama ini kita telah menjadi seorang hamba Allah yang benar-benar bersyukur?
Kita harus bertanya secara jujur:
Apakah bersyukur ertinya, jika seorang Muslim atau Muslimah meniru-niru gaya hidup orang kafir? Apakah makna syukur bila seorang Muslimah mengikuti model dan gaya hidup wanita musuh Allah? Berpakaian terbuka, bertabarruj dan membantah ketetapan syarak tanpa rasa malu dan segan?
Apakah dianggap bersyukur, jika seorang Muslim meninggalkan solat lima waktu, atau mensia-siakannya atau tidak mahu mengerjakannya dengan berjemaah? Bahkan lebih suka melakukan perkara bidaah dan sesat?
Aoakah termasuk orang syukur kalau meremehkan puasa Ramadan, tidak mahu pergi haji padahal mampu, tidak mahu membayar zakat dan bersedekah?
Apakah merupakan orang yang bersyukur jika tanpa segan silu bergelumang dengan riba, membazirkan harta untuk berfoya-foya, minum-minuman keras, dadah dan seumpamanya?
Apakah tanda syukur jika seorang pemuda suka melepak di pusat membeli belah, tepi jalan, berbual kosong di telefon, membazirkan makanan dan meremehkan nikmat yang dia terima?
Ketahuilah Nikmat Allah:
Sesungguhnya mengetahui dan mengenal nikmat, merupakan di antara rukun terbesar dalam bersyukur. Abu Darda’ mengatakan, “Barang siapa yang tidak mengetahui nikmat Allah selain makanan dan minumnya, maka bererti ilmunya adalah sedikit dan azab telah menimpanya”.
Nikmat-Nikmat yang Utama
Nikmat Allah tidak terhingga banyaknya dan di antara yang utama yang perlu untuk kita sedari ialah:
(1) Islam dan Iman:
Demi Allah, inilah nikmat yang terbesar, d imana Allah menjadikan kita sebagai Muslim. Sufyan Ibnu Uyainah berkata, “Tidak ada satu nikmat pun dari Allah untuk hambaNya yang lebih utama, daripada diajarkannya kalimat LA ILAHA ILLALLAH.”
(2) Penangguhan Azab (balasan) Ke atas Dosa Dan DiTutupnya Dosa Kita.
Ini juga merupakan nikmat yang sangat besar, kerana jika setiap kali kita melakukan dosa lalu Allah Terus membalasnya, maka tentu seluruh alam ini akan binasa. Akan tetapi Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Firman Allah,
“Dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin” (Luqman: 20).
Berkata Muqatil, “Adapun (nikmat) yang lahir (nampak) adalah Islam, sedangkan yang batin adalah ditutupnya kemaksiatan yang dilakukan kalian.”
(3) Peringatan
Peringatan adalah termasuk nikmat yang besar dan ini merupakan salah satu ketelitian Allah agar hamba-Nya tidak terlena. Tanpa kita duga terkadang ada seseorang yang datang meminta makanan atau sesuatu kepada kita, hikmahnya dengan perantaraan orang yang sedang kesusahan tersebut akan membuat kita ingat terhadap nikmat yang diberikan Allah.
(4) Terbukanya Pintu Taubat
Adalah nikmat yang sangat besar dari Allah sekiranya terbukanya pintu taubat kepada kita, walau sebanyak manapun dosa dan kemaksiatan kita. Selagi nafas belum sampai di halkum dan selagi matahari belum terbit dari barat, maka pintu taubat sentiasa terbuka.
(5) Kesihatan, Kesejahteraan Dan Keselamatan Anggota Badan
Salman al-Farisi mencerikan tentang seorang yang diberi harta melimpah lalu kenikmatan tersebut dicabut, sehingga dia jatuh miskin namun orang tersebut masih memuji Allah. Maka ada seorang bertanya, “aku tidak tahu, atas alasan apa engkau masih memuji Allah? Dia menjawab, “Aku memujiNya atas sesuatu yang andainya aku diberi seluruh yang diberikan kepada manusia, maka aku tidak mahu menukarnya”. Orang itu bertanya, “Apakah benda itu?” Dia menjawab, “Apakah engkau tidak memperhatikan kesejahteraan penglihatanmu, lisanmu, kedua tangan dan kakimu?”
(6) Nikmat Harta (Makan Minum dan Pakaian)
Aisyah r.a. berkata, “Tidaklah seorang hamba yang meminum air sejuk, lalu masuk ke dalam perut dengan lancar tanpa ada gangguan dan keluarnya juga dengan lancar, kecuali wajib baginya bersyukur”
Marilah kita sama-sama menginsafi, tidakkah segala jenis nikmat yang disebutkan di atas amat tinggi nilainya dalam kehidupan kita ini. Nikmat-nikmat ini tidak dapat ditukar wang ringgit hatta seluruh isi alam ini sekalipun tidak dapat menandingi nikmat yang diberikan Nya kepada kita.
Apakah kita telah bersyukur?
Apakah tanda kita bersyukur?
Apakah kita terus bersyukur?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar