Rabu, 23 Maret 2011

waqaf

Definisi/Pengertian Wakaf, Rukun dan Persyaratan Wakaf :23-03-2011

A. Arti Definisi / Pengertia Wakaf (Waqaf)

Waqaf/Wakaf adalah menahan suatu benda yang kekal abadi secara fisik zatnya serta dapat digunakan untuk sesuatu yang benar dan bermanfaat. Contoh wakaf yaitu seperti mewakafkan sebidang tanah untuk dijadikan lahan makam penduduk setempat, wakaf bagunan untuk dijadikan masjid, dan lain-lain.

B. Rukun Wakaf (Waqaf)

1. Ada Orang Yang Wakaf
- Wakaf atas kemauan sendiri tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.
- Pelaku wakaf memiliki hak untuk berbuat kebaikan.

2. Ada Barang Yang Diwakafkan
- Kekal abadi bendanya
- Milik sendiri
- Ada akad wakaf antara pemberi dan penerima waqaf

3. Ada Orang Yang Diwakafkan

C. Persyaratan / Syarat-Syarat Wakaf (Waqaf)

1. Mewakafkan untuk selamanya tak terbatas waktu.
2. Jelas siapa yang mewakafkan dan kepada siapa diwakafkan.
3. Dibayar secara tunah / cash.
menurut etimologi berarti berhenti/menahan. Menurut istilah tajwid berarti memutuskan suara di akhir kata untuk bernafas sejenak dengan niat meneruskan bacaan selanjutnya.

Jenis Waqaf

1. Wakaf Lazim (harus)
yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna. Wakaf Lazim disebut juga Wakaf Taam (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya.
Tandanya:( م ).

2. Waqaf Ja’iz (boleh)
yaitu bacaan yang boleh washal (disambung) atau wakaf (berhenti). Wakaf jenis ini terbagi dua, yaitu yang terkadang disambung lebih baik dan yang terkadang berhenti lebih baik, terbagi kepada:
a. Waqaf Kafi (cukup)
yaitu bacaan yang boleh washal atau wakaf, akan tetapi wakaf lebih baik daripada washal.
Dinamakan kafi karena berhenti di tempat itu dianggap cukup tidak membutuhkan kalimat sesudahnya sebab secara lafal sudah tidak ada kaitannya.
Tandanya:( قلي ).
b. Waqaf Tasawi (sama)
yaitu tempat berhenti yang sama hukumnya antara wakaf dan washal.
Tandanya:( ج ).
c. Waqaf Hasan (baik)
yaitu bacaan yang boleh washal atau wakaf, akan tetapi washal lebih baik dari wakaf.
Dinamakan hasan (baik) karena berhenti di tempat itu sudah baik.
Tandanya:( صلي ).

3. Waqaf Muraqabah (terkontrol)
yang disebut juga ta`anuqul-waqfi (wakaf bersilang), yaitu terdapatnya dua tempat wakaf di lokasi yang berdekatan, akan tetapi hanya boleh berhenti pada salah satu tempat saja.
Tandanya: ( ………………………. )

4. Waqaf Mamnuk (terlarang),
yaitu berhenti di tengah-tengah kalimat yang belum sempurna yang dapat mengakibatkan perubahan pengertian karena mempunyai kaitan yang sangat erat –secara lafal dan makna– dengan kalimat sesudahnya. Oleh karena itu, dilarang berhenti di tempat seperti ini.
Tandanya:( لا )

5. Saktah Lathifah (berhenti sejenak),
yaitu memutuskan suara (selama dua harakat) di akhir kata tanpa bernafas.
Tandanya:( س )

Sabtu, 19 Maret 2011

NIKAH MUT'AH

Adakah Ayat Al Qur’an Tentang Nikah Mut’ah?
Posted on Maret 12, 2011 by secondprince

Adakah Ayat Al Qur’an Tentang Nikah Mut’ah?

Syiah menyatakan kalau nikah mut’ah dihalalkan dan terdapat ayat Al Qur’an yang menyebutkannya yaitu An Nisaa’ ayat 24. Salafy yang suka sekali mengatakan nikah mut’ah sebagai zina berusaha menolak klaim Syiah. Mereka mengatakan ayat tersebut bukan tentang nikah mut’ah.
وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan [diharamkan juga kamu mengawini] wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki [Allah telah menetapkan hukum itu] sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian [yaitu] mencari istri-istri dengan hartamu untuk dinikahi bukan untuk berzina. Maka wanita [istri] yang telah kamu nikmati [istamta’tum] di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [An Nisaa’ ayat 24]

Telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa “penggalan” An Nisaa’ ayat 24 ini berbicara tentang nikah mut’ah. Hal ini telah diriwayatkan dari sahabat dan tabiin yang dikenal sebagai salafus salih [menurut salafy sendiri]. Alangkah lucunya kalau sekarang salafy membuang jauh-jauh versi salafus salih hanya karena bertentangan dengan keyakinan mereka [kalau nikah mut’ah adalah zina].

.

.

Riwayat Para Shahabat Nabi
حدثنا ابن المثنى قال حدثنا محمد بن جعفر قال حدثنا شعبة عن أبي مسلمة عن أبي نضرة قال قرأت هذه الآية على ابن عباس “ فما استمتعتم به منهن ” قال ابن عباس “ إلى أجل مسمى ” قال قلت ما أقرؤها كذلك! قال والله لأنزلها الله كذلك! ثلاث مرات

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Maslamah dari Abi Nadhrah yang berkata : aku membacakan ayat ini kepada Ibnu Abbas “maka wanita yang kamu nikmati [istamta’tum]”, Ibnu Abbas berkata “sampai batas waktu tertentu”. Aku berkata “aku tidak membacanya seperti itu”. Ibnu Abbas berkata “demi Allah, Allah telah mewahyukannya seperti itu” [ia mengulangnya tiga kali] [Tafsir Ath Thabari 6/587 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy]

Riwayat ini sanadnya shahih. Para perawinya tsiqat atau terpercaya. Riwayat ini juga disebutkan Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 2 no 3192 dan Ibnu Abi Dawud dalam Al Masahif no 185 semuanya dengan jalan dari Syu’bah dari Abu Maslamah dari Abu Nadhrah dari Ibnu Abbas.

* Muhammad bin Mutsanna adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Adz Dzahiliy berkata “hujjah”. Abu Hatim berkata shalih al hadits shaduq”. Abu Arubah berkata “aku belum pernah melihat di Bashrah orang yang lebih tsabit dari Abu Musa [Ibnu Mutsanna] dan Yahya bin Hakim”. An Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Khirasy berkata “Muhammad bin Mutsanna termasuk orang yang tsabit”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khatib berkata “tsiqat tsabit”. Daruquthni berkata “termasuk orang yang tsiqat”. Amru bin ‘Ali menyatakan tsiqat. Maslamah berkata “tsiqat masyhur termasuk hafizh” [At Tahdzib juz 9 no 698]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 2/129]. Adz Dzahabi berkata tsiqat wara’ [Al Kasyf no 5134]
* Muhammad bin Ja’far Al Hudzaliy Abu Abdullah Al Bashriy yang dikenal dengan sebutan Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia lebih aku sukai daripada Abdurrahman [Ibnu Mahdi] dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim berkata dari Muhammad bin Aban Al Balkhiy bahwa Ibnu Mahdi berkata “Ghundar lebih tsabit dariku dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia orang bashrah yang tsiqat dan ia adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah [At Tahdzib juz 9 no 129]
* Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]
* Abu Maslamah adalah Sa’id bin Yazid bin Maslamah Al Azdi perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Al Ijli, Al Bazzar menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 168]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 1/367]
* Abu Nadhrah adalah Mundzir bin Malik perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Ahmad bin Hanbal menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 528]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 2/213]

حدثنا حميد بن مسعدة قال حدثنا بشر بن المفضل قال حدثنا داود عن أبي نضرة قال سألت ابن عباس عن متعة النساء قال أما تقرأ ” سورة النساء ” ؟ قال قلت بلى! قال فما تقرأ فيها ( فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى ) ؟ قلت لا! لو قرأتُها هكذا ما سألتك! قال : فإنها كذا

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah yang berkata telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud dari Abi Nadhrah yang berkata : aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang nikah mut’ah. Ibnu Abbas berkata : tidakkah engkau membaca surah An Nisaa’?. Aku berkata “tentu”. Tidakkah kamu membaca “maka wanita yang kamu nikmati [istamta’tum] sampai batas waktu tertentu”?. Aku berkata “tidak, kalau aku membacanya seperti itu maka aku tidak akan bertanya kepadamu!. Ibnu Abbas berkata “sesungguhnya seperti itulah” [Tafsir Ath Thabari 6/587 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy].

Riwayat ini juga shahih sanadnya. Humaid bin Mas’adah termasuk perawi Ashabus Sunan dan Muslim. Abu Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkanya dalam Ats Tsiqat. Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 83]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/246]. Adz Dzahabi berkata “shaduq” [Al Kasyf no 1257]. Bisyr bin Mufadhdhal adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Abu Hatim, Abu Zur’ah, Nasa’i, Ibnu Hibban, Al Ijli, Ibnu Sa’ad dan Al Bazzar menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 844]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit ahli ibadah” [At Taqrib 1/130]. Dawud bin Abi Hind adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibnu Khirasy, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 3 no 388]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat mutqin [At Taqrib 1/283].
حدثنا عبد الله حدثنا نصر بن علي قال أخبرني أبو أحمد عن عيسى بن عمر عن عمرو بن مرة عن سعيد بن جبير ” فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى ” وقال هذه قراءة أبي بن كعب

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Ali yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Ahmad dari Isa bin ‘Umar dari ‘Amru bin Murrah dari Sa’id bin Jubair “maka wanita yang kamu nikmati [istamta’tum] sampai batas waktu tertentu” ia berkata “ini adalah bacaan Ubay bin Ka’ab” [Al Masahif Ibnu Abi Dawud no 130]

Riwayat ini shahih para perawinya tsiqat. Abdullah adalah Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’at As Sijistani atau yang dikenal dengan Abu Bakar bin Abi Dawud, ia adalah seorang hafizh yang tsiqat dan mutqin [Irsyad Al Qadhi no 576]. Nashr bin Ali Al Jahdhamiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/243]. Abu Ahmad Az Zubairi adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit hanya saja sering salah dalam hadis dari Ats Tsawriy [At Taqrib 2/95]. Isa bin Umar Al Asdiy adalah perawi Tirmidzi dan Nasa’i yang tsiqat [At Taqrib 1/773]. ‘Amru bin Murrah Abu Abdullah Al Kufiy perawi kutubus sittah yang tsiqat dan ahli ibadah [At Taqrib 1/745]. Sa’id bin Jubair Al Asdiy adalah tabiin perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit faqih [At Taqrib 1/349]

Ibnu Jarir juga meriwayatkan bacaan Ubay bin Ka’ab ini dengan jalan sanad dari Abu Kuraib dari Yahya bin Isa dari Nushair bin Abi Al Asy’at dari Ibnu Habib bin Abi Tsabit dari ayahnya dari Ibnu Abbas. [Tafsir Ath Thabari 6/586 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy]. Para perawinya tsiqat kecuali Yahya bin Isa Ar Ramliy

Yahya bin Isa Ar Ramliy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal telah menta’dilnya. Al Ijli menyatakan ia tsiqat tasyayyu’. Abu Muawiyah telah menulis darinya. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata dhaif atau tidak ada apa-apanya atau tidak ditulis hadisnya. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya tetapi di dalamnya ada kelemahan”. Ibnu Ady berkata “kebanyakan riwayatnya tidak memiliki mutaba’ah” [At Tahdzib juz 11 no 428]. Ibnu Hajar berkata “jujur sering salah dan tasyayyu’” [At Taqrib 2/311-312]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Man Tukullima Fihi Wa Huwa Muwatstsaq no 376]. Ibnu Hibban menyatakan kalau ia jelek hafalannya banyak salah sehingga meriwayatkan dari para perawi tsiqat riwayat bathil tidak berhujjah dengannya [Al Majruhin no 1221]. Kesimpulannya Yahya bin Isa Ar Ramliy adalah perawi yang hadisnya bisa dijadikan syawahid dan mutaba’ah.

Ibnu Jarir juga meriwayatkan bacaan Ubay bin Ka’ab ini dengan jalan sanad dari Ibnu Basyaar dari Abdul A’la dari Sa’id dari Qatadah [Tafsir Ath Thabari 6/588 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy]. Ibnu Basyaar adalah Muhammad bin Basyaar seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat [At Taqrib 2/58]. Abdul A’la bin Abdul A’la adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat [At Taqrib 1/551]. Sa’id bin Abi Arubah adalah perawi kutubus sittah seorang hafizh yang tsiqat mengalami ikhtilat dan orang yang paling tsabit riwayatnya dari Qatadah [At Taqrib 1/360]. Qatadah As Sadusiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/26].

Secara keseluruhan riwayat-riwayat ini saling menguatkan dan menunjukkan kalau bacaan tersebut shahih dari Ubay bin Ka’ab. Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas membaca bacaan tersebut dengan “Famastamta’tum bihi minhunna ila ajali musamma”. Adapun perkataan Ibnu Jarir yang menafikan bacaan kedua sahabat ini merupakan kecerobohan yang nyata
وأما ما روي عن أبيّ بن كعب وابن عباس من قراءتهما ( فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى ) ، فقراءة بخلاف ما جاءت به مصاحف المسلمين وغير جائز لأحد أن يلحق في كتاب الله تعالى شيئًا لم يأت به الخبرُ القاطعُ العذرَ عمن لا يجوز خلافه

Adapun apa yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas dari bacaan mereka berdua [Famastamta’ tum bihi min hunna ila ajalin musamma], bacaan ini menyelisihi mushhaf kaum muslimin. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk menambahkan dalam kitab Allah sesuatu yg tidak datang dari khabar yang qath’i dan tidak diperbolehkan menyelisihinya [Tafsir Ath Thabari 6/589 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy]

Komentar Ibnu Jarir ini jika diperhatikan dengan baik jelas mengandung keanehan. Beliau mengesankan kalau Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab memiliki bacaan Al Qur’an yang menyelisihi bacaan kaum muslimin dan mengesankan kalau mereka berdua menambahkan sesuatu dalam Kitab Allah. Jika telah shahih dari Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab soal bacaan itu maka tidak ada gunanya menafikan tanpa dalil. Yang harus dilakukan bukannya menolak riwayat tersebut tetapi bagaimana menafsirkannya agar tidak berkesan “menambahkan sesuatu dalam kitab Allah” atau mengesankan “terjadinya tahrif Al Qur’an” versi Ibnu Abbas dan Ubay.

Masalah seperti ini bukan barang baru bagi para ulama, bacaan tentang nikah mut’ah ini bukan satu-satunya bacaan yang diriwayatkan secara shahih oleh sahabat tetapi tidak nampak dalam mushaf kaum muslimin. Sebut saja yang paling populer adalah ayat rajam. Telah diriwayatkan oleh sahabat mengenai ayat rajam atau bacaan yang mengandung hukum rajam tetapi tidak nampak dalam mushaf kaum muslimin. Apakah ada ulama yang mengatakan bahwa bacaan itu menyelisihi mushaf kaum muslimin dan mesti ditolak?. Tidak, para ulama menafsirkan kalau bacaan tersebut sudah dinasakh tilawah-nya tetapi matan hukumnya tidak.

Lantas apa susahnya mengatakan hal yang sama untuk bacaan Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab di atas. Kita dapat mengatakan kalau bacaan “ila ajalin musamma” telah dinasakh tilawah-nya tetapi matan hukumnya tidak. Buktinya Ibnu Abbas mengakui bahwa ayat ini memang diturunkan oleh Allah SWT dan ia berdalil dengannya ketika ada yang bertanya tentang “nikah mut’ah”.

.

.

Syubhat Para Pengingkar

Kemudian ada yang berusaha mementahkan ayat nikah mut’ah ini dengan berbagai hadis yang katanya “mutawatir” tentang haramnya mut’ah. Usaha ini pun termasuk sesuatu yang aneh. Karena pada akhirnya apa yang mereka maksud mutawatir itu saling kontradiktif satu sama lain. Mereka sendiri dengan usaha yang “melelahkan” akhirnya menggeser satu demi satu hadis-hadis tersebut hingga tersisa satu hadis pengharaman mut’ah pada saat Fathul Makkah yang hanya diriwayatkan oleh satu orang sahabat. Jadi apanya yang mutawatir? Dan mereka menutup mata dengan berbagai hadis yang diriwayatkan sahabat dimana mereka membolehkan nikah mut’ah.

Syubhat yang paling lucu adalah pernyataan bahwa An Nisaa’ ayat 24 di atas menggunakan kata istimtaa’ bukannya kata mut’ah dan istimtaa’ menurutnya bukan diartikan mut’ah. Sungguh orang seperti ini patut dikasihani, seharusnya ia membuka dulu berbagai riwayat atau hadis untuk melihat bagaimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan para sahabat telah menggunakan kata istimtaa’ untuk menyebutkan nikah mut’ah. Berikut diantaranya
حدثنا عمرو بن علي قال نا يحيى بن سعيد عن إسماعيل عن قيس عن عبد الله قال كنا نغزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وليس معنا نساء فاستأذنه بعضنا أن يستخصي أو قال لو أذنت لنا لاختصينا فلم يرخص لنا ورخص لنا في الاستمتاع بالثوب

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ismail dari Qais dari ‘Abdullah yang berkata “kami berperang bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami tidak membawa wanita maka sebagian kami meminta zini untuk mengebiri atau berkata sekiranya diizinkan kepada kami untuk mengebiri maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengizinkan kami dan Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengizinkan kami untuk Istimtaa’ dengan pakaian [Musnad Al Bazzar 5/294 no 1671 dengan sanad yang shahih]

Apakah maksud dari kata Istimtaa’ dengan pakaian di atas. Apakah maksudnya menikahi wanita secara permanen? Atau maksudnya menikahi wanita secara mut’ah?. Penjelasannya ada dalam hadis berikut.
حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع عن بن أبي خالد عن قيس عن عبد الله قال كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم ونحن شباب فقلنا يا رسول الله ألا نستخصي فنهانا ثم رخص لنا في ان ننكح المرأة بالثوب إلى الأجل ثم قرأ عبد الله { لا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم }

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Abi Khalid dari Qais dari Abdullah yang berkata “kami bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami masih muda, kami berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidakkah kami dikebiri?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang kami melakukannya kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi keringanan kepada kami untuk menikahi wanita dengan pakaian sampai waktu yang ditentukan. Kemudian ‘Abdullah membaca [Al Maidah ayat 87] “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian” [Musnad Ahmad 1/432 no 4113, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Maka arti kata Istimtaa’ yang digunakan oleh para sahabat adalah “menikahi seorang wanita sampai batas waktu yang ditentukan”. Tidak hanya di hadis ini, bahkan di hadis-hadis yang dijadikan hujjah pengharaman mut’ah, kata yang digunakan untuk menyebutkan “nikah mut’ah” juga dengan lafal istimtaa’.
.

.

Riwayat Para Tabi’in

Tafsir An Nisaa’ ayat 24 sebagai dalil bagi nikah mut’ah bukanlah mutlak milik syi’ah tetapi termasuk pemahaman sahabat [Ibnu ‘Abbas dan Ubay] dan tabiin seperti halnya Mujahid [seorang imam dalam tafsir], As Suddiy dan Al Hakam bin Utaibah.
حدثني محمد بن عمرو قال حدثنا أبو عاصم عن عيسى عن ابن أبي نجيح عن مجاهد فما استمتعتم به منهن قال : يعني نكاح المتعة

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim dari ‘Isa dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid “maka wanita [istri] yang kamu nikmati [istimta’] diantara mereka”, ia berkata yaitu Nikah Mut’ah [Tafsir Ath Thabari 6/586 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy].

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Mujahid. Muhammad bin ‘Amru bin ‘Abbas Al Bahiliy adalah syaikh [guru] Ibnu Jarir Ath Thabari, dan dia seorang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 4/213 no 1411]. Abu ‘Aashim adalah Dhahhak bin Makhlad Asy Syaibani seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/444]. Isa bin Maimun Al Jurasiy Abu Musa adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/776]. Abdullah bin Abi Najih Yasaar Al Makkiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat dan dikakatan melakukan tadlis [At Taqrib 1/541] tetapi periwayatannya dari Mujahid juga diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. Mujahid bin Jabr Al Makkiy adalah perawi kutubus sittah seorang yang tsiqat dan Imam dalam tafsir dan ilmu [At Taqrib 2/159]
حدثنا محمد بن المثنى قال حدثنا محمد بن جعفر قال حدثنا شعبة عن الحكم قال سألته عن هذه الآية والمحصنات من النساء إلا ما ملكت أيمانكم إلى هذا الموضع فما استمتعتم به منهن أمنسوخة هي ؟ قال لا قال الحكم وقال علي رضي الله عنه لولا أن عمر رضي الله عنه نهى عن المتعة ما زنى إلا شقي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam [Syu’bah] berkata aku bertanya kepadanya tentang ayat “dan [diharamakan juga menikahi] wanita yang bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki” sampai pada ayat “maka wanita [sitri] yang telah kamu nikmati [istimta’] diantara mereka” apakah telah dihapus [mansukh]?. [Al Hakam] berkata “tidak” kemudian Al Hakam berkata dan Ali radiallahu ‘anhu telah berkata seandainya Umar radiallahu ‘anhu tidak melarang mut’ah maka tidak ada yang berzina kecuali orang yang celaka [Tafsir Ath Thabari 6/588 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy].

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Al Hakam. Muhammad bin Al Mutsanna adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/129]. Muhammad bin Ja’far Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat shahih kitabnya kecuali pernah keliru [At Taqrib 2/63]. Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]. Al Hakam bin Utaibah seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit faqih dikatakan melakukan tadlis [At Taqrib 1/232]. Riwayat Al Hakam menunjukkan kalau ia sendiri menafsirkan bahwa An Nisaa’ ayat 24 itu berkaitan dengan nikah mut’ah sehingga ketika ditanya apakah ayat tersebut telah dihapus ia menjawab “tidak” dan mengutip perkataan Imam Ali tentang mut’ah.

.

.

Kesimpulan

Yang dapat disimpulkan pada pembahasan kali ini adalah memang terdapat ayat Al Qur’an yang menghalalkan nikah mut’ah yaitu An Nisaa’ ayat 24 dan telah diriwayatkan dari sahabat dan tabiin [sebagai salafus salih] bahwa ayat tersebut memang berkenaan dengan nikah mut’ah. Kalau begitu bagaimana dengan hadis-hadis pengharaman mut’ah? Ada yang mengatakan kalau hadis-hadis ini telah menasakh ayat tentang nikah mut’ah tetapi tentu pernyataan ini masih perlu diteliti kembali, insya Allah akan dibahas hadis-hadis tersebut didalam thread khusus. Kami ingatkan kepada pembaca jika ada yang menganggap penulis menghalalkan nikah mut’ah berdasarkan postingan ini maka orang tersebut jelas terburu-buru. Pembahasan tentang dalil nikah mut’ah ini masih akan berlanjut dan sampai saat itu selesai kami harap jangan ada yang mengatasnamakan penulis soal hukum nikah mut’ah.

Catatan : Terkait dengan musibah yang menimpa saudara kita di Jepang mari kita sama-sama berdoa agar mereka diberikan kesabaran dan bisa melewati masa sulit ini dengan baik.

Filed under: Al Quran, Fiqh, Hadis, Kritik Salafy, Kritik Syiahphobia

CINTA MENURUT AL-QUR'AN

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih
memperhatikan orang yang dicintainya disbanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni
orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan.
Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bias seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan
bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.

8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

KHULAFAURRASYIDIN

Khulafaurrasyidin ialah para khalifah yang arif bijaksana. Merekalah pengganti Rasulullah Saw,
sebagai pemimpin tertinggi kaum muslimin karena sepak terjang mereka mencontoh Nabi Muhammad Saw.
Juga arah tujuannya, yaitu membawa umat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (Th.11-13 H/632-634 M)
Ia dilahirkan dua tahun satu bulan setelah kelahiran Nabi Muhammad. Nama aslinya Abdullah bin Ab Quhafah. Kemudian terkanal dengan sebutan Abu Bakar. Sedang gelar Ash-Shiddiq diberikan oleh para sahabat karena ia sangat membenarkan Rasulullah Saw.
Sejak muda Abu Bakar memang sudah akrab dengan Rasulullah. Dialah yang menemani Nabi Muhammad di Gua Hira' dan dialah yang pertama kali masuk Islam dari kalangan orang tua terhormat. Sewaktu Nabi sakit ia dipercaya para sahabat menjadi Imam Sholat. Maka pantaslah bila kaum muslimin memilihnya sebagai Khalifah pertama setelah baginda Rasulullah wafat.
Tugas pertama yang dilaksanakan sebagai Khalifah, yaitu memerangi orang-orang murtad. Sepeninggal Rasulullah memang banyak kaum muslimin yang kembali ke agamanya semula. Karena Nabi Muhammad, pimpinan mereka, sudah wafat, mereka merasa berhak berbuat sekehendak hati. Bahkan muncul orang-orang yang mengaku Nabi, antara lain Musailamah Al-Kadzab, Thulaiha Al-Asadi, dan Al-Aswad Al-Ansi
Kemurtadan saat itu terjadi di mana-mana dan menimbulkan kekacauan. Untuk itu Abu Bakar mengirim 11 pasukan perang dengan 11 daerah tujuan. Antara lain, pasukan Khalid bin Walid ditugaskan menundukkan Thulaiha Al-Asadi, pasukan 'Amer bin Ash ditugaskan di Qudhla'ah. Suwaid bin Muqrim ditugaskan ke Yaman dan Khalid bin Said ditugaskan ke Syam
Selanjutnya, atas usul Umar bin Khatab, Abu Bakar memproyekkan pengumpulan dan penulisan ayat Al-Qur'an dengan menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai pelaksananya. Hal ini dilakukan mengingat
a. Banyak sahabat yang hafal Al-Qur'an gugur dalam perang penumpasan orang-orang murtad.
b. Ayat-ayat Al-Qur'an yang ditulis pada kulit-kulit kurma, batu-batu, dan kayu sudah banyak yang rusak sehingga perlu penyelamatan.
c. Pembukuan Al-Qur'an ini mempunyai tujuan agar dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam sepanjang masa.
Disamping itu, Abu Bakar memperluas daerah dakwah Islamiyah, antara lain ke Irak yang masa itu termasuk wilayah jajahan Persi dan ke Syam yang dibawah kekuasaan Rum. Setelah memerintah selama dua tahun, Abu Bakar pulang ke Rahmatullah pada tanggal 23 Jumadil Akhir 13 H. Dalam usia 63 tahun dan dimakamkan dekat makam Rasulullah Saw. Beliau dikenang oleh para sahabat sebagai khalifah yang sangat taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta berbudi luhur, tidak sombong dan amat sederhana.
2. Umar Bin Khatab (Th.13-23 H/634-644 M)
Ia lebih muda 13 tahun dari Nabi Muhammad Saw. Sejak kecil ia sudah terkenal sangat cerdas dan pemberani. Tidak pernah takut menyatakan kebenaran di depan siapa pun. Tidaklah mengherankan setelah masuknya Umar ke dalam barisan orang muslim. Ia yang sebelum memeluk Islam paling berani menentang Islam, setelah masuk Islam paling berani menghancurkan musuh Islam.
Kemudian terkenallah Umar sebagai "Singa Padang Pasir", sangat disegani. Ia sangat tegas dalam mengatakan kebenaran. Oleh karenanya digelari oleh masyarakat Al-Faruq, artinya yang dengan tegas membedakan antara yang benar dan yang salah . Sedemikian gigihnya Umar dalam menegakkan Syariat Islam sampai Abdullah bin Mas'ud mengatakan : "Sejak Islamnya Umar kami merasa mulia," (HR.Bukhari)
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, wilayah Islam semakin meluas sampai ke Mesir, Irak, Syam, dan negeri-negeri Persi lainnya. Beliaulah yang pertama membentuk badan kehakiman dan menyempurnakan usaha Abu Bakar dalam membukukan Al-Qur'an.
Khalifah Umar wafat pada usia 63 tahun setelah memerintah selama 10 tahun 6 bulan oleh tikaman pedang Abu Lu'lu'ah, seorang budak milik Al-Mughirah bin Syu'bah. Dikenang umat Islam sebagai pahlawan yang sangat sederhana dan sportif. Kata-kata beliau yang sangat terkenal, "Siapa yang melihat pada diriku membelok, maka hendaklah ia meluruskannya". Selain itu, beliau dikenal sangat menyayangi rakyat.
3. Ustman Bin Affan (Th.23-35 H/644-656 M)
Ia lima tahun lebih muda dari NAbi Muhammad Saw. Sejak muda, ia memiliki akhlak yang sangat mulia. Ia juga seorang saudagar yang kaya raya dan pendiam. Ialah yang membeli sumur Raumah untuk dijadikan sumur umum. Sedemikian banyak amalnya hingga masyarakat menggelarinya "ghaniyyun Syakir", yaitu orang kaya yang banyak syukurnya kepada Allah Swt. Sekalipun amat kaya, Ustman tidak segan-segan turut serta berperang. Ia juga termasuk penulis wahyu yang terkenal. Karena kebaikan-kebaikannya itulah, ia dikawinkan dengan putri Nabi yang bernama Ruqaiyah. Setelah Ruqaiyah meninggal, ia dikawinkan dengan putri Nabi lagi yang bernama Umi Kultsum. Oleh karenanya digelari "Dzun Nurain", artinya yang mempunyai dua cahaya.
Langkah-langkah yang ditempuhnya setelah menjafi Khalifah, adalah mengganti gubernur-gubernur negara taklukan Islam yang ingin memisahkan diri setelah wafatnya Umar. Kemudian beliau memperbanyak naskah Al-Qur'an yang sudah dibukukan menjadi tujuh eksemplar yang antara lain dikirim ke Syam, Yaman, Bahrain, Basrah, dan Kufah.
Beliau wafat pada usia 82 tahun setelah memerintah selama 12 tahun. Meninggal oleh tikaman pedang Humran bin Sudan, saat beliau membaca Al-Qur'an. Jasa besar beliau memelihara kemurnian Al-Qur'an sebagaimana yang tersebar sekarang.
4. Ali Bin Abi Thalib (Th.35-40 H/656-661 M)
:Ia sepupu Nabi Muhammad. Putra dari Abu Thalib. Usianya 32 tahun lebih muda dari Nabi. Ia mendapat asuhan langsung dari beliau. Tidaklah mengherankan jika beliaulah dari golongan anak-anak pertama masuk Islam setelah Nabi diangkat menjadi Rasul. Maka, pantas bila pengetahuan Ali tentang Islam sangat luas. Juga terkenal sangat teguh dalam memegang ajaran agama.
Pada masa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib ini, Islam banyak mengalami kemunduran. Bermula dari banyaknya pihak yang menuntut dendam atas terbunuhnya Ustman bin Affan. Terutama dari golongan Bani Umayyah dan dari kelompok Aisyah, istri Nabi Muhammad Saw. Suasana tersebut kian memanas dengan adanya kebijaksanaan Khalifah Ali mengganti sebagian besar pegawai pemerintahan yang telah diangkat oleh Ustman.
Setelah usaha menenangkan banyak golongan yang menuntut balas atas kematian Khalifah Ustman dengan jalan damai tidak berhasil, maka ditempuhlah peperangan. Pertama, terjadi perang Waq'atul Jamali atau peperangan unta antara pasukan Khalifah Ali dengan pasukan Aisyah. Perang saudara ini terjadi pada tahun 36 H/657 M akibat hasutan Abdullah bin Saba'. Dalam perang ini, pasukan Ali memperoleh kemenangan. Aisyah dikembalikan ke Madinah dengan hormat dan dimuliakan.
Perang kedua yang terjadi antara pasukan Khalifah Ali dengan pasukan golongan Umaiyyah yang dipimpin oleh Amer bin Ash. Perang ini dinamakan perang Shiffin, terjadi di dekat Sungai Furat (Ifrat) pada tahun 36 H/658 M. Menjelang kekalahannya, Amer bin Ash mengajak pasukan Ali ke meja perundingan. Siasat Amer bin Ash ini berhasil. Khalifah Ali berhasil dicopy dari jabatannya dan diangkatlah Muawiyah.
Khalifah Ali wafat pada usia 63 tahun, setelah memerintah selama 5 tahun. Ia terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljim, seorang dari aliran Khawarij, yaitu aliran yang tidak memihak pada Khalifah Ali, juga tidak merencanakan pembunuhan terhadap Khalifah Ali, Muawiyah dan Amer bin Ash. Mereka berargumentasi, jika ketiga pemimpin tersebut terbunuh, umat Islam dapat dipersatukan.

JUJUR MEMBAWA SELAMAT

Pendahuluan

Jujur adalah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dan menjadi pembicaraan di berbagai khutbah dan taushiyah. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut baru menyentuh sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.

Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah dan Rasul-Nya memuji orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR al-Bukhari dan Muslim, teks hadis mengikuti versi Muslim)

Definisi Jujur

Jujur artinya keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS al-Maidah:119)

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. az-Zumar:33)

Keutamaan Jujur

Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan dasar akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”

Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.

Sifat jujur merupakan tanda sempurnanya keislaman, timbangan keimanan, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Karena itu, orang yang jujur akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.

Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,

“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”

Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.

Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.

Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya –dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruh), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.

Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Q.S. at-Taubah:119)

“Allah berfirman, ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.’” (Q.S. al-Maidah:119)

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. al-Ahzab:23)

“Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Q.S. Muhammad:21)

Nabi bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.”

Macam-Macam Kejujuran

Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.

Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.

Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. al-Ahzab:23)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (Q.S. at-Taubah:75-76)

Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur’”.

Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Hujurat:15)

Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.

dikutip: abah zachy site

Source: http://arrahmah.com/read/2007/09/17/1003-jujur-membawa-selamat.html#ixzz1H6uukDWR

TAQWA

Kebanyakan orang tidak faham apa sebenarnya taqwa. Walaupun istilah taqwa selalu disebut tetapi ilmu tentang taqwa tidak pernah diajar. Jalan untuk mendapatkan taqwa tidak pernah diberitahu. Syarat-syarat dan rukun-rukun taqwa juga tidak pernah dinyatakan. Orang sudah lali dengan per­kataan taqwa. Sesetengah orang menganggap perkataan taqwa itu sudah tidak ada erti apa-apa lagi kerana kebanyakan orang tidak faham.

Sebab itu, setiap kali disuruh bertaqwa, orang tidak ber­taqwa. Disebut Ittaqullah, ‘bertaqwalah kamu kepada Allah’, namun orang tidak bertaqwa juga. Walhal suruhan supaya bertaqwa itu disebut dalam setiap khutbah sembahyang Jumaat kerana ia adalah rukun khutbah. Kalau tidak disebut taqwa, tidak sah sembahyang Jumaat walaupun sembahyang khusyuk. Tetapi walaupun selalu disebut, orang tidak faham. Ia tidak jadi ilmu, ia tidak jadi amalan dan pegangan, jauh sekali untuk dihayati. Oleh itu macam mana hendak jadi orang yang bertaqwa.

Taqwa bukan setakat melaksanakan perintah dan mening­galkan larangan. Bukan setakat menunai ketaatan dan menjauh­kan kemaksiatan. Bukan setakat membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang. Bukan juga setakat mening­galkan apa yang haram dan menunaikan apa yang fardhu. Bukan setakat menjauhkan yang syirik dengan beramal dan taat kepada Allah. Bukan setakat menjauhkan diri dari segala apa yang akan menjauhkan diri kita daripada Allah. Bukan setakat menghadkan diri kepada yang halal sahaja dan bukan setakat beramal untuk menjuruskan ketaatan kepada Allah semata­mata.

Inilah kupasan dan kefahaman tentang taqwa yang dibawa oleh para ustaz, para muallim, orang yang hafaz Quran dan Hadis bahkan juga para mufti dan kadhi. Taqwa itu tersangat dipermudahkan sehingga orang tidak merasakan bahawa taqwa itu penting dan perlu diperjuangkan demi untuk mendapat ke­selamatan di dunia dan Akhirat. Maksud taqwa sebenarnya lebih dalam dan lebih luas dari itu. Taqwa adalah antara perkara yang terpokok dalam agama.

Orang membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang atau orang menunaikan ketaatan dan menjauh­kan kemaksiatan, tidak semestinya berasaskan taqwa. Mereka taat mungkin kerana ada sebab-sebab lain. Mungkin mahu upah, mahu dipuji, mahu pengaruh atau untuk mengambil hati orang. Mereka meninggalkan apa yang dilarang pun mungkin ada sebab-sebab lain. Mungkin kerana mahu dihormati, mahu menjaga nama dan kedudukan, takut dihukum, takut orang mengata dan menghina atau takut dipulaukan orang.

TAKRIF

Bila disebut taqwa, orang terjemah sebagai takutkan Tuhan. Itu tidak betul. Taqwa bukan bererti takut. Taqwa pada Tuhan bukan bererti takutkan Tuhan. Takut kepada Tuhan hanyalah satu daripada sifat mahmudah yang terangkum dalam sifat taqwa tetapi ia bukan taqwa. Takut dalam bahasa Arab ialah khauf atau khasya.

Taqwa berasal dari perkataan waqa–yaqi–wiqoyah yang ertinya memelihara. Hujahnya ialah ayat Al Quran seperti berikut:

Maksudnya: “Wahai orang-orang yang beriman, hen­daklah kamu memelihara diri kamu dan keluarga kamu dari api Neraka.” (At Tahrim: 6)

Di dalam Al Quran, kerap Tuhan menyeru dengan kalimah ittaqu atau yattaqi. Di mana ada tambahan huruf pada asal kalimah waqa, ia membawa perubahan kepada makna. Di sini ittaqullah membawa maksud hendaklah kamu mengambil Allah sebagai pemelihara/pembenteng/pelindung. Iaitu hen­daklah jadikan Tuhan itu pelindung. Jadikan Tuhan itu kubu atau benteng. Bila sudah berada dalam perlindungan, kubu atau benteng Tuhan, perkara yang negatif dan berbahaya tidak akan masuk atau tembus. Atau jadikan Tuhan itu dinding dari ke­jahatan.

Usaha untuk menjadikan Allah sebagai pemelihara atau pelindung atau pembenteng ialah dengan melaksanakan per­kara-perkara yang disuruh oleh Allah lahir dan batin. Dengan kata-kata yang lain, perkara yang disuruh itu ialah membina sifat-sifat mahmudah. Mengumpul dan menyuburkan sifat-sifat mahmudah itulah usaha bagi menjadikan Allah itu sebagai pemelihara atau pelindung. Membina sifat-sifat mahmudah itulah usaha ke arah taqwa.

Taqwa atau wiqoyah telah disalahertikan. Maksudnya telah disempitkan. Ia sebenarnya adalah lebih global dan luas. Ia adalah gudang mahmudah dan merupakan himpunan segala sifat-sifat mahmudah. Di situ ada sabar, redha, pemurah, ber­kasih sayang, pemaaf, memberi maaf, meminta maaf dan se­bagainya. Seluruh sifat mahmudah itulah taqwa. Jadi, besarlah erti taqwa. Ia membawa keselamatan dunia dan Akhirat.

Oleh itu, kalau dikatakan ittaqullah, maknanya yang sebenar ialah ‘hendaklah kamu mengambil Allah sebagai pemelihara’. Oleh sebab istilah-istilah Islam telah banyak disalah guna dan disalahertikan, maka hilang berkatnya. Bila disebut istilah­istilah Islam, tidak terasa apa-apa. Contohnya ialah perkataan ‘khalwat’. Maksudnya mulia iaitu menyendiri dengan Tuhan. Ia satu bentuk amalan sufi. Tetapi maksudnya itu telah diselewengkan dengan membawa erti ‘berdua-duaan lelaki dan perempuan yang bukan ajnabi’. Begitulah juga istilah ittaqullah ini. Setiap minggu pada hari Jumaat, dilaung-laungkan di mimbar masjid tetapi para jemaah tidak terasa apa-apa. Berkat­nya telah hilang kerana maksudnya telah disalahertikan.

Untuk menjadi orang yang bertaqwa ertinya menjadi orang yang berada dalam perlindungan Tuhan atau dalam peme­liharaan Tuhan. Orang yang berada dalam benteng dan kubu Tuhan. Dia selamat dari serangan luar. Serangan luar tidak lut dan tidak mengenai dirinya. Orang bertaqwa itu seolah-olah telah dipakaikan baju besi atau jaket kalis peluru.

Taqwa adalah pakaian jasad batin atau roh. Ia adalah amalan jiwa atau roh. Taqwa adalah perkara dalaman dan banyak me­libatkan amalan hati. Kalau sungguh-sungguh diamalkan dan dihayati, akan lahir sifat-sifat mahmudah seperti jujur, adil, benar, berkasih sayang, lemah lembut, pemurah, tawadhuk, pemalu, bertimbang rasa, berperikemanusiaan, sabar, redha, tawakal, bertolak ansur, mengutamakan orang lain, pemaaf, amanah, tekun, rajin, lapang dada, bekerjasama, simpati, belas kasihan dan sebagainya.

Orang yang bertaqwa adalah orang yang luar biasa. Sebab dia manusia yang sudah bersifat malaikat. Sifat malaikat sudah ada dalam dirinya. Dia sudah jadi orang Tuhan. Sebab itulah dia dibantu dan dibela oleh Tuhan. Orang bertaqwa sahaja yang akan selamat di dunia dan di Akhirat.

ASAS TAQWA

Asas taqwa yang lahir bermula dari aqidah yang betul diikuti dengan sembahyang, puasa, zakat dan naik haji. Itu adalah asas taqwa. Kalau asas taqwa ini tidak ada ertinya kita tidak ada benih untuk ditanam. Kalau tidak ada benih, masakan akan ada pokoknya. Amalan-amalan yang lain adalah sebagai tambahan.

Asas taqwa yang batin ialah rasa kehambaan yang sungguh mendalam. Di antaranya rasa serba-serbi dhaif, lemah, hina, lalai dan leka di sisi Allah SWT. Rasa diri benar-benar dimiliki oleh Allah. Rasa diri tidak punya apa-apa.

Diri yang rasa lemah itu sangat merasakan ianya terdedah kepada berbagai kerosakan dan cacat cela. Tiada daya, tiada upaya dan tidak mampu berbuat apa-apa. Rasa kehambaan yang mendalam ini menjadikan hati penuh pasrah, merintih, mengharap dan memohon setiap sesuatu itu hanya dari Allah.

CIRI-CIRI TAQWA

Di antara ciri-ciri taqwa adalah:

1. Ingat dua perkara

2. Lupa dua perkara

3. Menyukai apa yang Allah suka

4. Membenci apa yang Allah benci

1. Ingat Dua Perkara

a. Pertama: Kebaikan, jasa dan budi orang kepada kita perlu diingat selalu dan sekiranya berpeluang, maka eloklah disebut-sebut dan dibalas walaupun balasan itu tidak se­timpal dengan jasa dan budi orang itu kepada kita. Itu terhadap kebaikan dan jasa manusia.

Lebih-lebih lagilah kita perlu ingat dan mensyukuri segala nikmat dan limpah kurnia Allah SWT kepada kita yang tidak terhingga banyaknya. Firman Allah SWT:

Maksudnya: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka

hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (sebagai tanda

bersyukur).” (Adh Dhuha: 11)

Ini supaya kita terasa terhutang budi dan berterima kasih kepada orang yang berbuat baik dan berjasa kepada kita. Tentulah terhadap Allah, lebih-lebih lagi patut kita rasakan sedemikian. Memang patut kita taat dan bersyukur kepada Allah, dengan membuat amal kebajikan biarpun segala amalan itu tidak mungkin setimpal dengan kurniaan Allah.

b. Kedua: Kesalahan kita kepada orang lain hendaklah sentiasa kita ingat dan kita minta maaf daripadanya. Ingat selalu tentang kesalahan diri agar kesalahan itu tidak diulangi. Rasa bersalah itu penting kerana rasa itulah yang mendorong kita meminta maaf. Itu terhadap kesalahan kita terhadap sesama manusia.

Lebih-lebih lagilah kita perlu ingat dosa-dosa dan keder­hakaan kita kepada Allah. Kita iringi ingatan kepada dosa­dosa itu dengan bertaubat. Kekalkan rasa berdosa itu supaya kita terhindar dari terbuat dosa-dosa yang lain dan hati kita sentiasa takut dan berharap agar Allah ampunkan dosa kita.

2. Lupa Dua Perkara

a. Pertama: Lupakan segala budi, jasa dan kebaikan kita kepada orang. Jangan diungkit-ungkit dan dikenang-kenang. Kem­balikan segala kebaikan yang kita buat itu kepada Allah. Rasakan seolah-olah kita tidak pernah berbuat baik kepada orang.

Lebih-lebih lagi, kita kena lupakan segala amal ibadah yang telah kita buat kepada Allah. Jangan diungkit-ungkit atau dikenang-kenang. Rasakan seolah-olah kita tidak beramal. Dengan itu moga-moga hati kita tidak dilintasi oleh rasa ujub, sum’ah atau riyak atau rasa diri baik dan mulia.

b. Kedua: Lupakan kejahatan orang terhadap diri kita. Anggap­lah seolah-olah tidak ada siapa yang bersalah dengan kita supaya tidak tercetus rasa marah atau dendam terhadap orang.

Lebih-lebih lagi hendaklah kita lupakan segala kesusahan, ujian, musibah atau mala-petaka yang Allah timpakan kepada kita seperti sakit, kematian, kerugian, kemalangan dan kegagalan. Atau banjir, kemarau, ribut taufan, tsunami, wabak penyakit, kemelesetan ekonomi dan sebagainya. Supaya tidak tercetus perasaan tidak sabar dan tidak redha dengan ketentuan Allah.

3. Menyukai Apa Yang Allah Suka

Yakni kesukaan kita hendaklah selari dengan kesukaan Allah. Kita buat apa sahaja perbuatan dan amalan menurut apa yang disukai Allah. Ini mudah kalau apa sahaja yang Allah suka, kita pun suka. Bukan soal sesuatu amalan itu kecil atau besar, fardhu, wajib atau sunat tetapi asalkan Allah suka, kita pun suka dan akan membuatnya. Itu cara kita hendak meng­hiburkan Allah. Itu manifestasi dari cinta kita yang menda­lam kepada Allah. Seseorang itu akan menyukai apa sahaja yang disukai oleh orang yang dicintainya.

Soal amalan fardhu, wajib atau sunat sudah tidak jadi per­timbangan. Semua amalan yang Allah suka akan kita buat. Ia bukan juga soal mendapat pahala atau fadhilat. Ia lebih kepada hasrat untuk menyatakan dan membuktikan cinta dan kehambaan kita kepada Tuhan.

4. Membenci Apa Yang Allah Benci

Yakni kebencian kita hendaklah selari dengan kebencian Allah. Kita tinggalkan apa sahaja perbuatan dan amalan menurut apa yang dibenci oleh Allah. Ini mudah kalau apa yang Allah benci, kita pun benci. Nafsu pasti mendorong untuk berbuat apa yang Allah benci kerana nafsu itu suka kepada apa yang Allah benci dan benci kepada apa yang Allah suka. Tetapi fitrah tetap kuat dan teguh. Fitrah yang suci murni itu, wataknya berlawanan dengan watak nafsu. Ia suka kepada apa yang Allah suka dan benci kepada apa yang Allah SWT benci. Nafsu tidak dapat mengalahkannya kerana rasa bertuhan dan rasa kehambaannya yang men­dalam.

AMALAN TAQWA

Amalan taqwa pula bukan setakat apa yang terkandung di dalam rukun Islam seperti puasa, zakat, haji dan sembahyang sahaja. Bukan setakat membaca Quran atau berwirid dan berzikir sambil menggentel biji tasbih. Bukan juga bersuluk dan beruzlah menjauhkan diri dari orang ramai. Amalan taqwa bukan sahaja di surau atau di masjid.

Amalan taqwa adalah apa sahaja amalan dan perbuatan di dalam kehidupan yang berlandaskan syariat sama ada yang fardhu, wajib, sunat atau harus atau apa sahaja amalan dan perbuatan yang dijauhi dan ditinggalkan sama ada yang haram atau makruh yang dibuat berserta rohnya iaitu ada batinnya, penghayatan dan penjiwaannya. Dengan kata-kata yang lain, ada terkait dengan akal, roh dan terhubung dengan Allah, dibuat kerana Allah dan mengikut cara yang Allah mahu.

Ini termasuklah segala perkara yang berlaku dalam ke­hidupan baik dalam kehidupan seharian, dalam bidang eko­nomi, pembangunan, pendidikan, kenegaraan, kebudayaan, pentadbiran, ketenteraan, kesihatan dan sebagainya. Asalkan apa yang dibuat atau ditinggalkan itu berkait dan kerana Allah maka itulah taqwa. Amalan yang tidak berkait dan tidak dibuat kerana Allah, itu adalah amalan bangkai yang tidak ada nyawa, jiwa atau rohnya. Ia tidak sampai kepada Allah dan tidak ada apa-apa nilai di sisi-Nya.

Bercakap boleh jadi taqwa kalau apa yang dicakapkan itu adalah ilmu, nasihat atau perkara-perkara yang baik dan manfaat dan dibuat kerana Allah. Diam juga boleh jadi taqwa kalau diam itu untuk mengelakkan dari berkata-kata perkara yang maksiat dan sia-sia atau supaya tidak menyakiti hati orang dan dibuat kerana takutkan Allah.

Dalam Islam, di samping ibadah lahir, ada banyak ibadah batin atau ibadah yang bersifat rohaniah. Ibadah lahir banyak syarat rukun dan sah batalnya. Tetapi ibadah batin tidak mengira tempat, waktu, masa, suci atau berhadas, haul atau nisabnya. Ia boleh dilakukan bila-bila masa. Ini termasuklah bertafakur, muhasabah diri, musyahadah, mujahadah, bertaubat, merintih dengan Tuhan, sabar dalam menanggung sakit, ujian, musibah, cacian, kehinaan dan makian orang, menyuburkan rasa-rasa bertuhan dan rasa-rasa kehambaan dan berzikir di hati. Ini se­mua adalah amalan rohani yang boleh menghasilkan taqwa.

ARAHAN SUPAYA BERTAQWA

Allah SWT berfirman:Maksudnya: “Hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah sejauh yang termungkin.” (At Taghabun: 16)

Sejauh yang termungkin di sini bermaksud turun naik nafas mesti dijadikan taqwa. Mendengar, melihat, makan minum, berjalan, berhibur, semuanya mesti dijadikan amalan taqwa. Jangan ada satu hembusan nafas yang tidak jadi taqwa. Jangan ada seulas nasi yang tidak jadi taqwa. Jangan ada satu pen­dengaran atau satu penglihatan yang tidak jadi taqwa. Malahan jangan ada satu apa pun dalam hidup ini yang tidak membawa kepada taqwa. Itulah maksud sejauh yang termungkin dalam mengusahakan taqwa.

BERAMAL UNTUK MENAMBAH TAQWA

Firman Allah SWT:Maksudnya: “Hendaklah kamu menambah bekalan. Maka sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu adalah sifat taqwa.” (Al Baqarah: 197)

Di sini Tuhan menyuruh kita supaya sentiasa menambah sifat taqwa. Kerana sifat taqwa ini adalah bekalan kita di Akhirat. Ia juga untuk mendapat bantuan Tuhan di dunia dalam berbagai bentuk. Itulah yang merupakan khawariqul ‘adah. Kalau di zaman Rasulullah SAW dikatakan mukjizat. Kalau bukan di zaman Rasulullah dikatakan keramat atau berkat atau rahmat dari Tuhan.

Seperti yang pernah berlaku dan dipaparkan dalam sejarah, dalam peperangan, umat Islam yang sedikit boleh mengalahkan musuh yang ramai, atau mendapat rezeki dari sumber yang tidak diduga dan lain-lain lagi contoh yang banyak berlaku di kalangan para Sahabat. Itu di dunia, tetapi yang paling utama ialah di Akhirat.

Tuhan sebut dalam firman-Nya di atas, hendaklah kita sen­tiasa menambah bekalan iaitu sifat taqwa. Kita disuruh mem­bangunkan aset di Akhirat sambil mendapat pertolongan dan bantuan Tuhan di dunia. Menambah sifat taqwa ini mestilah di atas landasan syariat. Yang asas-asasnya ialah sembahyang (solat), puasa, zakat dan naik haji. Itu asas atau tapak untuk menambah taqwa.

Selain yang asas ini, banyak lagi yang lain. Mungkin di atas landasan fardhu kifayah, di atas landasan perkara-perkara sunat dan hal-hal yang harus. Walaupun asalnya harus, tetapi kalau kita pandai mengikut ilmunya, yang harus pun boleh menam­bah sifat taqwa.

Seperti yang disebut di atas, menambah sifat taqwa mesti di atas landasan syariat. Sebagai contoh yang mudah, yang dapat dilihat oleh mata sebab ia dilaksanakan oleh lahiriah kita ialah seperti membangunkan ekonomi. Mengapa kita bangunkan ekonomi? Dalam Islam, berekonomi bukan untuk mencari untung, walaupun di situ ada untung. Kita berekonomi untuk menambah sifat taqwa. Tetapi kebanyakan orang berniaga dan berekonomi untuk tujuan komersial dan untuk mendapat untung. Itu tidak betul. Untung itu datang sendiri. Jadi sebenar­nya berdasarkan ayat tadi, hendaklah kita berekonomi untuk menambah bekalan dan bekalan di sini ialah sifat taqwa.

Dalam Islam kita berniaga untuk menambahkan lagi sifat taqwa. Berniaga itu ibadah. Ia samalah dengan ibadah-ibadah yang lain seperti sembahyang, hanya ia berbentuk umumiah. Kita berkebudayaan, hendak menambah lagi sifat taqwa. Kita bangunkan jemaah, moga-moga dengan jemaah itu dapat membangunkan lagi sifat taqwa. Kita bekerjasama, mengajar, bangunkan pendidikan, maka di situlah kita dapat menambah sifat taqwa. Kita bangunkan kesihatan, klinik dan sebagainya, moga-moga dari situlah kita dapat menambah sifat taqwa. Kita berdakwah, buat perhubungan, semoga dapat menambah sifat taqwa. Kita nikah kahwin, berkeluarga, beranak cucu, moga­moga dari situ dapat menambah lagi sifat taqwa. Kalau di­campur-campur banyaklah jumlahnya. Itu semua adalah iba­dah yang boleh mendatangkan taqwa.

Janganlah kita mencari taqwa di atas syariat yang terbatas seperti yang terkandung di dalam rukun Islam yang lima itu sahaja. Itu hanya asasnya sahaja. Banyak lagi cabang-cabang dan ranting-rantingnya. Banyak lagi perkara yang boleh dijadi­kan ibadah. Jangan berwirid, berzikir, baca Al Quran dan duduk­duduk di dalam masjid dan di surau sahaja. Sebenarnya seluruh tindakan lahir dan aktiviti kita dalam kehidupan ini walaupun yang harus, itu adalah syariat. Angkat tangan, pandang sana, pandang sini, hayun kaki, itu semua termasuk syariat. Maka moga-moga dengan mengamalkan seluruh syariat itulah kita akan dapat menambah sifat taqwa. Sifat taqwa banyak di tengah-tengah kehidupan. Bukan di masjid atau di surau sahaja. Membantu orang, bersatu padu, berkasih sayang, menyelesai­kan masalah orang dan berkerjasama, itu semua adalah amalan taqwa.

Kalau benda atau syariat itu dianggap kecil, maka kecillah sifat taqwanya. Kalau dianggap besar, maka besarlah sifat taqwanya. Dari situlah malaikat akan tulis pada kitab amalan kita. Kitab amalan itu akan dibagi kepada kita, digantung di leher di Padang Mahsyar nanti. Setiap orang akan ada catatan amal­nya. Masing-masing akan bawa. Yang tukang baca ialah kita sendiri. Barulah kita faham bahawa menambah sifat taqwa itu adalah di atas segala usaha dan aktiviti kita. Di atas penglihatan, pendengaran, gerakan tangan, gerakan kaki ke tempat-tempat yang kita pergi. Malahan ia berlaku dalam apa sahaja aktiviti hidup kita. Di situlah kita akan dapat taqwa.

TAQWA ITU BENDA DALAMAN

Kita perlu ingat bahawa benda-benda lahir itu syariat. Syariat dalam ajaran Islam ialah kulit. Kalau kulit sahaja yang ada, tidak ada isinya maka ia tidak ada erti apa-apa. Contohnya, kalau kita beli buah, kita hendakkan isinya. Katakan kita beli ubi kayu, tentu ada kulitnya. Kalau tidak ada kulit, isi mudah rosak, namun yang penting ialah isinya. Dalam Islam ada kulit, ada isi. Kulit dan isi kena dipertahankan, tetapi keutamaan adalah pada isi.

Syariat itu adalah rangka. Kalau rangka sahaja yang ada, tidak bernyawa, tidak ada roh, maka tidak ada erti apa-apa. Sebab itu dalam ajaran Islam, makan bangkai itu haram. Sebab makan satu benda yang asalnya sudah tidak ada nyawa. Yang halal itu waktu ada nyawa dan disembelih. Kalau makan kambing yang sudah tidak bernyawa walaupun elok lagi dagingnya, haram hukumnya. Itu sindiran Tuhan.

Kita contohkan dalam ibadah asas, macam sembahyang. Rukuk, sujud dan bacaan-bacaan itu rangka. Kalau hanya badan sahaja yang rukuk, tetapi hati tidak rukuk ertinya kita hanya bawa rangka. Kita hanya bawa rangka yang dalamnya bolong. Kalau badan sahaja yang sujud, hati tidak sujud, ertinya rangka sahaja yang sujud. Sebab itu kadang-kadang dalam meniti di atas syariat pun, dalam melaksanakan ibadah fardhu pun, kita tidak dapat menambah taqwa. Padahal itu ibadah asas. Kalau kita bawa rangka sahaja atau kulit sahaja tetapi tidak membawa roh atau isinya maka ibadah seperti itu tidak akan menambah taqwa.

Taqwa kebanyakannya adalah benda dalaman. Ia bersifat rohaniah, paling tidak ia bersifat maknawiyah. Kalau tidak ada rohaniah, walaupun ibadah cantik, walaupun ia jadi bualan orang sekampung, namun ia hanya bangkai. Sembahyang bangkai, haji bangkai, perjuangan bangkai, pendidikan bangkai, jemaah bangkai, ekonomi bangkai dan kebudayaan pun bang­kai. Ianya tidak bernyawa dan tidak bernilai di sisi Tuhan. Padahal itu syariat, namun kalau tidak ada rohnya, ia tidak boleh menambah taqwa.

Apa kata orang? Hebat orang ini, hebat Islam orang ini. Ma-cam-macam syariat dibangunkan. Tetapi isi tidak ada. Manusia melihat syariatnya dibuat, yang sunat pun dibuat. Satu negara kata orang ini hebat, orang ini kuat syariat. Itulah yang kita lihat, tetapi dalamnya kosong, tidak ada isinya. Tuhan berkata ibadah yang dibuat orang itu ialah ibadah bangkai. Manusia lain tidak boleh objek dan tidak boleh komen sebab lahirnya cantik. Tetapi Tuhan pandang yang dalam. Syariat lahir itu dinilai 10% sahaja, yang dalamannya 90%.

Katalah kita hendak membangunkan ekonomi. Tuhan kata bangunkan ekonomi untuk menambah taqwa. Tetapi kita nampak untung. Belum berniaga lagi, di depan kita untung. Mengapa nampak untung bukan taqwa? Sedangkan berniaga bertujuan untuk menambah taqwa. Mengapa kita berniaga hendak menambah untung. Ini salah. Patut kita berniaga niat untuk menambah sifat taqwa. Di setiap perniagaan tambah sedikit sifat taqwa. Kemudian tambah di kebudayaan sedikit, di klinik sedikit, di sekolah sedikit, campur-campur maka banyak­lah jumlahnya.

Jadi sifat taqwa itu banyak berkaitan dengan hal-hal dalam­an. Soal syariat lahir hanya 10%, yang dalaman 90%. Senangkah kita hendak berniaga? Hendak bagi nyawa kepada perniagaan kita supaya ia tidak menjadi minimarket bangkai, supermarket bangkai atau hypermarket bangkai. Bukan senang hendak bagi roh pada perniagaan. Bila dikatakan roh, semua yang terlibat dengan perniagaan tersebut daripada pemimpin-pemimpin­nya, pengurus-pengurusnya, petugas-petugasnya, fikiran dan hati-hati mereka mesti sama dan selari. Semua hati-hati orang yang terlibat mesti berkata bahawa buka kedai itu untuk ber­khidmat, bukan untuk untung. Moga-moga dari situlah kita dapat menarik orang kepada Islam. Kita dapat berkasih sayang. Kita diterima oleh pelanggan-pelanggan, dapat menolong orang, dapat memberi kemudahan-kemudahan kepada orang. Itu rohnya yang bertapak di hati. Kalau itu yang kita maksudkan dan niatkan, rugi pun seronok. Sebab sampai matlamat dan dapat sifat taqwa. Kalau untung, alhamdulillah. Di dunia lagi sudah dapat balasan. Di Akhirat akan dapat balasan lagi. Itu yang sebenar.

MENGUSAHAKAN TAQWA

Mengamalkan Islam yang lahir itu, seperti sembahyang fardhu dan sunat, puasa, zakat, baca Quran, wirid dan zikir, tujuannya supaya kita menjadi orang bertaqwa. Namun kalau kita boleh beribadah seperti itu dua puluh empat jam sehari pun, yang kita akan dapat dari usaha itu hanya 10% sahaja dari nilai taqwa keseluruhannya. Tetapi untuk buat itu pun bukan mudah. Bukan mudah untuk bangun sembahyang malam, berpuasa, berzakat dan bersedekah, baca Quran dan wirid zikir. Untuk mendapat taqwa cara lahir itu pun amat susah.

Perlu diingat, seperti yang diterangkan sebelum ini bahawa 90% usaha taqwa yang tersirat yang bersifat maknawiyah dan rohaniah, itu lagi susah untuk diperolehi. Bukan senang hendak takut dengan Tuhan. Itu soal rohaniah. Ia bersifat rasa. Bukan senang hendak cinta Tuhan. Ia juga soal rohaniah. Lebih senang untuk kita cinta anak isteri dari cinta Tuhan. Bukan senang untuk rasa bertuhan. Bukan senang untuk bawa rasa bertuhan ke mana-mana. Bukan senang hendak bawa rasa bertuhan kalau tidak dididik dari tadika lagi. Kecualilah bagi orang yang Tuhan hendak anugerahkan rasa bertuhan itu. Tetapi berapa ramai orang yang begitu?

Bukan senang hendak terasa hebatnya Tuhan dan rasa diri kita tidak berguna. Waktu sembahyang, untuk hati kita tersentuh dengan apa yang kita baca sehingga bergelombang hati kita tidaklah mudah. Bila disebut Allahu Akbar, ada sejenis rasa, bila disebut Alhamdulillah, ada satu rasa lagi. Berbagai ayat yang kita baca, berubah-ubah rasa kita. Ini bukan mudah. Soal lafaz lain. Soal rasa pula lain. Sedangkan 10% taqwa itu dari ibadah lahir manakala 90% adalah dari ibadah batiniah yang seperti ini yang ada rasa.

Tidak salah jadi orang kaya tetapi bukan mudah untuk tidak cinta harta dan kekayaan kita itu. Padahal Tuhan benarkan kita jadi kaya, hanya Tuhan tidak benarkan kita mencintai kekayaan kita itu. Mudahkah untuk rasa malu dan rasa tidak layak? Sepa­tutnya bila dapat jawatan, kita rasa malu dan menangis kerana rasa tidak layak dan takut kita akan lupa diri dan tidak pandai bersyukur. Kerana kita tahu bahawa hakikatnya, jawatan itu dari Tuhan. Tetapi sebaliknya kita rasa bangga dan rasa jadi tuan.

Kalaulah Tuhan hendak jadikan kita baik atau berilmu atau kaya, itu semua hak Tuhan. Tetapi kita dilarang lupa diri dan rasa diri kita baik atau berilmu atau kaya. Sepatutnya kita rasa malu dan tidak layak untuk semua itu. Katalah orang beri kita sebuah kereta Mercedes. Adakah depan orang yang memberi itu kita akan menunjuk-nunjuk dengan rasa megah, sombong dan seronok? Kalau kita rasa tidak layak, kita akan rasa malu, rendah diri dan tidak tentu arah di depan orang yang memberi itu.

Sebab itulah agama ini mesti bermula dari tadika. Dan hendak mendapat perasaan itu mestilah dari didikan sejak kecil. Bahkan kalau betul-betul hendak dapat taqwa, mesti sejak dalam kandungan ibu lagi. Ibu ayah mesti bertaqwa sebab perangai ibu dan ayah memberi kesan kepada anak dari waktu belum lahir lagi.

Dalam mengusahakan taqwa ini, yang luar kena buat tetapi prioritynya ialah yang dalam. Jadi mengamalkan amalan Islam dengan tujuan hendak menjadi orang bertaqwa, yang lahir 10% sahaja, yang dalam 90%. Yang luar walaupun hebat, kalau yang dalam tidak ada, kita akan masuk Neraka sekiranya Tuhan tidak ampunkan kita.

Kalau Tuhan hendak menolong kita atas dasar lahiriah, Tuhan akan tolong setakat 10% sahaja. Tetapi atas dasar ba­tiniah, 90%. Tetapi yang kita lihat, dalam hendak membangun­kan ekonomi contohnya, soal lahir kita jaga sangat tetapi soal taqwa kita tidak jaga. Kita bermesyuarat dan kita usahakan macam mana hendak cari duit untuk buat modal, macam mana hendak cari dan latih tenaga dan sebagainya. Katalah yang lahir ini kita memang mahir dan bijak tetapi ianya hanya 10% sahaja dari bantuan Tuhan. Sebab di situ bukan line orang Islam. Itu line untuk orang kafir.

Orang kafir ada skim lain untuk dapat bantuan. Kalau dia usahakan maksimumnya yang lahir, dia akan dapat 90%. Tetapi bagi orang Islam yang lahir Tuhan peruntukkan 10% sahaja. Itu kalau tidak dicabar dan digugat oleh Jepun, Yahudi, Korea, Amerika dan lain-lain. Kalau dicabar, mungkin tinggal 1% sahaja. Kita ada gelanggang sendiri yang tidak diperolehi oleh orang kafir. Gelanggang orang kafir, kita dapat 10% tetapi gelanggang kita 1% pun orang kafir tidak dapat. Dari gelanggang kita, kita boleh dapat lagi 90% iaitu dengan kita bertaqwa. Kalau kita tahu hal ini, kita boleh cabar orang kafir. Sebab itu apabila Rasulullah berjaya menanam yang luar dan yang batin pada para Sahabat yang asalnya hanya tahu menternak kambing dan tidak tahu membaca, dalam masa 23 tahun sahaja Islam jadi empayar. Kalau Rasulullah ada di waktu ini, mungkin dalam tempoh 3 tahun sahaja, Islam boleh jadi empayar.

Rasulullah mengambil masa tiga belas tahun di Mekah untuk menanam iman dan taqwa di hati para Sahabat. Selama sepuluh tahun kemudian, barulah baginda memulakan pembangunan negara Islam kecil yakni Madinah. Dibangunkan madrasah yang menjadi kilang untuk mengeluarkan para ilmuan yang bertaqwa sebagai penyambung dan pelapis perjuangan. Dibangunkan ekonomi dengan membuka pasar Ansar yang diuruskan oleh Sayidina Abdul Rahman bin Auf. Begitulah perjuangan itu ber­kembang dan terus membesar hingga akhirnya tiga perempat dunia menyerah diri kepada Islam. Semua itu bertolak dari taqwa.

Itulah cara perjuangan Islam yang dibuat oleh Rasulullah. Dan itulah satu-satunya cara yang benar dan tepat. Kenapa kita tidak mahu mencontohinya? Kenapa kita ada pandangan lain yang menyimpang dari apa yang dibuat oleh Rasulullah?

KESAN BEKERJA DENGAN TAQWA

Bila berniaga kerana hendak untung, kalau rugi, menderita, sedih, hilang semangat dan tidak bermaya. Padahal kalau berniaga ada roh, rugi pun tidak mengapa sebab dapat sifat taqwa. Itu yang utama. Itu pun niat kita asalnya. Mungkin di kedai, Tuhan rugikan kita tetapi Tuhan untungkan kita di tempat lain. Tuhan kata siapa yang bertaqwa akan dapat rezeki dari sumber yang tidak diduga. Jadi walaupun rugi berniaga, yang penting dalam berniaga ada roh, ada nyawa dan ada peng­hayatan. Jadi perniagaan yang hidup yang bukan bangkai ialah perniagaan yang ada roh. Bila ada roh atau nyawa kalaupun kita rugi, kita tidak bimbang. Tuhan akan datangkan untung dari sumber yang lain yang tidak diduga.

Syariat yang kita bangunkan itu, dari yang asas hingga yang tambahan, hendak dibagikan roh memang susah. Kalau boleh bagi roh, seronok. Kita bukan hendak fikir untuk dapat untung, tetapi untuk dapat taqwa. Kalau dapat taqwa, rugi pun tidak mengapa. Di sini kita berkerja dengan jiwa yang hidup. Kita tidak akan bimbang, takut atau jemu. Kita tidak rasa rugi atau susah hati. Kita akan rasa seronok dan terhibur sebab dapat taqwa. Taqwa ini untung yang besar yang hendak kita bawa sebagai bekalan di Akhirat.

Kalau kita bekerja, walaupun ia memenuhi syariat, tetapi diniatkan untuk dapat dunia, sama ada untuk dapat untung, puji-pujian, glamour, pangkat atau lain-lain, maka kita telah membunuh roh amalan kita. Kita tidak lagi bekerja untuk Tuhan atau untuk mendapat taqwa. Bila rugi, kita kecewa. Bila banyak cabaran, kita cemas, letih dan mudah marah. Tetapi kalau kita niatkan untuk mendapat taqwa, kita akan sedar bahawa di atas keletihan, kesusahan dan rasa cemas itulah kita akan dapat taqwa. Kita akan terhibur. Yang letih itu hanya fizikal kita. Roh kita sentiasa hidup dan sentiasa gembira.

Sebab itu bagi para Sahabat, berjuang dan berdakwah itu satu hiburan walaupun susah. Kadang-kadang sepuluh atau dua puluh tahun bermusafir, baru balik. Belanja usaha sendiri. Naik unta atau kadang-kadang berjalan kaki dari satu kota ke kota lain. Dari satu negeri ke negeri lain. Tinggal isteri dan keluarga. Ada yang keluar berjuang ketika isteri sedang mengandung. Bila balik, anak sudah muda remaja hingga dia pun tidak kenal.

Sekarang kita senang berdakwah. Dewan cantik, kerusi cantik, kenderaan cantik dan jalan cantik. Dulu mana ada de-wan. Kalau tengok orang sedang perah susu kambing, dia didatangi. Orang berjalan dipanggil. Diceritakan tentang agama dan tentang Tuhan. Memang susah. Tetapi seronok sebab jiwa hidup. Orang dulu terhibur sebab akan dapat sifat taqwa. Kalau sekarang tidak larat. Sekarang berdakwah kerana hendak nama, hendak duit dan glamour. Kalau orang kritik atau yang datang mendengar tidak ramai, maka tidak seronok. Jadi lemah dan hilang semangat. Kadang-kadang marah. Kali kedua tidak da­tang lagi. Hati berkata, “Tidak ramai orang datang, tidak cukup orang hendak puji aku, buat apa datang.”

Tetapi kalau kita fikir hendak tambah sifat taqwa, kita akan terhibur untuk sampaikan ajaran Tuhan walaupun yang men­dengar hanya bilangan jari sebab kita tetap akan dapat menam­bah taqwa. Malahan lebih mudah untuk kita menjaga hati su­paya tidak rosak dan merasa bangga. Tetapi bila fikir hendak duit, fikir hendak nama, hilang semangat. Ertinya dakwah dan jihad yang dibuat adalah dakwah dan jihad bangkai. Jadi faktor taqwa adalah faktor dalaman.

Betullah kata Tuhan melalui Hadis Rasulullah SAW:Maksudnya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat lahir kamu tetapi Tuhan melihat hati kamu dan amalan kamu.”

Lahir hanya 10%, itu pun kalau dibuat dengan sempurna. Kalau tidak sempurna, mungkin dapat dua tiga peratus sahaja. Tuhan pandang roh ibadah. Sebab itu dalam ajaran Islam ini, diam pun ibadah, tetapi mesti ada roh. Diam yang tidak ada roh, tidak ada rasa bertuhan, tidak ada rasa hamba, itu diam yang sia-sia.

Kalau nampak diam tetapi ada roh, iaitu kita sedang fikir tentang dosa, kita fikirkan kuliah, kita fikirkan kebaikan apa lagi yang hendak dibuat untuk dapat menambah sifat taqwa, maka diam itu diam taqwa. Paling tidak kita niat, aku diamlah sebab cakap banyak nanti banyak salah. Banyak salah banyak dosa. Sebab ada faktor dalaman, maka ada roh. Maka diam itu jadi amalan taqwa. Indahnya hidup dengan Tuhan.

Kalau roh ibadah ini dapat diterapkan, gagal pun tidak apa, tetap seronok dan indah. Sebab kejayaan bukan matlamat. Mat­lamatnya adalah untuk menambah sifat taqwa. Kalau kita fikir hendak untung atau hendak orang terima kita, kalau tidak un­tung dan orang tidak terima kita maka kita hilang semangat. Kalau kita fikir hendak menambah sifat taqwa, apa jadi pun tidak ada masalah. Kita tetap rasa puas. Di situ ada kemanisan dan keindahan.

ROH AMAL

Islam itu ada lahir, ada batin. Ada jasad, ada roh. Ada rangka, ada nyawa. Islam itu ada kulit dan ada isi. Batin Islam atau roh Islam atau nyawa Islam atau intipati Islam itulah yang dikatakan rohul amal. Iaitu roh dalam kita bekerja, roh dalam kita ber­tindak atau roh dalam kita melaksanakan sesuatu, sama ada dalam bidang ibadah, ekonomi, pembangunan, pertanian, ke­sihatan dan lain-lain.

Roh amal inilah yang hendak kita jaga sungguh-sungguh kerana ia merupakan nyawa bagi amalan kita di samping kita tidak pula menafikan amalan atau syariat lahir. Roh amal inilah tempat jatuh pandangan Allah kerana ia merupakan intipati amal. Itulah perkara yang Allah nilai. Allah tidak pandang amalan lahir kita kalau rohnya tidak ada. Justeru itu, kita ber­ibadah mesti ada roh. Berdakwah dan berjihad, mesti ada roh. Begitu juga bermusafir, bergaul, berdoa, berzikir, berekonomi, bertani dan sebagainya mesti ada roh.

Amalan yang tidak ada roh samalah seperti manusia yang tidak ada nyawa. Ertinya sudah dianggap bangkai. Ratu cantik sekalipun, kalau sudah tidak bernyawa, dia tidak dikagumi atau diminati lagi.

MENGHADIRKAN ROH DALAM AMALAN

Hendak wujudkan, hendak lahirkan dan hendak hadirkan roh dalam aktiviti kita, usaha kita, tindak-tanduk kita dan dalam aspek apa sahaja, itu yang susah. Kadang-kadang kita ingat, tetapi diganggu. Akhirnya bila berniaga, nampak untung dan nampak duit sahaja. Lebih-lebih lagi bila dapat untung banyak, kita lupa hendak menghadirkan roh. Duit sahaja yang kita nam­pak. Begitu juga dengan usaha dan aktiviti kita yang lain. Sebab itu kalau ada orang buka kedai, jangan tanya dapat untung atau tidak hari ini. Tanyakan, “Agak-agak hari ini dapat taqwa atau tidak? Mudah-mudahan dapatlah.” Atau tanyakan, “Apa rasa awak dalam berniaga hari ini?” Kalau dia kata seronok sebab dapat banyak untung, dia sudah salah maksud dan niat. Kita kena betulkan.

Tanyakan juga, “Awak gembira atau tidak melayan orang? Kalau orang hendak berhutang, awak rasa bangga atau tidak da­pat beri hutang seolah-olah rasa sudah menyelamatkan orang.”

Kalau dia jawab ya, katakan, “Alhamdulillah, moga-moga awak selamat. Jaga selalu untung yang bersifat taqwa ini.”

Sebab itu selepas sembahyang, selepas buat baik, kita disuruh istighfar? Mengapa? Kalau selepas buat jahat kita disuruh istighfar lojiklah. Kenapa pula kita disuruh istighfar selepas membuat kerja baik? Sebab takut-takut kita tidak dapat taqwa dalam sembahyang atau dalam amalan baik yang kita lakukan itu. Takut-takut dalam amalan kita itu tidak ada rohnya dan Tuhan tidak pandang.

Mengapa pula selepas berdakwah, selepas mengajar, selepas berniaga, kita tidak istighfar? Mengapa selepas berniaga kita tidak menung sekejap. Patutnya balik sahaja dari berniaga kena menungkan apa yang telah kita buat dan bertaubat. Sebab mungkin berniaga kita tidak ada roh. Hanya dapat bangkai sahaja. Patutnya di situlah kita minta ampun sebab mungkin ada orang yang telah kita zalimi, yang telah kita sakiti, yang tidak senang dan yang sakit hati dengan kita semasa kita berniaga dan berurusan dengan pelanggan. Mengapa balik berniaga tidak minta ampun kepada Tuhan?

Kalau kita boleh buat seperti ini, Tuhan akan selamatkan kita. Sifat taqwa akan bertambah. Untung di dunia lagi Tuhan akan bagi. Memang sifat taqwa itu untuk Akhirat, tetapi taqwa juga memberi kita untung dunia untuk keperluan di dunia.

Perniagaan kapitalis, mengutamakan duit. Dari duit dapat duit. Modal duit untung pun duit. Perniagaan Islam meng­utamakan taqwa. Dari taqwa dapat taqwa. Taqwa lebih besar daripada duit. Ia membawa kebahagiaan dunia Akhirat. Ia sela­mat dan menyelamatkan. Tetapi janganlah pula sampai disiplin syariat itu diabaikan.

KISAH ASHABUL KAHFI - BUKTI KETINGGAIAN ILMU IMAM ALI BIN ABITHALIB R.A

Dalam surat al-Kahfi, Allah
SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khidzir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.

Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.

Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-'Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).

Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara jelas jalan ceritanya.....

Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi:
إِذْ أَوَى الفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo'a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)" (QS al-Kahfi:10)

Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:

Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi."

"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.

"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''

Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"

Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"

Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"

Buddhist caves- Photo UNESCO Sorosh Wali - Oct 2003.JPG

Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!"

Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"

"Ya baik!" jawab mereka.

"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.

Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"

"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!"

Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"

"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!"

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular)."

Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda."

"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.

"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?" Tanya pendeta tadi.

Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."

Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"

Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."

Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!"

Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala."

Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"

"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri."

Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"

Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.

Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.

Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.

Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.

Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t.

Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan."

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: "Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?"

"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur."

Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?"

"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha menjelaskan. "Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini: 'Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"

"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"

"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.

Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.
Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar."

Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?"

"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala itu. "Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"

"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?"

"Ya," jawab penggembala itu.

Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian."

Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."

Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?"

"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, "kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.

Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: "Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t."

Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: "Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!"

Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!"

Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.

Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"

Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu."

Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.

Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!"

Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: "Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi."

Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!"

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah."

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!" Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?"

"Aphesus," sahut penjual roti itu.

"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi. "Abdurrahman," jawab penjual roti.

"Kalau yang kau katakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!"

Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!"

Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"

Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: "Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!"

"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!"

Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"

Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang ini?"

"Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.

Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat."

Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!"

Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"

"Ya. Benar," sahut Tamlikha.

"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.

"Ya, ada," jawab Tamlikha.

"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.

Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?"

"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai aku!"

Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah rumahku!"

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: "Kalian ada perlu apa?"

Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!"

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: "Siapa namamu?"

"Aku Tamlikha anak Filistin!"

Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"

Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara haru: "Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!"

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?"

Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

"Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.

Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: "Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!"

Tamlikha menukas: "Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?"

"Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.

"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!"

Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"

"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.

"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga," jawab merekaMereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!"

Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu."

Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu."

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman:
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا
Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, "Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka." Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, "Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid."

Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: "Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"

Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!"

Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Alla hs.a.w.
Image Hosted by ImageShack.us
thikr

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket