Kamis, 17 Maret 2011

rpp smk

Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt,
51: 56, dan An-Nahl, 16: 78
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Demonstrasi, latihan, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.

B. Kompetensi Dasar
1.1. Membaca Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.2. Menyebutkan arti Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.3. Menampilkan perilaku sebagai khalifah di bumi seperti terkandung dalam Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
1..1. Mampu membaca Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78 dengan baik dan benar.
1..2. Mampu mengidentifikasi tajwid Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1..1. Mampu mengartikan per kata dengan benar dari Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1..2. Mampu mengartikan per ayat dengan benar Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1..3. Mampu menerjemahkan dengan benar Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.3.1. Mampu mengidentifikasi perilaku khalifah dalam Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.3.2. Mampu mempraktekkan perilaku khalifah sesuai dengan Q.S. Al-Baqarah: 30, Al-Mu’minūn: 12–14, Aż-Żāriyāt: 56, dan An-Nahl: 78.
1.3.3. Mampu menunjukkan perilaku khalifah dalam kehidupan.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt, 51: 56, dan An-Nahl, 16: 78.
Uraian materi pokok:
a. Surah Al-Baqarah, 2: 30 tentang peranan manusia sebagai khalifah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan (tajwid).
• Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
• Kesimpulan dan penjelasan.
b. Surah Al-Mu’minūn, 23: 12–14 tentang kejadian manusia
 Bacaan dan penjelasan bacaan (tajwid).
 Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
 Kesimpulan dan penjelasan.
c. Surah Aż-Żāriyāt, 51: 56 tentang tugas manusia
 Bacaan dan penjelasan bacaan (tajwid).
 Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
 Kesimpulan dan penjelasan.
d. Surah An-Nahl, 16: 78 tentang kewajiban manusia untuk bersyukur
 Bacaan dan penjelasan bacaan (tajwid).
 Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
 Kesimpulan dan penjelasan.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca dengan fasih Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt, 51: 56, dan An-Nahl, 16: 78.
 Mengindentifikasi tajwid Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt, 51: 56, dan An-Nahl, 16: 78.
 Mengartikan secara per kata dan per ayat dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mengidentifikasi perilaku khalifah sebagaimana tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mempraktekkan dan menunjukkan perilaku khalifah dalam kehidupan.
 Mengerjakan soal-soal latihan dari materi pembelajaran tersebut (Bab 1).
 Mengikuti ulangan harian dari materi pembelajaran tersebut.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur’an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur’an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi indikator pencapaian hasil belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca dengan fasih, benar, dan baik sesuai dengan tajwid Q.S. Al-Baqarah, 2: 30, Al-Mu’minūn, 23: 12–14, Aż-Żāriyāt, 51: 56, dan An-Nahl, 16: 78.
2. Mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per kata dan per ayat.
3. Tanya jawab dan diskusi tentang kandungan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
4. Menjelaskan perilaku manusia sebagai khalifah.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi.
2. Post test.
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam Kelas X Bab 1.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar dengan observasi dan tugas.
2. Perilaku hasil belajar melalui soal-soal latihan dan ulangan harian.
b. Alat penilaian, berbentuk soal-soal pilihan ganda, esay, dan tugas membaca Al-Qur’a

Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________
















Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Demonstrasi, latihan, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan beribadah.

B. Kompetensi Dasar
2.1. Membaca Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
2.2. Menyebutkan arti ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
2.3. Menampilkan perilaku ikhlas beribadah seperti terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
2.1.1. Mampu membaca dengan baik dan benar Q.S. Al-An’am: 162 – 163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
2.1.2. Mampu mengidentifikasi tajwid dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
2.2.1. Mampu mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secra per kata (harfiah).
2.2.2. Mampu mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per ayat dan mampu pula menerjemahkannya.
2.3.1. Mampu mengidentifikasi perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
2.3.2. Mampu mempraktekkan perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
2.3.3. Mampu menerapkan perilaku ikhlas dalam beribadah dalam kehidupan.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
Uraian materi pokok:
a. Surah Al-An’am: 162–163 tentang keikhlasan beribadah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan berdasarkan kaidah ilmu tajwid.
• Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
• Kesimpulan dan penjelasan tetang makna/kandungan Al-Qur’an tersebut.
b. Surah Al-Bayyinah: 5 tentang keikhlasan beribadah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan berdasarkan kaidah ilmu tajwid.
• Terjemahan harfiah (per kata) dan terjemahan ayat.
• Kesimpulan dan penjelasan tetang makna/kandungan Al-Qur’an tersebut.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca dengan fasih Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
 Mengidentifikasi tajwid ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per kata, per ayat, dan mampu pula menerjemahkannya.
 Mengidentifikasi perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mempraktekkan perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
 Mengerjakan soal-soal latihan dari materi pembelajaran tersebut (Bab 2).
 Mengikuti ulangan harian dari materi pembelajaran tersebut (Bab 2).

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur’an dan terjemahannya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur’an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi indikator pencapaian hasil belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca dengan fasih, benar, dan baik sesuai dengan tajwid Q.S. Al-An’am: 162–163 dan Q.S. Al-Bayyinah: 5.
2. Mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per kata (harfiah), per ayat, dan menerjemahkannya.
3. Tanya jawab dan diskusi tentang kandungan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
4. Menjelaskan kewajiban berperilaku ikhlas dalam beribadah.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi
2. Postes
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam Kelas X (Bab 2) Penerbit Erlangga.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar dengan observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 2 dan ulangan harian Bab 2.
b. Alat-alat penilaian berupa Internalisasi Budi Pekerti Islami, soal-soal pilihan ganda dan esay, dan pemberian tugas membaca ayat-ayat Al-Qur'an.



Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________

Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Iman kepada Allah SWT
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT melalui pemahaman sifat-Sifat-Nya dalam Asmaul Husna.

B. Kompetensi Dasar
3.1. Menyebutkan 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
3.2. Menjelaskan arti 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
3.3. Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
3.1.1. Mampu menjelaskan pengertian iman kepada Allah SWT dan pengertian Asmaul Husna.
3.1.2. Mampu menyebutkan arti sifat Allah.
3.1.3. Mampu menyebutkan arti 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
3.2.1. Mampu menjelaskan arti 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
3.2.2. Mampu menjabarkan 10 sifat Allah ke dalam sifat manusia.
3.3.1. Mampu mempraktekkan sifat-sifat Allah yang sepatutnya bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
3.3.2. Mampu menerapkan perilaku yang mencerminkan penghayatan terhadap 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Iman kepada Allah SWT
Uraian materi pokok:
a. Pengertian Iman kepada Allah SWT
b. Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna
• Pengertian Asmaul Husna
• Penjelasan 10 sifat Allah dalam Al-Asmaul Husna
• Perilaku orang beriman terhadap 10 sifat Allah SWT dalam Asmaul Husna:
1. Berusaha selalu berbuat baik dan berkasih sayang.
2. Berusaha menjadi mukmin yang bertakwa.
3. Memelihara kesucian diri.
4. Menjaga keselamatan diri dan orang lain.
5. Menjadi orang yang terpercaya dan dapat memberikan rasa aman kepada sesama.
6. Berperilaku adil.
7. Berusaha menjadi orang yang pemaaf.
8. Menjadi pemimpin yang baik.
9. Berperilaku bijaksana.
10. Bermuhasabah (instropeksi diri).

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pembelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga Bab 3.
 Diskusi dan tanya jawab tentang pengertian sifat-sifat Allah dan 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
 Menjabarkan arti 10 sifat dalam Asmaul Husna (Ar-Rahman, As-Salam, Al-Qudus, Al-Mu’min, Al-‘Adlu, Al-Gafur, Al-Hakim, Al-Malik, dan Al-Hasib).
 Mempraktekkan sifat-sifat Allah SWT yang sepatutnya bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
 Menerapkan perilaku yang mencerminkan sifat-sifat Allah SWT yang sepatutnya bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 3 tentang Iman kepada Allah SWT.
 Mengikuti ulangan umum harian dari materi pembelajaran Bab 3.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur’an (5–10 menit).
2. Apersepsi.
3. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.
b. Kegiatan Inti
1. Membaca, mendiskusikan, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjabarkan arti dari 10 sifat dalam Asmaul Husna.
3. Menjelaskan sifat-sifat Allah yang seoatutnya bagi manusia untuk kemudian diterapkan dalam kehidupa sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran
2. Post test
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 3 (Iman kepada Allah SWT) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui: pengalaman, observasi, tanggung jawab, dan tegas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 3 dan mengikuti ulangan harian Bab 3.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay


Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________






















Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Perilaku Terpuji
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Membiasakan perilaku terpuji.

B. Kompetensi Dasar
4.1. Menyebutkan pengertian perilaku husnuzan.
4.2. Menyebutkan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah SWT, diri sendiri, dan sesama manusia.
4.3. Membiasakan perilaku husnuzan dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
4.1.1. Mampu menyebutkan pengertian husnuzan terhadap Allah SWT.
4.1.2. Mampu menyebutkan pengertian husnuzan terhadap diri sendiri.
4.1.3. Mampu menyebutkan perilaku husnuzan terhadap sesama manusia.

4.2.1. Mampu menyebutkan contoh husnuzan terhadap Allah SWT.
4.2.2. Mampu menyebutkan contoh husnuzan terhadap diri sendiri.
4.2.3. Mampu menyebutkan contoh husnuzan terhadap sesama manusia.

4.3.1. Menunjukkan sikap husnuzan terhadap Allah.
4.3.2. Menunjukkan sikap husnuzan terhadap diri sendiri.
4.3.3. Menunjukkan sikap husnuzan terhadap sesama manusia.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Perilaku Terpuji
Uraian materi pokok:
a. Pengertian perilaku husnuzan.
b. Contoh-contoh perilaku husnuzan.
• Husnuzan terhadap Allah, antara lain melalui syukur dan sabar.
• Husnuzan terhadap diri sendiri, dengan cara percaya diri, gigih, dan berinisiatif.
• Husnuzan terhadap sesama manusia, yang diterapkan dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
• Membiasakan diri berperilaku husnuzan dalam kehidupan sehari-hari.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber tentang husnuzan yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 4, Penerbit Erlangga.
 Mendiskusikan penegrtian perilaku husnuzan.
 Mengidentifikasi perilaku-perilaku yang berkaitan dengan husnuzan.
 Mendiskusikan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.
 Mempraktekkan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 4, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur’an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca, mendiskusikan, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran Husnuzan dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 4, Penerbit Erlangga.
2. Mendiskusikan pengertian perilaku husnuzan.
3. Mengidentifikasi perilaku-perilaku yang berkaitan dengan husnuzan.
4. Mendiskusikan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.
5. Mempraktekkan contoh-contoh perilaku husnuzan terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran
2. Post test
3. Pemberian tugas yaitu mengerjakan soal-soal latihan Bab 4 (Perilaku Terpuji) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui: pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 4 dan mengikuti ulangan harian Bab 4.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.



Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________

Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Sumber Hukum Islam, Hukum Taklifi, dan Hukum Wad’i
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 6 jam pelajaran (3x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami sumber hukum Islam, hukum taklifi, dan hukum wad’i.

B. Kompetensi Dasar
5.1. Menyebutkan pengertian kedudukan dan fungsi Al-Qur'an, hadis, dan ijtihad sebagai sumber hukum Islam.
5.2. Menjelaskan pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i dalam hukum Islam.
5.3. Menerapkan hukum taklifi dan hukum wad’i dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
5.1.1. Mampu menjelaskan pengertian Al-Qur'an, hadis, dan ijtihad sebgao sumber hukum Islam.
5.1.2. Mampu menjelaskan kedudukan dan fungsi Al-Qur'an, hadis, dan ijtihad sebagai sumber hukum Islam.
5.1.3. Mampu menjelaskan fungsi hadis terhadap Al-Qur'an.
5.2.1. Mampu menjelaskan pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i.
5.2.2. Mampu menunjukkan, mempraktekkan, dan menerapkan perilaku yang sesuai dengan hukum taklifi dan hukum wad’i.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Sumber Hukum Islam, Hukum Taklifi, dan Hukum Wad’i.
Uraian materi pokok:
a. Sumber Hukum Islam
• Pengertian hukum dan sumber hukum Islam.
• Pengertian, kedudukan, dan fungsi Al-Qur'an.
• Pengertian, kedudukan, dan fungsi hadis.
• Pengertian, kedudukan, dan fungsi ijtihad.
b. Hukum Taklifi dan Hukum Wad’i
• Pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i.
• Penerapan hukum taklifi dan hukum wad’i dalam kehidupan sehari-hari.


E. Pengalaman Belajar
 Membaca materi pelajaran Bab 5 (Sumber Hukum Islam, Hukum Taklifi, dan Hukum Wad’i) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 5, Penerbit Erlangga.
 Berusaha memahami pengertian huku dan sumber hukum Islam.
 Mendiskusikan pengertian, kedudukan, dan fungsi Al-Qur'an, hadis, dan ijtihad.
 Mendiskusikan pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i.
 Mendiskusikan contoh-contoh perilaku yang sesuai dengan hukum taklifi dan hukum wad’i serta mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 5, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi tentang Indikator Hasil Belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca, mendiskusikan, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran Bab 5 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Mendiskusikan pengertian hukum dan sumber hukum Islam.
3. Mendiskusikan pengertian, kedudukan, dan fungsi hukum taklifi dan hukum wad’i.
4. Mendiskusikan contoh-contoh perilaku yang sesuai dengan hukum taklifi dan hukum wad’i serta mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Post test.
3. Pemberian tugas individu yaitu mengerjakan soal-soal latihan Bab 5 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 5 dan ulangan harian Bab 5.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.


Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________

Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 1
Materi Pembelajaran : Keteladanan Rasulullah SAW Periode Mekah
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami keteladanan Rasulullah dalam membina umat periode Mekah.

B. Kompetensi Dasar
6.1. Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
6.2. Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
6.1.1. Mampu menjelaskan sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
6.1.2. Mampu menunjukkan profil dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah.
6.1.3. Mampu menjelaskan pengaruh dakwah Rasulullah SAW terhadap umat.
6.2.1. Mampu menjelaskan substansi dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
6.2.2. Menjelaskan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Sejarah Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekah
Uraian materi pokok:
a. Sejarah Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekah
• Masyarakat Arab jahiliah periode Mekah.
• Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.
• Ajaran Islam periode Mekah:
o Keesaan Allah SWT
o Hari Kiamat ebagai hari pembalasan
o Kesucian jiwa
o Persaudaraan dan persatuan
b. Strategi dakwah Rasulullah SAW periode Mekah
• Dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3–4 tahun
• Dakwah secara terang-terangan
• Reaksi kaum Quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca materi pelajaran Bab 6 (Keteladanan Rasulullah SAW Periode Mekah) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 6, Penerbit Erlangga.
 Mempelajari tentang sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
o Masyarakat Arab jahiliah periode Mekah
o Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul
o Ajaran Islam periode Mekah
 Mendiskusikan dalam kelompok tentang substansi dan dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
o Dakwah secara sembunyi-sembunyi
o Dakwah secara terang-terangan
o Reaksi kaum kafir Quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 6, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5–10 menit)
2. Apersepsi
3. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca, diskusi, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran Bab 6 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjelaskan, tanya jawab, dan diskusi tentang sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
3. Menjelaskan, tanya jawab, dan diskusi tentang substansi dan strategi dakwah dakwah Rasulullah SAW periode Mekah.
4. Mendiskusikan cotoh-contoh perilaku yang sesuai dengan hukum taklifi dan hukum wad’i serta mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran
2. Postes
3. Pemberian tugas individu yaitu mengerjakan soal-soal latihan Bab 6 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
4. Pemberian tugas agar para siswa/siswi mengerjakan soal-soal latihan Ulangan Akhir Semester I yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.


H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 6 dan ulangan harian materi Bab 6.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.



Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________


























Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Pembelajaran Al-Qur'an Surah Ali ‘Imran, 3: 159 san Asy-Syura, 42: 38
Pendekatan : Pengamalan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Demonstrasi, latihan, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang demokrasi.

B. Kompetensi Dasar
7.1. Membaca Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
7.2. Menyebutkan arti Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
7.3. Menampilkan perilaku hidup demokratis sesuai dengan kandungan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
7.1.1. Mampu membaca dengan baik dan benar Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
7.1.2. Mampu mengidentifikasi tajwid dari ayat-ayat Al-Qur'an tersebut.
7.2.1. Mampu menyebutkan arti dari ayat-ayat Al-Qur'an tersebut secara harfiah (per kata) dan per ayat.
7.2.2. Mampu menyimpulkan kandungan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
7.2.3. Mengidentifikasi ciri-ciri orang yang bersifat demokratis.
7.3.1. Mampu menunjukkan perilaku yang demokratis sesuai dengan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Al-Qur'an Surah Ali ‘Imran, 3: 159 dan Asy-Syura, 42: 38.
Uraian materi pokok:
a. Surah Ali ‘Imran, 3: 159 tentang musyawarah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan (kaidah-kaidah ilmu tajwid).
• Terjemahan Q.S. Ali ‘Imran: 159 secara harfiah (per kata) dan per ayat.
• Menyimpulkan kandungan Q.S. Ali ‘Imran: 159, mengidentifikasi ciri-ciri orang yang bersifat demokratis dan menunjukkan perilaku demokratis.
b. Surah Asy-Syura: 38 tentang anjuran bermusyawarah.
• Bacaan dan penjelasan bacaan (kaidah-kaidah ilmu tajwid).
• Terjemahan Q.S. Asy-Syura: 38 secara harfiah (per kata) dan per ayat.
• Kesimpulan isi atau kandungan Surah Asy-Syura: 38 dan penjelasannya.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca dengan fasih Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
 Mengidentifikasi tajwid dari ayat-ayat Al-Qur'an tersebut.
 Mengartikan ayat-ayat Al-Qur'an tersebut secara per kata, per ayat, dan menerjemahkannya.
 Mengidentifikasi perilaku demokratis sesuai dengan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38, serta mempraktekkan dan menunjukkannya.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 7 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
 Mengikuti tes praktek membaca Al-Qur'an dan tes tertulis (ulangan harian).

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Apersepsi.
3. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.
b. Kegiatan Inti
1. Membaca dengan fasih Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
2. Mengidentifikasi tajwid dari ayat-ayat Al-Qur'an tersebut.
3. Menyebutkan arti ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara per kata (harfiah) dan per ayat serta menerjemahkannya.
4. Mengidentifikasi perilaku demokratis sesuai dengan Q.S. Ali ‘Imran: 159 dan Asy-Syura: 38.
5. Mempraktekkan dan menunjukkan perilaku demokratis dalam kehidupan sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi.
2. Post test.
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 7 yang terdapat dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penialain hasil tes praktek membaca Al-Qur'an, mengerjakan soal-soal latihan Bab 7 dan mengikuti ulangan harian materi Bab 7.
b. Alat penilaian: tes tertulis dengan bentuk soal pilihan ganda dan esay.

Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________

Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Iman kepada Malaikat
Pendekatan : Keimanan, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional,
dan fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Meningkatkan keimanan kepada malaikat.

B. Kompetensi Dasar
8.1. Menjelaskan tanda-tanda beriman kepada malaikat.
8.2. Menampilkan contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat.
8.3. Menampilkan perilaku sebagai cerminan keimanan kepada malaikat dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
8.1.1. Mampu menjelaskan pengertian iman kepada malaikat.
8.1.2. Mampu menjelaskan tanda-tanda beriman kepada malaikat.
8.2.1. Mampu menjelaskan contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat.
8.2.2. Mampu menampilkan contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat.
8.3.1. Mampu menampilkan perilaku mulia sebagai cerminan iman kepada malaikat.
8.3.2. Mampu membedakan antara orang yang beriman kepada malaikat dan orang yang tidak beriman kepada malaikat.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Iman kepada Malaikat.
Uraian materi pokok:
1. Pengertian iman kepada malaikat.
2. Tanda-tanda beriman kepada malaikat.
3. contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat.
4. Penerapan iman kepada malaikat dalam sikap dan perilaku.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 8, Penerbit Erlangga.
 Diskusi dan tanya jawab mengenai tanda-tanda beriman kepada malaikat.
 Diskusi dan tanya jawab mengenai tanda-tanda beriman kepada malaikat.
 Diskusi dan tanya jawab tentang contoh-contoh/ciri-ciri berima kepada malaikat.
 Diskusi dan tanya jawab mengenai perilaku sebagai cerminan dari keimanan kepada malaikat.
 Diskusi dan tanya jawab tentang perbedaan orang yang beriman dan tidak beriman.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 8 tentang Iman kpeda Malaikat.
 Mengikuti ulangan harian dari materi pembelajaran Bab 8.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar

2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Mengadakan apersepsi dan motivasi belajar.
3. Memberikan soal tes awal.
4. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.

b. Kegiatan Inti
1. Membaca, mendiskusikan, dan tanya jawab tentang materi pembelajaran dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjelaskan dan tanya jawab tentang pengertian, hukum, dan alasan hukumnya iman kepada malaikat.
3. Menjelaskan dan tanya jawab tentang tanda-tanda serta contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mendiskusikan perbedaan perilaku antara orang yang beriman kepada malaikat dan yang tidak.

c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Menyampaikan tes akhir (post test).
3. Pemberian tugas pekerjaan rumah yaitu mengerjakan soal-soal latihan Bab 8 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian proses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 8 dan mengikuti ulangan harian materi pembelajaran Bab 8.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan dandan dan esay.


Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________





Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Berperilaku Terpuji
Pendekatan : Pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional, dan
fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Membiasakan perilaku terpuji.

B. Kompetensi Dasar
9.1. Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan atau menerima tamu.
9.2. Menampilkan contoh-contoh adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan menerima tamu.
9.3. Mempraktekkan adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu atau menerima tamu dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
9.1.1. Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian.
9.1.2. Menjelaskan pengertian adab dalam berhias.
9.1.3. Menjelaskan pengertian adab dalam perjalanan.
9.1.4. Menjelaskan pengertian adab dalam bertamu atau menerima tamu.
9.2.1. Mampu menunjukkan contoh adab dalam berpakaian.
9.2.2. Mampu menunjukkan contoh adab dalam berhias.
9.2.3. Mampu menunjukkan contoh adab dalam perjalanan.
9.2.4. Mampu menunjukkan contoh adab dalam bertamu dan menerima tamu.
9.3.1. Mampu mempraktekkan perilaku yang baik dan benar dalam berpakaian.
9.3.2. Mampu mempraktekkan perilaku yang baik dan benar dalam berhias.
9.3.3. Mampu mempraktekkan adab perilaku yang baik dan benar dalam perjalanan.
9.3.4. Mampu mempraktekkan perilaku yang baik dan benar dalam bertamu dan menerima tamu.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Berperilaku Terpuji
Uraian materi pokok:
1. Adab berpakaian dan berhias.
2. Adab dalam perjalanan.
• Tata krama di jalan raya.
• Tata krama bagi penumpang kendaraan umum.
3. Adab bertamu dan menerima tamu.
• Bertamu
• Menerima tamu

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 9, Penerbit Erlangga.
 Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu dan menerima tamu.
 Menampilkan contoh adab dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu dan menerima tamu.
 Mempraktekkan adab dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu dan menerima tamu.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 9 tetang berperilaku terpuji dari buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
 Mengikuti ulangan harian Bab 9.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 9, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Mengadakan apersepsi dan motivasi belajar.
3. Memberikan soal tes awal (pretes).
4. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar
b. Kegiatan Inti
1. Membaca materi pembelajaran (Bab 9 Berperilaku Terpuji) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjelaskan dan tanya jawab tentang pengertian adab dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu serta menerima tamu.
3. Menjelaskan dan tanya jawab tentang contoh-contoh sikap perilaku yang baik dan benar dalam berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, dan adab dalam bertamu serta menerima tamu, untuk kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Menyampaikan tes akhir.
3. Pemberian tugas mengerjalan soal-soal latihan Bab 9.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 9 dan ulangan harian Bab 9.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.


Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________

























Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Berperilaku Tercela
Pendekatan : Pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional, dan
fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Menghindari perilaku tercela.

B. Kompetensi Dasar
10.1. Menjelaskan pengertian hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
10.2. Menyebutkan contoh perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
10.3. Menghindari perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.
C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
10.1.1. Mampu menjelaskan pegertian hasad.
10.1.2. Mampu menjelaskan pengertian riya’.
10.1.3. Mampu menjelaskan pengertian aniaya.
10.2.1. Mampu menyebutkan cotoh perilaku hasad.
10.2.2. Mampu menyebutkan contoh perilaku riya’.
10.2.3. Mampu menyebutkan contoh perilaku aniaya dan diskriminasi.
10.3.1. Mampu menghindari perilaku hasad.
10.3.2. Mampu menghindari perilaku riya’.
10.3.3. Mampu menghindari perilaku aniaya.
10.3.4. Mampu menghindari perilaku diskriminasi.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Berperilaku Tercela
Uraian materi pokok:
1. Hasud
• Pengertian hasud, hukum dan alasan hukumnya.
• Kerugian/bahaya hasud.
2. Riya’
• Pengertian riya’, hukum dan alasan hukumnya.
• Macam-macam riya’ dan akibat buruknya.
3. Aniaya
• Pengertian aniaya, hukum dan alasan hukumnya.
• Macam-macam aniaya dan akibat buruknya.

4. Diskriminasi
• Pengertian diskriminasi, hukum dan alasan hukumnya.
• Macam-macam diskriminasi dan akibat buruknya.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 10, Penerbit Erlangga.
 Menjelaskan pengertian hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
 Menyebutkan contoh-contoh perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
 Menghindari perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
 Mengerjakan soal-soal latihan Bab 10 (Perilaku Tercela).
 Mengikuti ulangan harian materi pembelajaran Bab 10.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Mengadakan apersepsi dan motivasi belajar.
3. Memberikan soal tes awal (pretes).
4. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.
b. Kegiatan Inti
1. Membaca materi pembelajaran (Bab 10 Berperilaku Tercela) dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Diskusi dan tanya jawab tentang pengertian hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
3. Diskusi dan tanya jawab tentang contoh-contoh perilaku hasad, riya’ aniaya, dan diskriminasi.
4. Diskusi dan tanya jawab tentang cara-cara menghadapi perilaku hasad, riya’, aniaya, dan diskriminasi.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Menyampaikan tes akhir (postes).
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 10.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 10 dan ulangan harian Bab 10.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.

Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________

Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Zakat, Haji, dan Wakaf
Pendekatan : Ibadah, pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional, dan
fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas
Waktu : 6 jam pelajaran (3x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami hukum Islam tentang zakat, haji, dan wakaf.

B. Kompetensi Dasar
11.1. Menjelaskan perundang-undangan tentang pengelolaan zakat, haji, dan wakaf.
11.2. Menyebutkan contoh-contoh pengelolaan zakat, haji, dan wakaf.
11.3. Menerapkan ketentuan perundang-undangan tentang pengelolaan zakat.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
11.1.1. Mampu menjelaskan perundang-undangan tentang pengelolaan zakat.
11.1.2. Mampu menjelaskan perundang-undangan tentang pengelolaan haji.
11.1.3. Mampu menjelaskan perundang-undangan tentang pengelolaan wakaf.
11.2.1. Mampu menyebutkan contoh pengelolaan zakat.
11.2.2. Mampu menyebutkan contoh pengelolaan haji.
11.2.3. Mampu menyebutkan contoh pengelolaan wakaf.
11.3.1. Mampu menerapkan ketentuan perundang-undangan tentang zakat.
11.3.2. Mampu menerapkan ketentuan perundang-undangan tentang haji.
11.3.3. Mampu menerapkan ketentuan perundang-undangan tentang wakaf.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Zakat, Haji, dan Wakaf
Uraian materi pokok:
a. Zakat
• Ketentuan hukum Islam tentang zakat.
• Pengelolaan zakat di Indonesia, mengacu kepada perundang-undangan tentang zakat.
b. Haji
• Ketentuan hukum Islam tentang haji.
• Penyelenggaraan haji di Indonesia mengacu kepada perundang-undangan tentang haji.
c. Wakaf
• Ketentuan hukum tentang wakaf.
• Pelaksanaan wakaf di Indonesia mengacu kepada perundang-undangan tentang wakaf.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca buku sumber yang berkaitan dengan materi pelajaran yaitu buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 11, Penerbit Erlangga.
 Diskusi dan tanya jawab tentang ketentuan hukum Islam mengenai zakat, haji, dan wakaf.
 Diskusi dan tanya jawab tentang perundang-undangan di Indonesia menegnai zakat, haji, dan wakaf.
 Diskusi dan tanya jawab mengenai praktek pelaksanaan zakat, haji, dan wakaf di Indonesia.
 Mengerjakan soal-soal latihan bab 11 mengenai zakat, haji, dan wakaf.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- OHP dan lingkungan sekitar
2. Sumber bahan: Buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 11, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Mengadakan apersepsi dan motivasi belajar.
3. Memberikan soal tes awal (pretes).
4. Informasi indikator pencapaian hasil belajar.
b. Kegiatan Inti
1. Membaca materi pembelajaran (Bab 11 Zakat, Haji, dan Wakaf) alam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Diskusi dan tanya jawab tentang ketentuan hukum Islam mengenai zakat, haji, dan wakaf.
3. Diskusi dan tanya jawab tentang perundang-undangan zakat, haji, dan wakaf di Indonesia.
4. Diskusi dan tanya jawab mengenai praktek pelaksanaan zakat, haji, dan wakaf.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Memberikan tes akhir.
3. Pemberian tugas mengerjakan soal-soal latihan Bab 11.


H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 11 dan mengikuti ulangan harian Bab 11.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.



Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________


























Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Keteladanan Rasulullah SAW Periode Madinah
Pendekatan : Peradaban, rasional, emosional, dan fungsional
Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)

A. Standar Kompetensi
Memahami keteladanan Rasulullah SAW dalam membina umat periode Madinah.

B. Kompetensi Dasar
12.1. Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
12.2. Mendiskripsikan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.

C. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
12.1.1. Mampu menjelaskan sejarah dakwah periode Madinah.
12.1.2. Mampu menunjukkan profil dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
12.2.1. Mampu menjelaskan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
12.2.2. Mampu meneladani strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.

D. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pokok: Keteladanan Rasulullah SAW Periode Madinah.
Uraian materi pokok:
a. Sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
• Arti sejarah dan tujuan Rasulullah SAW berhijrah.
• Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
• Dakwah Rasulullah SAW keluar Jazirah Arabia.
b. Strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
• Pokok-pokok pikiran yang dijadikan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
• Membangun masjid.
• Mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Ansar.
• Perjanjian untuk saling membantu antara umat Islam dan umat non Islam.

E. Pengalaman Belajar
 Membaca materi pembelajaran Bab 12 (Keteladanan Rasulullah SAW Periode Madinah) dlam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
 Mempelajari dan mendiskusikan tentang sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
 Mempelajari dan mendiskusikan tentang strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
 Meneladani strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.

F. Media Pembelajaran
1. Alat: - Al-Qur'an dan terjemahnya
- Peta Jazirah Arab
- OHP dan lingkungan sekitar

2. Sumber bahan: buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X Bab 12, Penerbit Erlangga.

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan
1. Tadarus Al-Qur'an (5-10 menit).
2. Apersepsi dan motivasi belajar.
3. Menyampaikan tes awal (pre test).
4. Informasi tentang indikator pencapaian hasil belajar.
b. Kegiatan Inti
1. Membaca tentang materi pembelajaran Bab 12 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.
2. Menjelaskan, tanya jawab, dan diskusi tentang sejarah dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
3. Menjelaskan, tanya jawab, dan diskusi tentang strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah.
c. Penutup
1. Menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Menyampaikan tes akhir (post test).
3. Pemberian tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 12.
4. pemberian tugas untuk mengerjakan soal-soal latihan ulangan akhir semester 2 dalam buku Pendidikan Agama Islam SMA Kelas X, Penerbit Erlangga.

H. Penilaian
a. Prosedur
1. Penilaian poses belajar melalui pengamatan, observasi, tanya jawab, dan tugas.
2. Penilaian hasil belajar melalui tugas individu untuk mengerjakan soal-soal latihan Bab 12 dan mengikuti ulangan harian Bab 12.
b. Alat penilaian: lembar pengamatan dan soal-soal pilihan ganda dan esay.


Bandung, 12 januari 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________



__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________

infaq

والصدقة
Keutamaan Zakat Infaq dan Shadaqah
[ اللغة الأندونيسية ]



Para Da'i
Muhammad bin Abdullah At Tuwaijry


Penterjemah
Team Islamhouse


Editor
Eko Haryanto Abu Ziyad




1428-2007
www.islamhouse.com



FADHILAH ZAKAT, INFAQ DAN SHADAQAH
Zakat merupakan salah satu pilar dari pilar islam yang lima, Allah SWT. telah mewajibkan bagi setiap muslim untuk mengeluarkannya sebagai penyuci harta mereka, yaitu bagi mereka yang telah memiliki harta sampai nishab (batas terendah wajibnya zakat) dan telah lewat atas kepemilikan harta tersebut masa haul (satu tahun bagi harta simpanan dan niaga, atau telah tiba saat memanen hasil pertanian).
Banyak sekali dalil-dalil baik dari al-quran maupun as-sunnah sahihah yang menjelaskan tentang keutamaan zakat, infaq dan shadaqah. Sebagaimana firman Allah taala yang berbunyi:
 •        •            
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al Baqarah : 277 ).
Juga firman-Nya:
       • ••                 
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (Q.S. Ar Ruum : 39 ) .
   •  •              
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al Baqarah : 274 ) .
Dalam ayat lain Allah taala berfirman:
   •        •         
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. At Taubah : 103 ) .
Adapun hadist-hadits Nabi yang menjelaskan akan keutamaannya antara lain :
عن أبي هريرة  أن أعرابياً أتى النبي  فقال: يا رَسُول اللَّهِ! دلني على عمل إذا عملته دخلت الجنة. قال: (تعبد اللَّه لا تشرك به شيئاً، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة المفروضة، وتصوم رمضان) قال: والذي نفسي بيده لا أزيد على هذا. فلما ولى قال النبي  : (من سره أن ينظر إلى رجل من أهل الجنة؛ فلينظر إلى هذا) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Abu Huraira radhiyallahu `anhu bahwa seorang Arab Badui mendatangi Nabi shallallahu `alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah! beritahu aku suatu amalan, bila aku mengerjakannya, aku masuk surga?”, Beliau bersabda : “Beribadahlah kepada Allah dan jangan berbuat syirik kepada-Nya, dirikan shalat, bayarkan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa di bulan Ramadhan,” ia berkata, “Aku tidak akan menambah amalan selain di atas”, tatkala orang tersebut beranjak keluar, Nabi shallallahu `alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga maka lihatlah orang ini”. Muttafaq ’alaih.
Allah SWT, adalah Dzat yang Maha Suci dan tidak akan menerima kecuali hal-hal yang suci dan baik, demikian juga shadaqah kecuali dari harta yang suci dan halal. Rasulullah SAW bersabda:
عن أبي هريرة  قال : قال رَسُول اللَّهِ  : ( من تصدق بعدل تمرة من كسب طيب- ولا يقبل اللَّه إلا الطيب-؛ فإن اللَّه يقبلها بيمينه، ثم يربيها لصاحبها كما يربي أحدكم فُلُوَّهُ ، حتى تكون مثل الجبل) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Abu Huraira radhiyallahu `anhu , ia berkata : “Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang bersedekah dengan sebiji korma yang berasal dari usahanya yang halal lagi baik (Allah tidak menerima kecuali dari yang halal lagi baik), maka sesungguhnya Allah menerima sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya kemudian Allah menjaga dan memeliharnya untuk pemiliknya seperti seseorang di antara kalian yang menjaga dan memelihara anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung.” Muttafaq ’alaih.
Zakat, infaq dan shadaqah memiliki fadhilah dan faedah yang sangat banyak, bahkan sebagian ulama telah menyebutkan lebih dari duapuluh faedah, diantaranya:
1- Ia bisa meredam kemurkaan Allah, Rasulullah SAW, bersabda: " Sesunggunhnya shadaqah secara sembunyi-sembunyi bisa memadamkan kemurkaan Rabb (Allah)" (Shahih At-targhib)
2- Menghapuskan kesalahan seorang hamba, beliau bersabda: "Dan Shadaqah bisa menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api" (Shahih At-targhib)
3- Orang yang besedekah dengan ikhlas akan mendapatkan perlindungan dan naungan Arsy di hari kiamat. Rasulullah saw bersabda: "Tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya diantaranya yaitu: "Seseorang yang menyedekahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya." (Muttafaq 'alaih)
4- Sebagai obat bagi berbagai macam penyakit baik penyakit jasmani maupun rohani. Rasulullah saw, bersabda: "Obatilah orang-orang yang sakit diantaramu dengan shadaqah." (Shahih At-targhib) beliau juga bersabda kepada orang yang mengeluhkan tentang kekerasan hatinya: "Jika engkau ingin melunakkan hatimu maka berilah makan pada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim." (HR. Ahmad)
5- Sebagai penolak berbagai macam bencana dan musibah.
6- Orang yang berinfaq akan didoakan oleh malaikat setiap hari sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Tidaklah dating suatu hari kecuali akan turun dua malaikat yang salah satunya mengatakan, "Ya, Allah berilah orang-orang yang berinfaq itu balasan, dan yang lain mengatakan, "Ya, Allah berilah pada orang yang bakhil kebinasaan (hartanya)." (Muttafaq 'alaihi)
7- Orang yang membayar zakat akan Allah berkahi hartanya, Rasulullah saw bersabda: "Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta." (HR. Muslim)
8- Allah akan melipatgandakan pahala orang yang bersedekah, (QS. Al-Baqarah: 245)
9- Shadaqah merupakan indikasi kebenaran iman seseorang, Rasulullah saw bersabda, "Shadaqah merupakan bukti (keimanan)." (HR.Muslim)
10- Shadaqah merupakan pembersih harta dan mensucikannya dari kotoran, sebagaimana wasiat beliau kepada para pedagang, "Wahai para pedagang sesungguhnya jual beli ini dicampuri dengan perbuatan sia-sia dan sumpah oleh karena bersihkanlah ia dengan shadaqah." (HR. Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah juga disebutkan dalam Shahih Al-Jami').
Inilah beberapa manfaat dan faidah dari zakat, infaq, dan shadaqah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, kita memohon semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang senang berinfaq dan bershadaqah serta menunaikan zakat dengan ikhlas karena mengharap wajah dan keridhaan-Nya, amin ya rabbal 'alamin.
Abu Ziyad
Sumber:
-Mukhtashar al-Fiqh al-Islamy, Muhammad At-Tuwaijry.
-Shadaqah, fadhailuha wa anwa'uha, Dar-Al Qashim

Sebarkanlah Salam, Niscaya Kalian Akan Selamat

Sebarkanlah Salam, Niscaya Kalian Akan Selamat

Posted by Admin pada 08/06/2009

Betapa banyak kaum muslimin yang masih membiasakan anak-anak mereka ketika berpisah melambaikan tangan sambil mengatakan, “Daaag!” Atau ketika bertemu dengan anak-anaknya dia menyapa, “Halo, Sayang!” Begitu pula si anak akan menjawab, “Halo, Papa! Halo, Mama!..”

Menyebarkan Salam

Satu kebiasaan yang ringan namun bisa jadi jarang diterapkan di tengah keluarga kita adalah menyebarkan salam. Padahal banyak buah kebaikan yang bisa dipetik dari ucapan yang mengandung muatan doa ini.

Salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat muslim adalah menyebarkan salam. Karena dengannya akan tumbuh rasa saling cinta di antara mereka, biarpun tidak saling mengenal.

Betapa banyak kita temui anjuran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita untuk menyebarkan salam. Sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Beliau pun ditanya, “Apa saja, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Jika engkau bertemu dengannya, ucapkan salam kepadanya. Jika dia memanggilmu, penuhi panggilannya. Jika dia meminta nasihat kepadamu, berikan nasihat kepadanya. Jika dia bersin lalu memuji Allah, doakanlah dia1. Jika dia sakit, jenguklah dia; dan jika dia meninggal, iringkanlah jenazahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 2162)

Dinukilkan pula oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan, dalam hadits ini terdapat anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin, baik yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal. (Syarh Shahih Muslim, 2/35)

Beliau juga menjelaskan bahwa ucapan salam merupakan pintu pertama kerukunan dan kunci pembuka yang membawa rasa cinta. Dengan menyebarkan salam, semakin kokoh kedekatan antara kaum muslimin, serta menampakkan syi’ar mereka yang berbeda dengan para pemeluk agama lain. Di samping itu, di dalamnya juga terdapat latihan bagi jiwa seseorang untuk senantiasa berendah diri dan mengagungkan kehormatan kaum muslimin yang lainnya. (Syarh Shahih Muslim, 2/35)

Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menukilkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَفْشُوا السَّلاَمَ تَسْلَمُوْا

“Sebarkanlah salam, niscaya kalian akan selamat.” (HR. Ahmad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 604: hasan)

Maksudnya di sini, kalian akan selamat dari sikap saling menjauh dan pemutusan hubungan, serta akan langgeng rasa saling cinta di antara kalian. Hati kalian pun akan bersatu, dan hilanglah permusuhan serta pertikaian. (Faidhul Qadir, 2/22)

‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

اعْبُدُوا الرَّحْمَنَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَأَفْشُوا السَّلاَمَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِالسَّلاَمِ

“Ibadahilah Ar-Rahman, berikan makanan dan sebarkan salam, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat.” (HR. At-Tirmidzi no. 1855, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: shahih)

Banyak nukilan ucapan para salaf kita yang shalih yang menunjukkan keutamaan mengucapkan salam. Di antaranya dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ السَّلاَمَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ وَضَعَهُ اللهُ فِي اْلأَرْضِ، فَأَفْشُوْهُ بَيْنَكُمْ، إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا سَلَّمَ عَلَى الْقَوْمِ فَرَدُّوا عَلَيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَضْلُ دَرَجَةٍ، لِأَنَّهُ ذَكَّرَهُمُ السَّلاَمَ، وَإِنْ لَمْ يُرَدَّ عَلَيْهِ رَدَّ عَلَيْهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ وَأَطْيَبُ

“Sesungguhnya As-Salam adalah salah satu nama Allah yang Allah letakkan di bumi, maka sebarkanlah salam di antara kalian. Sesungguhnya bila seseorang mengucapkan salam kepada suatu kaum, lalu mereka menjawab salamnya, maka dia memiliki keutamaan derajat di atas mereka karena dia telah mengingatkan mereka dengan salam. Dan bila tidak dijawab salamnya, maka akan dijawab oleh makhluk yang lebih baik darinya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 793: shahih secara mauquf, shahih juga secara marfu’)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلاَمِ

“Orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil untuk mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 795: shahih secara mauquf, shahih juga secara marfu’)

Setelah mengetahui keutamaan amalan ini serta pentingnya dalam kehidupan masyarakat muslimin, tentu tak layak bila kita remehkan. Lebih-lebih berkaitan dengan pendidikan anak-anak kita. Semenjak awal mestinya mereka dikenalkan dan dibiasakan dengan ucapan salam sebagaimana yang diajarkan oleh syariat ini.

Bagaimana mungkin akan kita biarkan anak-anak kita saling mengucapkan salam atau melontarkan sapaan dengan ucapan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau bahkan mengadopsi dari kebiasaan orang-orang kafir? Betapa banyak kaum muslimin yang masih membiasakan anak-anak mereka ketika berpisah melambaikan tangan sambil mengatakan, “Daaag!” Atau ketika bertemu dengan anak-anaknya dia menyapa, “Halo, Sayang!” Begitu pula si anak akan menjawab, “Halo, Papa! Halo, Mama!”

Betapa banyak itu terjadi, dan masih banyak pula gambaran yang lain. Sementara Contoh yang begitu gamblang kita dapatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau biasa menyapa dan menyampaikan salam kepada anak-anak para shahabat.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pelayan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghabiskan masa kecilnya dalam bimbingan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menceritakan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى غِلْمَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan anak-anak kecil lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka.” (HR. Muslim no. 2168)

Peristiwa yang disaksikan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ini membekas dalam dirinya, sehingga Anas pun melakukannya. Diriwayatkan oleh Tsabit Al-Bunani rahimahullahu, bahwa dia pernah berjalan bersama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, melewati anak-anak kecil. Lalu Anas mengucapkan salam kepada mereka, dan mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu biasa melakukannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168)

Perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini diikuti pula oleh sahabat yang lainnya. Diceritakan oleh ‘Anbasah bin ‘Ammar rahimahullahu:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يُسَلِّمُ عَلَى الصِّبْيَانِ فِي الكُتَّابِ

“Aku pernah melihat Ibnu ‘Umar memberi salam kepada anak-anak kecil di kuttab2.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 797: shahihul isnad)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan tentang hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas: “Hadits ini menunjukkan disenanginya memberi salam kepada anak-anak yang berusia tamyiz.” (Syarh Shahih Muslim, 14/148)

Al-Hafizh rahimahullahu menukil penjelasan Ibnu Baththal rahimahullahu: “Dalam pemberian salam kepada anak-anak ini terdapat pendidikan terhadap adab-adab syariat. Di dalamnya terkandung pula sikap menjauhi kesombongan pada diri orang-orang yang besar, perilaku tawadhu’, serta lemah-lembut kepada orang-orang di sekitar.” (Fathul Bari, 11/40-41)

Memperdengarkan Ucapan Salam

Ketika menyampaikan salam, hendaknya seseorang memperdengarkan ucapan salamnya. Diriwayatkan oleh Tsabit bin ‘Ubaid rahimahullahu:

أَتَيْتُ مَجْلِسًا فِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَقَالَ: إِذَا سَلَّمْتَ فَأَسْمِعْ، فَإِنَّهَا تَحِيَّةٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُبَارَكَةٌ طَيِّبَةٌ

“Aku pernah mendatangi suatu majelis yang di situ ada ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Maka beliau berkata, ‘Apabila engkau mengucapkan salam, perdengarkan ucapanmu. Karena ucapan salam itu penghormatan dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan’.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 769: shahihul isnad)

Ucapan Salam ketika Datang dan Pergi

Anak-anak sudah semestinya dibiasakan untuk mengucapkan salam ketika datang dan pergi. Perlu pula mereka mengetahui, ucapan salam yang lebih utama. Seseorang yang mengucapkan salam dengan sempurna tentu memiliki keutamaan.

Diceritakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ رَجُلاً مَرَّ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِيْ مَجْلِسٍ، فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَقَالَ: عَشْرَ حَسَنَاتٍ. فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَقَالَ: عِشْرُوْنَ حَسَنَةً. فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ: ثَلاَثُوْنَ حَسَنَةً. فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْمَجْلِسِ وَلَمْ يُسَلِّمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَوْشَكَ مَا نَسِيَ صَاحِبُكُمْ، إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَجْلِسَ فَلْيُسَلِّمْ، فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ، وَإِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ، مَا اْلأُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ اْلآخِرَةِ

“Ada seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang berada di suatu majelis. Orang itu berkata, “Assalamu ‘alaikum.” Beliau pun bersabda, “Dia mendapat sepuluh kebaikan.” Datang lagi seorang yang lain, lalu berkata, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi.” Beliau bersabda, “Dia mendapat duapuluh kebaikan.” Ada seorang lagi yang datang, lalu mengatakan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.” Beliau pun bersabda, “Dia mendapat tigapuluh kebaikan.” Kemudian ada seseorang yang bangkit meninggalkan majelis tanpa mengucapkan salam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Betapa cepatnya teman kalian itu lupa. Jika salah seorang di antara kalian mendatangi suatu majelis, hendaknya dia mengucapkan salam. Bila ingin duduk, hendaknya dia duduk. Bila dia pergi meninggalkan majelis, hendaknya mengucapkan salam. Tidaklah salam yang pertama lebih utama daripada salam yang akhir.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 757: shahih)

Yang Muda Memberi Salam pada yang Lebih Tua

Hendaknya anak-anak diajari pula agar memberi salam kepada orang yang lebih tua. Demikian yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ucapan beliau yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ

“Yang kecil memberi salam kepada yang besar, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, yang sedikit memberi salam kepada yang banyak.” (HR. Al-Bukhari no.6234 dan Muslim no. 2160)

Ibnu Baththal rahimahullahu mengatakan, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafizh rahimahullahu: “Pemberian salam orang yang lebih muda (kepada yang lebih tua, –pent.) disebabkan hak orang yang lebih tua. Karenanya orang yang lebih muda diperintahkan untuk memuliakannya serta bersikap rendah hati kepadanya.” (Fathul Bari, 11/22)

Mengucapkan Salam ketika Masuk Rumah

Hal yang tak patut ketinggalan dalam pembiasaan salam adalah mengucapkan salam ketika masuk rumah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia:

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللهِ مُبَارَكَةً طَيِِّبَةً

“Apabila kalian memasuki rumah, maka ucapkanlah salam bagi diri kalian sebagai penghormatan dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan.” (An-Nur: 61)

Yang dimaksudkan di sini, mencakup rumah miliknya maupun rumah orang lain, baik di rumah itu ada orang ataupun tidak. Makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Maka ucapkanlah salam bagi diri kalian”, hendaknya seseorang mengucapkan salam kepada yang lainnya. Karena kaum muslimin itu bagaikan satu individu, dari sisi saling cinta dan saling menyayangi serta mengasihi di antara mereka. Sehingga ucapan salam disyariatkan ketika memasuki semua rumah, tanpa dibedakan rumah yang satu dengan yang lain. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 575)

Dijelaskan pula oleh para pendahulu kita yang shalih, di antaranya Mujahid dan Qatadah, “Apabila engkau masuk rumah untuk menemui keluargamu, ucapkanlah salam kepada mereka. Apabila engkau masuk rumah yang tak berpenghuni, ucapkanlah: السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/431)

Ini perlu dibiasakan pada anak-anak, karena orang yang masuk rumah dengan mengucap salam memiliki keutamaan. Diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: (مِنْهَا) وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلاَمٍ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ada tiga orang yang mendapat jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, (di antaranya) seseorang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka dia mendapatkan jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Abu Dawud no. 2494, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud: shahih)

Menjawab Salam dengan yang Lebih Baik

Tak lepas dari permasalahan ini, anak-anak diajarkan pula cara menjawab salam sebagaimana dituntunkan oleh syariat. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan:

وَإِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا

“Dan apabila kalian diucapkan salam penghormatan, balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa)...” (An-Nisa`: 86)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan, “Apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada kalian, balaslah dengan ucapan salam yang lebih utama daripada yang dia ucapkan, atau balaslah sebagaimana yang dia ucapkan. Sehingga membalas dengan menambah ucapan salam itu disunnahkan, dan membalas dengan ucapan yang sama itu diwajibkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/269)

Demikian yang semestinya dilakukan oleh setiap orangtua dalam menanamkan kebiasaan ini. Begitu pula hendaknya yang ditempuh oleh seorang pengajar yang mendidik anak-anak. Dinasihatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: “Seorang pengajar apabila memasuki kelas hendaknya mengucapkan salam dengan mengatakan السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, dan hendaknya dia mengetahui bahwa ini adalah perilaku Islami yang agung, yang memperkuat ikatan cinta dan kepercayaan di antara murid, maupun antara pengajar dengan muridnya.”

Beliau menambahkan: “Tidak sepantasnya salam yang diucapkan itu berupa kalimat ‘Selamat pagi’ atau ‘Selamat sore’. Namun tidak mengapa bila setelah mengucapkan salam dia ucapkan perkataan itu dengan sedikit perubahan, seperti misalnya ‘Semoga Allah berikan kebaikan padamu pagi ini’, sehingga ucapan itu mengandung makna doa….” (Nida` ilal Murabbiyin wal Murabbiyat, hal. 17)

Inilah tuntunan Islam dalam mempererat hubungan persaudaraan di antara kaum muslimin. Tentunya, harus kita tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang jauh dari tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai gantinya, menghidupkan sunnah yang demikian benderang ini dalam kehidupan kita dan anak-anak kita.

Wallahu ta’ala a’lamu bish­-shawab.

1 Yaitu dengan mengucapkan يَرْحَمُكَ اللهُ

2 Kuttab adalah suatu tempat yang digunakan anak-anak untuk belajar membaca, menulis, dan menghafal Al-Qur`an.

Http://asysyriah.com Penulis : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran Judul: Menyebarkan Salam

“CIPTAKAN KEHIDUPAN BUKAN SEKEDAR HIDUP

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Your successes and happiness are forgiven you only if you generously consent to share them. ~Albert Camus

[Kesuksesan dan kebahagiaan akan sangat berarti jika kau mau berbagi dengan orang lain]

Untuk dapat sekedar hidup, mungkin kita tidak perlu bersusah payah mencari peluang ataupun memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas dan manfaat diri kita. Namun sebagai mahluk yang paling spesial diantara mahluk ciptaan Allah SWT, kita berkewajiban untuk mendapatkan kehidupan yang berarti. Kita harus berupaya semaksimal mungkin. Sebuah pepatah bijak menyebutkan, “Find a meaningful need and fill it better than anyone else. Kejarlah sesuatu yang bermakna, dan gunakanlah setiap peluang yang ada secara lebih baik dari siapapun.”

Ada beberapa langkah untuk menjadikan kehidupan kita menjadi lebih berarti.

*Langkah pertama adalah memperbesar kemauan untuk belajar.

Manusia mempunyai pikiran yang luar biasa, maka gunakan pikiran tersebut untuk belajar menciptakan kemajuan-kemajuan dalam hidup.

Kita dapat belajar dari berbagai hal, diantaranya adalah belajar kepada pengalaman hidup, kegagalan, kejadian sehari-hari, orang lain dan sebagainya. Maka tingkatkan terus kemauan belajar.

*Langkah kedua supaya kehidupan kita lebih berati adalah mencoba melakukan sesuatu agar lebih dekat dengan impian yang diidamkan.

Bekerjalah lebih keras, lebih aktif atau produktif. Langkah ini sangat efektif dalam meningkatkan kemungkinan mendapatkan uang, kekayaan atau segala sesuatu yang berharga bagi manusia.

Satu hal yang patut dijadikan pedoman bahwasanya kerja keras itu bukan semata-mata mengejar 5 P, yaitu power (kekuasaan), position (posisi), pleasure (kesenangan), prestige (kewibawaan) dan prosperity (kekayaan).

Setiap usaha yang hanya berorientasi kepada lima hal tersebut memang menjamin kesuksesan atau bahkan hasil yang melimpah ruah, tetapi tidak menjamin sebuah akhir yang menyenangkan.

Di dunia ini tidak sedikit orang yang semula sangat sukses, tetapi merana di tahun-tahun terakhir kehidupan mereka.

Kehidupan mereka seakan-akan tidak berarti meskipun sebelumnya sangat kaya raya. Upaya terbaik memang dapat menghasilkan kesuksesan besar, tetapi bukan berarti merupakan jaminan sebuah akhir kehidupan sebagai manusia yang penuh arti.

Karena itu langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah mengimbangi kerja keras dengan berbuat kebaikan.

Seorang penulis pada abad 20-an yang berkebangsaan Perancis, Andre Gide, mendefinisikan kebaikan itu sebagai berikut; “True kindness presupposes the faculty of imagining as one’s own the suffering and joys of others. Kebaikan yang sesungguhnya adalah kemampuan merasakan penderitaan maupun kebahagiaan orang lain.”

Kerja keras yang diimbangi dengan berbuat kebaikan akan menghasilkan semangat yang tinggi untuk mendapatkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Hal itu terdorong oleh keinginan untuk dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Pada akhirnya kebaikan tersebut berpengaruh positif terhadap semangat hidup, motivasi, dan kemajuan sikap dan ekonomi. James Allen, penulis buku berjudul As a Man Thinketh mengatakan, “Pemikiran serta perbuatan baik tidak mungkin mendatangkan hasil yang buruk; pemikiran dan perbuatan buruk tidak mungkin mendatangkan hasil baik.”

Dengan belajar, bekerja keras dan berbuat kebaikan maka kita akan dapat menciptakan kehidupan yang jauh lebih berarti.

Langkah-langkah sebagaimana dijelaskan diatas terbukti juga sangat efektif menjadikan kesan positif tentang diri kita tidak mudah dilupakan orang. Saya meyakini bahwa kita masih mempunyai banyak kesempatan dan potensi untuk mendapatkan kehidupan berharga itu dimanapun dan apapun pekerjaan kita.

Wassalam..

^____^

Sebuah Refleksi Tentang Kesombongan Anak Manusia

DALAM kitab suci Al-Qur’an disitu dikisahkan bahwasannya perbuatan dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk terhadap Khaliknya adalah sifat sombong atau arogan, hal itu dapat kita lihat dalam Surat Al-Baqarah ayat 34, dimana pada saat itu Allah menyuruh semua makhluk ciptaan-Nya untuk “bersujud” kepada Adam; seorang anak manusia yang baru pertama diciptakan, semua makhluk bersujud kecuali Iblis. Ketidakpatuhan ini didasarkan atas keangkuhan dirinya yang menganggap bahwa dia lebih mulia dari makhluk sejenis manusia, dan masih menurutnya bahwa api lebih mulia kedudukannya dibandingkan dengan tanah, maka atas dasar ‘dalil’ tersebut pantang bagi Iblis untuk bersujud kepada Adam. Oleh karena itulah Allah mengusir Iblis dari taman surga dan memvonisnya sebagai penghuni neraka untuk selama-lamanya.


Penggalan kisah diatas merupakan sejarah yang memiliki makna mendalam, seperti halnya sejarah yang silih berganti terjadi, dan bahwa realita memberi bukti bahwasannya sejarah akan kembali terulang namun tentunya dengan pelaku, tempat serta waktu yang berbeda; Dejavu. Dalam perjalanan hidup manusia nyata-nyata sifat sombong menjadi pemicu kerusakan di muka bumi ini, sebuah hadist mengatakan : “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun hanya sebesar debu”. Hadist tersebut seakan hendak memperingatkan kepada kita bahwa kesombongan akan merugikan diri, mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa pada jaman nabi dahulu, Qorun misalnya, seorang manusia yang sangat kaya dengan bergudang-gudang kekayaan, tumpukan hartanya merupakan simbol dari kesuksesannya, sehingga dengan begitu angkuh dia mengatakan bahwa segala apa yang telah didapatkannya adalah karena usaha dia semata-mata, dia menyangsikan Allah yang maha kaya, karena kesombongannya itulah Tuhan membenamkan dia bersama seluruh hartanya ke dasar bumi untuk selama-lamanya.


Pun halnya dengan Raja Fir’aun atau Pharao Rhamses II, yang dengan sungguh sangat sombong menobatkan diri sebagai raja diraja Tuhan manusia, seorang pendewa tahta dan kekuasaan yang lupa pada hakekat diri yang sesungguhnya, karena keangkuhannyalah dia tenggelam kedasar samudera yang kelam, seorang “Tuhan” tenggelam, sungguh menghinakan bukan !.


Bumi pun berputar dan waktu terus berlalu, dunia pun kini telah memasuki babak baru; era modernisasi. Namun sifat sombong seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri, kesombongan individual maupun kesombongan konstitusional telah menciptakan berbagai kehancuran dimuka bumi ini. Perang Dunia II misalnya, berapa taksiran kerugian materil dan immateriil yang diakibatkan, jutaan bahkan ratusan juta nyawa manusia mati sia-sia, berbagai infra struktur hancur luluh lantak. Padahal itu semua diakibatkan oleh ulah segelintir orang sombong yang memiliki kepentingan pribadi atau golongan, sebutlah segelintir orang-orang itu Bennito Mussolini, Josef Stalin, Lenin, Mao Tse Tung, Pol Pot, atau Adolf Hitler. Lantas apa yang kemudian mereka dapatkan setelah itu, hanyalah segudang penghinaan dari generasi selanjutnya sebagai penjahat perang yang tak berprikemanusiaan dan haus darah; mereka mati tanpa kehormatan yang dulu menjadi simbol eksistensinya.


Lalu, siapakah penerus mereka di era milenium dewasa ini, dengan kata lain siapa orang tersombong selanjutnya diatas alam fana ini. Agaknya kita sepakat untuk mengalamatkan julukan ini kepada seorang cowboy Texas bernama George Walker Bush. Siapakah Bush ?, dia hanyalah seorang mantan alkoholik dan pemakai madat yang gagal menjadi juragan minyak. Namun karena hegemoni ayahnya dia naik tahta menjadi orang nomor satu di Amerika bahkan mungkin di dunia.


“Like Father Like Son” atau “Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya” agaknya pepatah-pepatah itu sangat pas dialamatkan kepada kedua Bush ini. Masih tersimpan dalam ingatan kita 11 tahun silam, saat Bush senior dengan langkah arogan mengusir pasukan Saddam Hussein untuk keluar dari Kuwait. Saat itu dunia “setuju” karena Saddam dinilai telah menginvasi negeri jirannya itu. Karena ulah kesombongan pemimpinnya itu rakyat Irak harus hidup menderita selama bertahun-tahun dibawah embargo ekonomi PBB.


Sejarah pun terulang, Bush junior mulai lantang menunjukkan arogansi individual serta arogansi konstitusionalnya secara terang-terangan kepada dunia, ini semua dimulai dengan peristiwa 11 September 2001, ketika simbol prestisius Paman Sam luluh rantak, Amerika marah besar, malu dan merasa terhinakan, tak ada kata lain selain balas dendam, maka ditentukanlah target sasarannya, yakni TERORISME !, apa terorisme dan siapakah para teroris itu ?, sampai detik ini tak ada acuan baku yang mengartikan makna terorisme baik secara terminologis maupun etimlogis yang universal, maka jadilah arti terorisme itu hanya untuk Amerika sendiri. Maka dengan berlencana-kan polisi dunia dan berbendera-kan perdamaian dunia, Amerika melalui tangan Bush menabuh genderang perang keseluruh penjuru raya, dan mulailah agenda balas dendam yang sarat kesombongan itu direka.


Korban pertama adalah negeri miskin kering kerontang Afghanistan, Amerika mentasbih pemerintahan berkuasa di Afganistan yakni Taliban melindungi pelaku 11 September yakni Usamah Bin Ladin, sebuah hipotesa yang terlalu tergesa-gesa dan minim fakta. Namun Amerika tetap yakin bahwa Usamah pelaku teror itu, sehingga perangpun digelar di tanah para mujahidin itu.


Lihatlah bagaimana sombongnya seorang anak manusia bernama Bush yang mengatakan “Ikut Amerika atau ikut teroris”, tak pelak lagi kritik pedas pun mengalir padanya. Seorang pengamat strategi Uni Emirat Arab, Mayjen Yassin Smeid misalnya, dia mengatakan Bush tak ubahnya dengan Hitler dengan pernyataan tersebut, karena hanya ada dua pimpinan negara yang mengatakan hal itu di dunia, yakni George Walker Bush dan Adolf Hitler.


Tak sampai hitungan bulan, Taliban pun jatuh, Amerika “menang”, meskipun buruannya hingga saat ini seolah ditelan bumi menjadi misteri. Namun rupanya Bush seorang vampir haus darah, belum kering darah yang mengalir di tanah Afghanistan, kini dia mengincar target selanjutnya yang tak lain adalah musuh bapaknya dulu, yakni negeri 1001 malam Irak, dimana Saddam Hussein masih berkuasa di sana. Bush geram, Amerika pun kembali membuat skenario, mulai dari masalah kepemilikan senjata pemusnah massal, ketelibatan Saddam dengan jaringan Al-Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin, sampai alasan yang sungguh sangat klise yakni membebaskan rakyat Irak dari derita rejim kejam Saddam. Ketiga alasan itu seolah menjadi sebuah legitimasi untuk menginvasi kedaulatan negara Irak. Teriakkan anak manusia sejagat tidak di dengar, ocehan PBB tak di gubrisnya, Bush bersama pasukannya tetap anteng jalan tegap menuju Irak. Hampir seluruh umat manusia marah, setiap penjuru dunia mengecam ulah arogan Amerika itu, namun rudal-rudal Amerika cukuplah sebagai bukti bahwa sifat sombong yang ada pada diri Bush sudah sangat kronis dan akut.


Akhirnya kita kembali menyaksikan di depan televisi sambil menikmati secangkir kopi akan kesombongan Amerika, sungguh kita hanya bisa geram dan memendam dendam, selebihnya diam. Dan sampai kapan kita akan menyaksikan itu semua, agaknya patut disimak pernyataan seorang pejabat tinggi militer Israel, Yakoov Amidror yang mengatakan :

“Jika ingin melihat Timur Tengah yang sesungguhnya, maka Irak harus dijadikan sebagai langkah pertama bukan langkah yang terakhir,”


Akankah itu sebuah pertanda akan kesombongan demi kesombongan yang akan terus ditampakkan Amerika !. Yah benar, karena. sebentar lagi kita akan menyaksikan kembali rudal-rudal dan misil-misil Amerika menari-nari di Iran, Suriah dan entah negara manalagi yang ada dalam agenda Pentagon.


Lantas kapankah Allah akan memenuhi janji-Nya : “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dalam keadaan sombong ,sebab sifat sombong hanya akan mendatangkan kehancuran dan azab semata”.


Bush, Amerika, dan kroni-kroninya adalah simbol kesombongan abad milenium, akankah janji Allah itu akan menimpanya seperti ditimpakan pada Qorun, dan Fir’aun !

jawabannya … PASTI !,

kapan, … ENTAH !,


Dan kita hanya bisa kembali duduk manis di depan televisi sambil menikmati secangkir kopi menyaksikan Paman Sam menari di panggung dunia dalam siaran eksklusif yang live dari CNN atau Al-Jazeera.///


firmantaqur© 2003

Aku memang Bukan MUTIARA, tapi biarkanlah karena Aku mutiara itu ADA!

Bagi yang memiliki kekurangan, yang memiliki masalah, yang berada dalam kesempitan, yang merasa tidak punya apa apa, yang merasa tidak mampu berbuat apa apa, yang merasa bodoh, yang merasa paling kerdil, yang merasa sendiri, yang merasa tidak memiliki asa tersisa…

Sudah saatnya kita hancurkan dinding penghambat pengembangan diri ini! Dengan Izin Allah, dengan kemauan dan Aksi nyata kita! Tanpa ragu bahwa Allahlah yang akan mengubah kita…

“…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” QS. Ar Ra'du:11)

Karena itu, kalau merasa tidak mampu, (Dan tentu saja tidak akan mampu tanpa kehendak Allah Azza Wa Jalla!) Maka berdo’alah…

"…Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…” (QS Al-Mu'min: 60)

Dan bila tidak kunjung terkabul do’amu, lakukanlah introspeksi pada dirimu dengan penuh kecemasan, jangan jangan.. jangan jangan… dengan teliti dan bersabarlah…


“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:153)

Maka percayalah… niscaya Allah akan selalu menjadi penolongmu…
Dan jika kamu masih memiliki masalah dan sesuatu yang mengganjal di hati,

“Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri” (QS.Az Zumar:38)

Dan jika masih ada rasa sesal karena tidak mendapatkan yang diinginkan, maka ingatlah

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.Fathir:2)

Dan jika anda menginginkan pasangan yang “penuh cinta lagi sebaya umurnya” (QS Al-Waqi'ah:37) maka jadikan rasa takut, ketakwaan sebagai jiwa…

“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga” (QS. Ar Rahmaan:46)

karena ketauliah saudaraku…
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya” (QS. Al-Qalam:34)


“…dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam” HR:Muslim

Karena “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”(QS. Ash-Shaff:3)

Astaghfirullah… apakah tulisan = perkataan? Kalau iya, konsekuensiku gede banget :-( konsekuensi yang harus aku lakukan. !

Ya Allah… mungkin aku hanyalah sebutir pasir di jagad-Mu yang luas, tapi ijinkan aku membentuk sebuah mutiara cinta-Mu di hati setiap orang yang membaca tulisan ini. Karena Aku sadar ya Allah… aku hanyalah sebutir pasir, jauh lebih rendah dari hambamu yang lagi baca tulisanku ini. Tetapi Allah… “Karena pasir ini, jadikanlah Mutiara itu ADA! Dan lebih bersinar dari sebelumnya…”


wassalam...^_^

Pentingnya Memahami Perkembangan Naluri Pada Anak

Home schooling hadir sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.

Dalam rubrik ini kita akan menghadirkan narasumber yang punya kompeten untuk membahas tentang pendidikan anak.

Bersama Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga.

Ustadzah, saat ini tidak sedikit orang tua yang kewalahan terhadap perilaku anaknya sendiri. Bahkan terkadang mereka sulit mengendalikan anak-anaknya ketika anak naka atau ngambek. Wajar nggak sih yang seperti ini?

Seharusnya orang tua adalah pengendali yang paling kuat bagi anaknya. Kalau kemudian ada kesulitan pengendalian dari orang tua, maka apalagi orang lain. Ketika orang tua tidak mampu lagi mengendalikan anaknya, sebenarnya ini koreksi juga bagi orang tua. Pasti ada masa dia tidak berinteraksi dengan anak. Pasti ada masa dia tidak mengenali tumbuh kembang anaknya. Mungkin ini karena orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan lain, sehingga tidak terlalu memperhatikan anak. Bisa saja ini tidak hanya terjadi pada ibu-ibu yang bekerja. Tetapi mungkin juga ibu-ibu yang banyak aktivitas sosial luar rumah, bahkan juga –bukan tidak mungkin—menimpa ibu-ibu yang sibu berdakwah keluar rumah. Ternyata anaknya sendiri tidak tertangani. Yang jelas, segala masalah yang menimpa anak, maka orang tua harus mengkoreksi dirinya terlebih dahulu.

Apa yang harus dilakukan orang tua agar bisa menangani anak-anaknya? Misalnya ada anak yang suka memukul, ada anak yang kalau keinginannya tidak terpenuhi langsung ngamuk, ada anak yang gampang menangis dan penakut, dll?

Orang tua harus memahami anak-anaknya. Anak-anak itu adalah manusia seperti kita. Hanya mereka masih kecil. Ada proses pembentukan potensi yang sedang tumbuh. Ada proses pembentukan dan pengembangan akalnya. Sebagaimana manusia normal, sebenarnya hidup itu selalu berawal dari upaya untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan manusia ada yang bersifat kebutuhan jasmani (fisik untuk bertahan hidup) yang ini seringkali tidak bermasalah dalam pemenuhannya. Kemudian kebutuhan naluri. Nah kebutuhan naluri ini yang biasanya memang sangat beragam pemenuhannya. Karena naluri itu distimulir dari luar. Ukurannya atau kadarnya tergantung kuat dan lemahnya rangsangan yang berasal dari luar diri manusia. Ada tiga penampakan naluri: (1) Tadayyun: kecenderungan untuk mengkultuskan atau mensucikan sesuatu—inilah yang menjadi dasar ketaatan atau ketundukan kepada Allah SWT (2) Baqa’: kecenderungan untuk mempertahankan diri/eksistensi diri. Penampakannya seperti rasa takut, marah, senang, sedih, suka memimpin, suka memiliki dll—Inilah dasar untuk menumbuhkan rasa percaya diri, rasa tanggungjawab dan kepemimpinan (3) Nau’: Kecenderungan untuk melestarikan keturunan, seperti rasa sayang kepada keluarga, cinta kepada lawan jenis—inilah potensi untuk menumbuhkan rasa kasih sayang. Seringkali ketidakfahaman terhadap naluri ini dan secara khusus perkembangannya pada anak yang menyebabkan salah penanganan. Bahkan terkadang orang tua memperlakukan anaknya tanpa memperhatikan usia. Padahal pada anak-anak, perbedaan bulan saja sudah terjadi perkembangan yang berbeda pada anak. Menangani anak usia 4 tahun sangat berbeda dengan menangani anak usia 6 tahun. Dengan demikian pada pendidikan anak usia dini, materi pelajaran yang diberikan harus sangat memperhatikan faktor ini.

Bagaimana memahami anak berdasarkan perkembangan usia?

Ini pertanyaan yang bagus bagi para orang tua, karena ini yang seringkali terjadi salah penanganan. Ada orangtua yang memperlakukan anak batita seperti anak besar. Ada yang memukul dan keras terhadap anaknya. Tetapi tidak jarang anak-anak yang sudah selayaknya didisiplinkan malah diperlakukan seperti balita. TIdak pernah dimarahi, akhirnya yang kerepotan justru orang tuanya sendiri. Kalau kita memahami perkembangan anak maka ada tahapan: Usia dini (0-6 tahun); Pra baligh (7-14 tahun); Baligh (di atas 15 tahun).Tahapan perkembangan naluri anak untuk usia sejak lahir hingga menjelang tamyiz (7 tahun) Ini masih dalam tahap memiliki hak sempurna untuk diperlakukan secara baik oleh yang lain (pelayanan dan perlindungan penuh).

Bagaimana mengarahkan anak-anak pada usia – menjelang tamyiz ini? Apakah sama kadarnya anak batita dengan balita atau dengan usia TK?

Kita memahami ini sebagai sebuah masa yang masih dalam tahap pelayanan. Tetapi kita juga harus mempersiapkan untuk mereka menghadapi tahapan yang lebih mandiri. Di sinilah harus ada upaya untuk mengarahkan naluri, agar ketika beralih masa, mereka sudah bisa mandiri. Penanganan ini secara rinci memperhatikan masing-masing naluri. Misalnya Naluri tadayyun: ditumbuhkan mulai dari pengakuan eksistensi Allah SWT sebagai Pencipta manusia & alam semesta, pengakuan dan kekaguman kepada sifat Maha Kuasanya Allah Swt, sampai munculnya rasa syukur terhadap setiap nikmat yang Allah Swt berikan kepada anak. Pada tahapan ini sudah dibiasakan mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah, seperti alhamdulillah, subhanallloh, dll. Selanjutnya merangsang munculnya rasa ketaatan kepada Allah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Naluri Baqa-: ditumbuhkan mulai dari (1) Memunculkan rasa aman dari segala gangguan agar tidak berkembang rasa takut terhadap sesuatu yang baru dikenalnya (2) Memunculkan rasa eksistensi dirinya mulai dari memanggil namanya dengan nama yg baik, memberikan julukan dengan profil tertentu (anak sholeh, anak pintar,dll), merangsang keinginannya untuk bermain bersama dengan saudaranya dan temannya, merangsang munculnya rasa tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain, merangsang tanggung jawab menolak kezholiman dan membela kebenaran. Memunculkan rasa memiliki terhadap benda-benda yang menjadi kebutuhannya, rasa pemeliharaan terhadap benda-benda yang menjadi miliknya, membedakan mana yang menjadi milik sendiri dan mana yang menjadi milik orang lain. Bila ingin menggunakan milik orang lain harus ijin terlebih dahulu. Selanjutnya ditumbuhkan keridhoannya untuk selalu berbagi, mulai dari berbagi miliknya dengan saudaranya terlebih dahulu, selanjutnya dengan temannya. Naluri Na’u (1) Ditumbuhkan munculnya rasa sayang dan hormat kepada orang tua, saudara, kerabat dekat dengan cara orang tua memberikan contoh bentuk perlakuan sayang (ketulusan & keikhlasan dalam pelayanan) kepada anak sehingga anak dapat mencontohnya dan melakukan kepada orang lain. (2)Identifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan. (3)Identifikasi posisi anggota keluarga. (4) Pada tahap ini anak diajarkan ada kehidupan khusus orang tua (contoh harus mengetuk pintu/ ijin ketika mau masuk ke kamar orang tua) dan bagaimana menjalin hubungan dengan keluarga dan kerabat dekat (contoh silaturahmi)

sumber: mediaislamnet.com

semoga bermanfaat.