Senin, 20 Desember 2010

Quantum Dzikir Untuk Kesehatan

"Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram". (QS. Ar Rad : 28)

BISMILLAH.
Berdasarkan penelitian Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard University menjelaskan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih pengaruh baik kepada manusia. Menurut Benson tidak ada keimanan yang banyak memberikan kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. Menurutnya, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah.
Menurut penelitian David B. Larson dan timnya dari The American National Health Research, diantaranya perbandingan yang taat beragama dengan yang tidak taat beragama untuk sakit jantung 60% lebih rendah dan bunuh diri 100% lebih rendah dari pada yang tidak taat beragama.

Sementara itu Prof. Dr. Dadang Hawari, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyatakan bahwa berdoa dan berdzikir merupakan bentuk komitmen keagamaan seseorang yang merupakan unsur penyembuh penyakit atau sebagai psikoterapeutik yang mendalam. Doa dan dzikir merupakan terapi psikoreligius yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme yang paling penting selain obat dan tindakan medis.

Berkaitan dengan itu , doa dan dzikir merupakan komitmen keimanan seseorang. Doa adalah permohonan yang dimunajatkan ke kehadirat Allah SWT. Dzikir adalah mengingat Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya.

Secara umum dzikrullah adalah perbuatan mengingat Allah dan keagungannya dalam bentuk yang meliputi hampir semua ibadah, perbuatan baik, berdoa, membaca Al Quran, mematuhi orang tua, menolong teman yang dalam kesusahan dan menghindarkan diri dari kejahatan dan perbuatan dzalim. Dalam arti khusus dzikrullah adalah menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dengan memenuhi tatatertib, metode, rukun dan syarat sesuai yang diperintah oleh Allah dan rosulnya.

Dzikir dibagi tiga. Pertama, dzikir atas dzatnya, yakni pengucapan "laa ilaaha illallaah". Kalimat ini untuk menyeimbangkan dan menselaraskan hati dengan Sang Pencipta. Kedua dzikir atas ilmunya, yakni pengucapan Muhammadar Rosuulullah. Allah memberikan pengetahuan dengan perantaraan Rosul SAW. Melalui beliau dituturkan kepada yang berhak mendapatkan petunjuk. Ali R.A. adalah penghubungnya atau wasilah, sesuai hadits "Aku adalah kotanya ilmu, dan Ali adalah pintunya". Ketiga, dzikir atas af'al-Nya, yakni pengucapan "Fi kulli lamhatin wa nafasin Adada maa wasi'ahuu 'Ilmullah (sebanyak kedipan dan nafas mahluk, serta seluas Ilmu Allah).

Pengungkapan dzikir tersebut merupakan kalimat tafakkur atas penciptaan Allah berupa gerak nafas dzikir seluruh mahluk-Nya baik yang tidak terlihat. Penghayatan dzikir ini sesuai dengan firman Allah "Yakni orang-orang yang berdzikir kepada Allah dengan berdiri, duduk dan berbaring dan bertafakkur tentang penciptaan langit dan bumi." (QS. Ali Imran: 191)

Konsep penghayatan dzikir tidak berhenti pada pengucapan dan pelantunan dzikir semata, tetapi sentuhan jiwa kepada Allah Yang Rahman dan Rahim menjadi cermin utama dalam menyikapi berbagai keadaan dalam kehidupan.

Allah SWT yang menjadi obyek pada saat kita dzikir akan berubah menjadi subyek, ketika perwujudan dan sifat-sifat Allah yang tampak pada setiap ciptaan-Nya mengambil tempat pada sikap dan perilaku yang berdzikir. Dengan bertafakkur pada kondisi demikian, kesadaran terhadap luasnya ilmu Allah akan tampak begitu nyata.

Dzikir kepada Allah bukan hanya semata-mata mengucapkan Asma Allah didalam lisan atau di dalam pikiran dan hati. Akan tetapi dzikir kepada Allah adalah ingat kepada Asma, Dzat, Sifat dan Af'al-Nya. Kemudian memasrahkan kepada-Nya hidup dan mati, sehingga tidak ada lagi rasa khawatir, takut maupun gentar dalam menghadapi segala macam mara bahaya dan cobaan.

Berserah diri menjadi kata kunci dalam memasuki pengalaman untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Berserah diri tidak mungkin bila kita masih memiliki ego tentang diri kita masing-masing.

Hati bagaikan cermin. Setiap kali kita melakukan dosa maka ibarat debu yang menempel pada cermin. Ketika hati kita sudah bersih, alampun menyambut dengan seluruh aliran energi yang ada di permukaannya. Pada akhirnya masalah bukan lagi hal yang menakutkan, akan tetapi justru menjadi bumbu yang harus diramu menjadi energi untuk hisup. Energi yang mengalir dengan benar maka akan membawa keselarasan dalam hidup kita. Energi yang kita alirkan pada arah yang keliru, akan menghasilkan kerusakan seluruh dimensi kehidupan kita.

Psikoterapi Dzikir dan Doa

Psikoterapi dzikir dan doa dapat dijadikan psikoterapi untuk pengobatan keguncangan jiwa, kecemasan dan gangguan mental. Dzikir dan doa adalah metode kesehatan mental. Dengan berdzikir dan berdoa orang akan merasa dekat dengan Allah SWT dan berada dalam perlindungan dan penjagaannya. Dengan demikian akan timbul rasa percaya diri, teguh, tenang, tenteram dan bahagia.

Tahap Psikoterapi Doa

1. Tahap kesadaran Sebagai Hamba
Pada tahap ini adalah tahap pembangkitan kesadaran. Kesadaran sebagai hamba dan kesadaran kelemahan manusia. Sebelum berdoa seorang hamba diharuskan untuk merendahkan diri kepada Allah. Pada kesadaran ini seseorang disadarkan akan gangguan kejiwaan atau penyakit sebagai bagian diri kemudian dimintakan kesembuhan kepada Allah.

2. Tahap Kesadaran Akan Kekuasaan Allah
Kesadaran akan kekuasan Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang memberi Kesembuhan akan sesuatu penyakit. Tahap ini menumbuhkan keyakinan kita kepada Allah atas kemampuan Allah dalam menyembuhkan.

3. Tahap Komunikasi
Berkomunikasi dengan Allah adalah suatu hal yang penting, tahap ini bisa berupa pengakuan dosa. Dengan hati yang bersih maka kontak dengan Allah akan lebih jernih.
Pengungapan kegundahan hati dan kesulitan yang dihadapi akan menumbuhkan rasa dekat dengan Allah.
Permohonan doa kesembuhan terhadap apa yang dialami, jangan memaksakan kehendak agar Allah mengabulkan.
Tahap menunggu dan diam, namun hati tetap mengadakan permohonan kepada Allah. Pada tahap ini kita pasrah kepada Allah dan mengikuti kemauannya Allah dan apa kehendak Allah. Maka dengan sikap ini diharapkan akan dapat menangkap jawaban Allah.

Proses Terapi Doa

1. Tumbuhkan niat dalam diri untuk disembuhan oleh Allah.
2. Rilekskan tubuh, kendorkan dari mulai kaki hingga kepala, jangan ada ketegangan otot.
3. Sadari kesalahan yang dirasakan, amati keluhan itu, ikuti dengan kesadaran bahwa kita lemah, tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan apa-apa.
4.Sadari kebesaran Allah melalui alam ciptaan-Nya, Dia yang memberi hidup dan mati, Dia yang memberi sembuh dan sakit.
5. Ungkapkan seluruh keluhan yang dirasakan kepada Allah.
6. Mintakan kesembuhn kepada Allah
7. Tetap rilek dan masih pada posisi memohon kepada Allah
8. Pasrah kepada Allah sertai dengan keyakinan bahwa Allah menjawab doa yang dipanjatkan.
9. (Menunggu jawaban doa, diam namun tetap ingat memohon kepada Allah)

Proses Relaksasi Dzikir untuk Mengobati Insomnia

1. Ambil posisi tidur telentang yang paling nyaman
2. Pejamkan mata dengan perlahan-lahan, jangan dipaksakan agar otot disekitar mata tidak tegang.
3. Lemaskan semua otot. Mulai dari kaki, betis, paha dan perut. Gerakkan bahu beberapa kali agar rileks.
4. Bernafas dengan wajar, dan ucapkan dalam hati frase yang akan diulang, umpamnya "Subhanallah".
Pada saat mengambil nafas ucapkan "Subhanallah" dalam hati, setelah selesai keluarkan nafas dengan mengucapkan "Allah" dalam hati. Sambil terus melakukan no, 4, lemaskan seluruh tubuh disertai dengan sikap pasrah kepada Allah. Sikap ini menggambarkan sikap pasip yang diperlukan dalam relaksasi, dari sikap pasip ini akan memunculkan efek relaksasi ketenangan yang luar biasa.

Saling Membutuhkan

Assalamu'alaikum waroh matulloh 'wabarakatuh,,,
Bismillahir-Rahmanir-Rahim....
Sebagai pendamping, istri harus berusaha menciptakan kedamaian bagi suami. Salah satunya adalah dengan rajin memberikan senyuman. Senyum adalah "emas" bagi sebuah mahligai rumah tangga. Kehidupan rumah tangga yang sepi dari senyuman adalah ibarat rumah tangga yang gersang. Bayangkan kalau antara suami dan istri saling bersikap diam, dingin, dan tidak ada kemesraan padahal keduanya selalu bertemu, saling membutuhkan dan menua bersama. Kehidupan pasutri yang seperti ini ibaratnya hubungan Raja dengan anak buah, sangat resmi dan monoton.

Senyum adalah juga merupakan pancaran suasana hati dan cerminan kepribadian. Dengan senyuman istri, seorang suami mendapatkan ketentraman dan kehangatan jiwa. Setiap kali ia mendapatkan senyuman sang istri, muncullah suasana bahagia menghiasi relung jiwanya. Senyum istri merupakan obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan segala kepenatan suami setelah seharian mencari nafkah. Karenanya, memberikan senyum kepada suami setiap kali mengantar suami ke kantor dan atau menjemputnya pulang dari kantor adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan. Demikian pula ketika seorang suami sedang dalam amarah, sang istri akan bisa meredakannya dengan bersikap tenang dan menghibur dengan senyuman. Tidak perduli Betapa banyak masalah yang dihadapi suami di luaran sana, namun semua itu akan lumer ketika melihat kedamaian dalam senyum bahagia sang istri.

Tidak perduli Betapa banyak masalah yang dihadapi suami di luaran sana, namun semua itu akan lumer ketika melihat kedamaian dalam senyum bahagia sang istri.

Begitu pula ketika suami dihadapkan pada segala kelemahan dirinya. Pengertian istri yang diwujudkan dalam kesabaran dan senyum sungguh menjadi sesuatu yang amat diperlukan. Dengan ini seorang suami terhindar dari keputuasaan dan menyalahkan diri atas kekurangannya tersebut. Sedikit senyum istri akan membuat seorang suami tetap bisa terjaga harga diri dan sikap optimisnya.

Sifat murah senyum dan Penyayang yang muncul pada keseharian istri dalam mendidik anak-anak juga akan menimbulkan kebanggan dan kesenangan pada diri suami. Hal ini akan meyakinkan suami bahwa anak-anak tumbuh dalam suasana kasih sayang

Sifat murah senyum dan Penyayang yang muncul pada keseharian istri dalam mendidik anak-anak juga akan menimbulkan kebanggan dan kesenangan pada diri suami. Hal ini akan meyakinkan suami bahwa anak-anak tumbuh dalam suasana kasih sayang. Pun sama halnya ketika istri berinterkasi dengan orang tua dan kerabat suaminya. Keramahan dan senyuman yang menjadi karakter yang muncul pada istri saat akan membentuk persepsi suami bahwa istrinya menerima dan diterima dengan baik dan bahkan menjadi kesayangan orang tua dan anggota keluarganya yang lain. Perasaan ini sungguh akan membuat suami bahagia. Benar benar Senyuman punya pengaruh kuat dalam rumah tangga.

Kata Kata Inilah Yang Ingin Suami Dengar Dari Anda

Layaknya wanita, pria juga merasa bahagia jika mendengar kata-kata manis dari pasangannya. Berikut beberapa hal yang diucapkan wanita, yang dapat membuat para pria bahagia, seperti dikutip dari Helium.

1. "Aku bangga padamu"
Mengungkapkan kebanggan Anda terhadap pasangan, akan membuatnya merasa menjadi seseorang yang berharga bagi Anda. Selain bahagia, Anda juga membangkitkan kepercayaan dirinya.

2. "Aku cinta padamu"
Jangan bosan untuk mengungkapkan kata cinta. Ingatkan terus padanya, betapa Anda mencintainya. Kata-kata itu akan membuat harinya lebih bermakna.

3. "Kamu sangat menarik"
Pria juga perlu dibesarkan hatinya. Terkadang, ia juga merasa tidak percaya diri mengenai penampilannya. Pujian tulus dari Anda akan membesarkan hatinya. Ia akan merasa menjadi orang paling menarik di dunia.

4. "Kamu cerdas"
Otak dan pikiran logis adalah hal yang paling diagungkan oleh para pria. Salah satu yang membuat mereka merasa 'lebih' dari wanita adalah pendapat, bahwa pria lebih logis dari wanita. Memuji kecerdasannya adalah hal yang paling ingin didengar para pria.

5. "Terima Kasih"
Kata terima kasih yang tulus akan membuat para pria memiliki nilai yang lebih. Perasaan dapat membuat para wanitanya senang akan membuat pria bahagia.

6. "Aku menghargai usahamu"
Pria kadang pernah merasa gagal. Saat ini yang ia butuhkan adalah ucapan yang membuatnya merasa dihargai. Bukan karena hasil yang ia dapatkan, melainkan untuk semua usaha yang telah ia lakukan.

7. "Kamu yang terbaik"
Pria juga perlu tahu bahwa tak ada pria lain yang mampu mengambil hati Anda. Jangan bosan-bosan untuk meyakinkannya.

8. "Kau membuatku merasa aman"
Merasa layaknya seorang pahlawan di mata pasangan membuat rasa percaya diri pria meningkat. Menjadi pelindung pasangan adalah hal yang paling iya inginkan.

9. "Aku membutuhkanmu"
Merasa dibutuhkan juga merupakan hal yang paling diinginkan seorang pria. Jangan pernah merasa gengsi untuk mengatakannya.

10. "Kau tak akan terganti"
Mengetahui bahwa ia satu-satunya pria terbaik di hidup Anda, akan membuatnya 'melambung tinggi'. Ia pun akan merasa sangat dicintai. (sydh/MI)

Sumber : http://www.voa-islam.com/muslimah/artikel/

Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari Allah.....

Marilah Setiap detak-detik jantung..,
selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...

Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik..

Sabtu, 18 Desember 2010

Islam berbicara tentang cinta


Pemaparan tentang cinta kali ini tentunya akan di lihat dari sudut pandang Islam. Islam diturunkan sebagai agama universal yang rahmatan lil ‘alamin. Kedatangan Islam bukan untuk menyengsarakan umat manusia. Sebaliknya, Islam datang agar manusia mampu menikmati dan merasakan rasa cinta dan kasih sayang sesamanya. Bahkan lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya sebatas kepada manusia, Islam menyuruh untuk menebar kasih sayang kepada semua makhluk, termasuk hewan. Tidak dinafikan manusia suka dikasihi dan mengasihi di antara satu sama lain. Golongan remaja adalah golongan yang sering kali dikaitkan dengan soal percintaan. Cuma lumrahnya mereka mudah terikut-ikut serta taksub dengan pengaruh yang dibawa oleh orang-orang barat sehingga tidak jarang mereka pun mengabaikan kaidah-kaidah agama.
Memang Islam sangat menggalakkan umatnya supaya berkasih sayang di antara satu sama lain akan tetapi untuk meluapkan kasih sayang di antara seorang lelaki dan perempuan perlu melalui saluran yang dibenarkan oleh syarak bukan yang menggalakkan kepada perkara-perkara yang mendorong atau merangsang kepada yang dilarang dan maksiat.
Islam sangat menitikberatkan soal remaja di antaranya bagaimana mengarahkan remaja kepada 7 hal tentang percintaan. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam ada menyebutkan bahawa tujuh golongan manusia yang akan mendapat perlindungan atau lembayung Allah antaranya: Pemuda atau remaja yang sentiasa beribadat kepada Allah tidak kira pagi, petang, siang atau malam. Seorang laki-laki apabila diajak oleh perempuan yang cantik jelita dan kaya raya untuk melakukan maksiat, dia menolak kerana takutkan Allah, sebagaimana Baginda bersabda yang maksudnya:
“Tujuh orang yang dilindungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya iaitu: Imam yang adil, pemuda yang selalu beribadat kepada Allah, orang yang hatinya sentiasa terpaut kepada masjid, dua orang yang saling cinta-mencintai kerana Allah, mereka bertemu dan berpisah kerana Allah, seorang laki-laki yang diajak oleh perempuan yang kaya dan cantik melakukan maksiat, lalu dia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah,” seorang laki-laki yang sentiasa bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah dinafkahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang sentiasa ingat kepada Allah (berzikir) di tempat yang sunyi sehingga matanya mengalir air mata.” (Hadis riwayat Bukhari).
Berdasarkan hadis di atas, jelaslah bahwa “pemuda dan remaja yang hebat” itu ialah pemuda yang tahan ujian dan mempunyai jati diri serta tidak mudah terpengaruh semata-mata cinta dan takut kepada Allah Subhanahu Wataala. Tetapi sangat disayangkan di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini malah semakin sulit mememukan “remaja hebat” seperti yang dijelaskan dalam hadist di atas. Mari sadarilah bahwa kaum Yahudi akan selalu dan terus berusaha untuk memecah belah dan merusak Islam dengan cara apa pun termasuk menanamkan penafsiran yang salah tentang cinta.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cinta. Hanya sejauh mana dan sepintar apa kita bisa mengendalikan dan menempatkan cinta itu sesuai dengan tingkatannya, karena pada realitinya, Islam adalah agama yang praktikal, bukan mengekang. Islam agama yang mengatur kehidupan dengan lebih sempurna dan Islam tidak pernah menyekat hubungan kasih sayang di antara umatnya.
Pada akhirnya kita mempunyai dua pilihan yaitu:
1. Memilih jalan Allah SWT dan juga contoh Nabi Muhammad SAW yang jelas meninggalkan perkara syirik,syubhat dan bid’ah.
2. Atau silakan mengikuti kemauan orang kafir dengan cara mengikuti gaya mereka.
Wallahu a’lam bishawab.Semoga bermanfaat. Wassalammu’alaikum wr wb.

Ikhlas dalam agama dan melawan kemusyrikan.


Ikhlas menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al utsaimin yaitu beribadah kepada Allah semata-mata hanya untuk taqarub (mendekatkan diri) kepadaNya dan untuk memperoleh apa yang ada disisiNya.Hal ini dilakukan dengan cara memurnikan tujuan, cinta dan pengagungan hanya kepada Allah dan juga memurnikan seluruh apa saja yang bersifat lahir maupun batin dalam beribadah tidak dikehandaki dan diharapkan dari itu semua kecuali hanya ridhaNya.Allah telah berfirman dalam surat Al An’am ayat 162-163: Artinya:“Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyah untuk Allah,Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri(kepada Allah).
Tauhid dan ikhlas ini telah diwujudkan oleh Rasulullah saw, kemudian beliau bersihkan segala sesuatu yang bisa mengotorinya, tidak cukup itu saja bahkan setiap yang bisa membuka peluang untuk masuknya syirik maka beliau sumbat rapat-rapat.Seperti larangan beliau kepada orang yang mengucapkan:”Atas kehendak Allah dan kehendak Anda.” Beliau bersabda:”Apakah kamu hendak menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah?”tapi (ucapkan):”Atas kehendak Allah saja!” Beliau juga melarang sumpah dengan selain Allah karena disitu ada unsur pengagungan terhadap makhluk yang ia gunakan bersumpah. Sebagai lawan dari tauhid dan ikhlas yaitu syirik, Allah telah berfirman untuk memperingatkan kita dari berbuat syirik, artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”(AnNisaa’36).
Oleh karena itu hendaknya kita berhati-hati dan waspada terhadap segala bentuk kemusyrikan, baik itu yang besar(akbar) dan dapat menyebabkan pelakunya keluar dari Islam,yang kecil (asghar) maupun yang tersembunyi (khafiy).
2. Bersatu dalam agama dan tidak berpecah belah
Perkara ini diperintahkan dalam Al-Qur’an,As-Sunnah serta merupakan jalan hidup shahabat dan salafus shalih.Firman Allah, artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS Ali Imran 103)
Sabda Nabi : Artinya :”Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, maka tidak boleh salah satu menzhalimi yang lain, tidak pula merendahkan dan menghinanya.” (HR Al Bukhari).Juga sabda beliau yang lain: Artinya:”Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain (HR Al Bukhari). Demikianlah anjuran Nabi saw kepada umatnya agar saling mengasihi dan mencintai serta melarang bermusuhan dan bercerai berai. Memang para shahabat pernah berbeda pendapat, akan tetapi tidak menyebabkan perpecahan, permusuhan dan saling benci karena mereka hakikatnya sama-sama berjalan diatas hukum yang dituntunkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah.Seperti ketika Nabi saw selesai dari perang Ahzab Jibril as memerintahkan agar segera berangkat ke Bani Quraidhah karena mereka melanggar perjanjian,maka Nabi saw bersabda:”Kalian semua jangan shalat Ashar dulu,kecuali kalau sudah sampai di Bani Quraidhah.” (HR Al Bukhari).
Akhirnya mereka meninggalkan Madinah menuju Bani Quraidhah dan bersamaan dengan itu tiba waktu Ashar, maka sebagian dari para shahabat ada yang shalat Ashar dulu dan sebagian lagi ada yang tidak.Hal ini tidak dicela oleh Rasulullah dan dengan kasus ini para shahabat tidak lantas bermusuhan atau saling benci antara satu dengan yang lain.Demikian pula para salafus shalih ketika berbeda pendapat, selagi dalam masalah ijtihadiyah yang disitu berlaku hukum ijtihad maka perbedaan itu tidak menyebabkan permusuhan dan saling benci, bahkan dalam perbedaan yang sangat tajam sekalipun.Inilah salah satu kaidah pokok Ahlussunnah dalam masalah khilafiyah.
Adapun perselisihan yang tidak bisa dikompromi adalah apa saja yang menyelisihi shahabat dan tabi’in seperti dalam hal I’tiqad dan keyakinan yang mana sebelumnya tidak pernah ada dan munculnyapun setelah qurun mufaddlalah (masa generasi terbaik).
3. Mendengar dan patuh kepada pemegang urusan kaum muslimin (ulil amri)
Ini sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (Surat An Nisaa’59). Sedangkan dari hadits nabi diantaranya adalah: Artinya:”Hendaklah kalian semua mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang hamba habasyi”(HR Al Bukhari)
Sabda beliau yang lain Artinya:”Barang siapa yang melihat sesuatu (yang dibenci) pada imamnya maka hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa yang memisahkan diri dari Al Jama’ah sejengkal saja,kemudian mati maka matinya dalam keadaan jahiliyah.(HR Al Bukhari)
Akan tetapi ketaatan terhadap amir tidaklah mutlak,yaitu selagi ia tidak menyuruh bermaksiat kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasul saw: Artinya: “Wajib seorang muslim untuk mendengar dan taat baik terhadap perkara yang ia sukai maupun yang ia benci kecuali jika disuruh untuk bermaksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” (HR Al Bukhari). Dan yang dimaksud amir disini adalah bukan sebagaimana yang diklaim oleh kelompok-kelompok yang ada saat ini.Mereka semua telah salah dalam menerapkan hadits-hadits Nabi saw yang berkaitan dengan imamah, sehingga bukannya bersatu tapi malah memperbanyak jumlah kelompok dan makin menceraiberaikan umat.
4. Penjelasan tentang ilmu dan ulama; fiqih dan fuqahaa serta orang yang seperti mereka padahal bukan

Ilmu yang dimaksudkan disini ialah ilmu syar’I yaitu pengetahuan tentang apa-apa yang diturunkan oleh Allah berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diberikan kepada Rasulullah saw baik itu Al Kitab maupun Al hikmah (As Sunnah).
Allah swt telah berfirman: “Katakanlah:”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” Sesung-guhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az Zumar: 9)
Adapun selain ilmu syar’I jika itu untuk tujuan kebaikan maka itu baik namun jika untuk tujuan yang buruk maka ia jadi buruk,dan jika tidak ada tujuan apa-apa maka termasuk kategori menyia-nyiakan waktu.
Ilmu memiliki banyak keutamaan diantaranya adalah:
akan diangkat derajatnya oleh Allah.
*Bahwa orang yang berilmu
warisan para nabi.
*Ilmu adalah
meskipun pemiliknya telah meninggal.
*Ilmu akan tetap tinggal
yang dibolehkan adalah iri terhadap orang yang berilmu dan mengamalkannya.
*Salah satu iri
cahaya untuk menerangi jalan kehidupan.
*Ilmu merupakan
lentera yang menerangi orang-orang yang di sekitarnya.
*Orang alim ibarat

Yang sangat ditekankan adalah bahwa kita harus tahu siapa sebenarnya ulama dan fuqaha itu sebab ada juga orang-orang yang menyerupai ulama namun pada hakekatnya adalah bukan.Mereka mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil dan pandai menghiasi perbuatan dan ucapannya sehingga kesesatan dan kebid’ahan yang ia lakukan disangka oleh orang sebagai ilmu padahal bukan,ibarat fatamorgana yang disangka air namun ternyata kosong dan semu belaka.
5. Mengenal wali-wali Allah yang sebenarnya
Wali Allah adalah siapa saja yang beriman kepadaNya, bertakwa dan beristiqamah diatas agamaNya, Allah telah berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS Yunus: 62-63)
Jadi jika seseorang itu beriman dan bertakwa kepada Allah maka dia adalah waliNya.Bukan sebagaimana yang diyakini sebagian orang bahwa wali adalah orang yang maksum (terjaga dari dosa) dan ia mempunyai jalan (tharikat) tersendiri yang langsung dari Allah, bukan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah saw, atau dengan kata lain bahwa wali Allah itu biasanya orangnya nyeleneh(tidak wajar).Maka tidak diragukan lagi bahwa orang semacam ini tidak layak untuk disebut wali Allah,dan tidak pantas untuk mengaku bahwa dirinya adalah wali. Allah yang lebih tahu siapa yang menjadi waliNya.Dan yang pasti mereka adalah orang-orang yang selalau berpegang teguh dengan kitabNya dan sunnah NabiNya. Allah telah menjelaskan bahwa tingkatan hambaNya yang diberi nikmat dimulai dari nabiyyin (para nabi), Shiddiqin (jujur dan benar imannya), syuhadaa(para syahid) kemudian shalihin(orang shalih), mereka semua ini adalah wali-wali Allah berdasarkan kesepakatan salafus shalih.
6. Melawan syubhat yang ditanamkan syetan untuk menjauh-kan kita dari Al Qur’an dan As Sunnah
Yaitu mereka bisikkan bahwa Al Qur’an dan Sunnah hanya boleh dipelajari oleh orang yang telah mencapai derajat mujtahid mutlak yang setingkat Abu Bakar atau Umar radhiyallahu anhuma.Jikalau seseorang mempelajarinya maka akan jadi kafir atau zindik. Alhamdulillah syubhat ini dengan pertolongan Allah telah dijawab oleh para ulama dengan meletakkan dasar dan syarat-syarat dalam ijtihad serta penjelasan dari mereka tentang tidak bolehnya seseorang untuk taklid buta,namun hendaknya setiap orang berusaha untuk belajar mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar.
Adapun taklid dibolehkan jika seseorang memang benar-benar awam tidak tahu menahu dan tidak bisa memahami suatu hukum atau sebenarnya mampu namun mengalami kesulitan yang sangat besar maka ia boleh taklid dalam bab yang ia tidak mampu memahaminya.

Sumber Rujukan: Al Ushul As Sittah syaikh Muhammad bin Abdul Wahab; syarah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Sumbangan belia bertakwa penting bantu kejayaan,pencapaian ummah sepanjang zaman

GENERASI muda, remaja atau belia ialah kelompok yang aktif dalam semua perkara. Mereka suka bertanya, mencuba, tidak serik dengan peristiwa, cenderung lasak, sukakan cabaran, gemar memperaga diri, sukakan hiburan, mahu berkawan malah suka bercinta.

Inilah perkembangan naluri dan fitrah generasi muda dalam proses membentuk diri menuju kematangan dan masuk ke alam dewasa. Sebagai pemuda Islam, tidak salah bakat yang baik dikembangkan.

Potensi yang dimiliki boleh membangunkan diri, masyarakat dan negara, tetapi ia juga boleh merosakkan diri, meruntuhkan masyarakat dan negara. Isu utama ialah bagaimana potensi itu digilap dan disuburkan secara fitrah serta bakat diguna secara bermanfaat.

Islam meletakkan generasi muda pada kedudukan mulia dan hal ini berbeza berbanding pada zaman sebelum kedatangan Islam. Jika dalam masyarakat Arab jahiliah, bangsawan Quraisy membentuk belia mereka dengan latar belakang kemewahan dan hidup berfoya-foya, tetapi sejurus selepas terpancar nur Ilahi ke dalam masyarakat Arab, acuan itu mula dicorakkan kepada konteks lebih luas, global, punya nilai dan beradab.

Corak remaja atau belia pada zaman itu terbentuk melalui kesan tarbiah rohaniah dan jasmaniah yang dipimpin melalui pendekatan wahyu iaitu melalui cara hidup Islam. Budaya atau cara hidup bersandarkan reda Allah wujud pada diri pemuda ketika itu.

Ini menyebabkan mereka tidak saja memiliki pedoman dan dorongan terbaik untuk memandu jalan hidup, tetapi budaya reda Allah itu membentuk kedewasaan remaja yang akhirnya menjadikan mereka taat serta patuh terhadap perintah Allah dan sentiasa mengelak melakukan apa dilarang.

Al-Quran dan al-sunnah sarat dengan contoh generasi pemuda yang diiktiraf berjaya di sisi Allah. Kisah anak muda dalam surah al-Kahfi ialah pengiktirafan yang dinyatakan secara jelas oleh Allah kerana mereka beriman dan mempertahankan sifat takwa walaupun berdepan pemerintah zalim. Firman Allah yang bermaksud: “Sesungguhnya mereka ialah pemuda beriman kepada Tuhan mereka (Allah) dan Kami tambah kepada mereka petunjuk.” (Surah al-Kahfi: 13)

Allah juga memasukkan belia dan remaja yang menghabiskan masa mengabdikan diri kepada Allah dalam kegiatan hidupnya sebagai manusia yang dimasukkan ke dalam golongan mendapat perlindungan lembayung payung Allah di Padang Mahsyar kelak.

Perkara ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Tujuh golongan manusia yang akan dilindungi oleh Allah pada hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya, pemuda yang hidup dalam keadaan mengabdikan diri kepada Allah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Pemuda memiliki beberapa kelebihan berbanding orang tua untuk menunaikan tanggungjawab agama sama ada melaksanakan perintah atau menjauhkan larangan antaranya mempunyai banyak masa lapang, belum sibuk dengan kerja lain, mempunyai tenaga dan kekuatan fizikal, mempunyai kecerdasan akal fikiran, mempunyai daya ingatan yang kuat, jarang ditimpa penyakit dan mudah mendapat pertolongan serta memberi bantuan kepada orang lain.

Pada ketika mempunyai kelebihan dan keistimewaan inilah pemuda perlu merebut peluang menunaikan tanggungjawab dengan sebaiknya. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Rebut lima perkara sebelum lima perkara: muda sebelum tua, lapang sebelum sibuk, sihat sebelum sakit, kaya sebelum miskin dan hidup sebelum mati.”

Pemuda pada awal Islam menjadi tonggak dakwah dan ejen pembangunan dalam membina kekuatan. Nama seperti Mus’ab Umair, Usamah Zaid, Ali Abi Talib, dan Bilal Rabah, membuktikan kepada generasi berikutnya bahawa remaja tonggak kekuatan ummah pada zaman Rasulullah SAW dan sahabat.

Rasulullah SAW berpesan supaya ummah memberikan perhatian kepada mendidik dan menjaga belia dalam sabda Baginda bermaksud: “Aku berpesan kepada kamu supaya memberi perhatian kepada pemuda, sesungguhnya hati mereka lembut. Allah mengutuskan aku membawa agama hanif lalu pemuda menyokong aku sedangkan orang tua menentang aku.”

Justeru, dalam beramal, pemuda dianjurkan sentiasa mengambil peluang melaksanakan ibadat tanpa perlu bertangguh kerana usaha meningkatkan takwa dalam hidup bukan bermusim. Firman Allah bermaksud: “Dan dirikan oleh kamu sembahyang dan tunaikan zakat, dan apa juga yang kamu dulukan daripada kebajikan untuk diri kamu, tentu kamu akan mendapat balasan pahalanya di sisi Allah.” (Surah al-Baqarah: 110)

Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Tidak berganjak langkah kaki seseorang hamba pada hari pembalasan kelak sehingga mereka ditanya empat soalan iaitu umurnya ke mana diperuntukkan, usia muda ke mana dihabiskan, hartanya daripada diperoleh dan ke mana dibelanjakan dan ilmunya apakah diamalkannya.” (Hadis riwayat at-Tirmizi)

Rasulullah SAW juga pernah melahirkan perasaan takjubnya kepada pemuda yang sentiasa bersungguh-sungguh menjunjung nilai takwa dalam kehidupannya dan bukan bersikap seperti kebudak-budakan. Sabda Baginda SAW bermaksud: “Sesungguhnya Allah sangat kagum kepada pemuda yang tidak memiliki sifat kebudak-budakan.”

Ketika hayatnya, Baginda SAW selalu berpesan kepada belia dan remaja supaya memperlihatkan sifat matang, sesuai dengan kekuatan fizikal sehingga dapat dibezakan dengan golongan tua. Lantaran itu, ketika usia Baginda menginjak ke angka 40, terjadi peristiwa kenabian pada waktu yang dianggap sempurnanya kematangan umur dewasa. Ketika itu, kebanyakan pendukung kuatnya ialah pemuda.

Saidina Abu Bakar, tua tiga tahun daripada umur Baginda, Saidina Umar pula berusia 27 tahun ketika memeluk Islam, Saidina Othman lebih muda daripada Baginda dan Saidina Ali jauh lebih muda daripada sahabat lain.

Begitu juga sahabat yang terkenal sebagai pendamping dakwah yang dibawa Baginda SAW seperti Abdullah Mas’ud, Said Zaid, Abdul Rahman Auf, Bilal dan Musab Umair yang berusia muda. Nama seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufian, malah Abu Talib yang tidak menerima dakwah Baginda SAW ialah kalangan generasi tua.

Harapan Islam kepada generasi muda, remaja atau belia amat tinggi, justeru pengiktirafan ini mesti dibuktikan melalui tindakan dan realiti, bukan sekadar retorik atau omong kosong. Benar dan tepat kecintaan Allah kepada mereka yang suka bersedekah, tetapi Allah lebih cinta generasi muda yang bersedekah, Allah juga mencintai mereka yang beramal, tetapi Allah lebih mencintai generasi muda beramal. Allah mengasihi orang beribadat, tetapi Allah lebih mengasihi pemuda yang beribadah.

Di dalam Islam, ilmu pengetahuan mempunyai kedudukan tinggi dan istimewa di sisi Allah terbukti melalui pengiktirafan Allah terhadap ilmu melalui wahyu pertama Ilahi kepada junjungan besar Rasulullah memerintahkan baginda untuk mempelajari ilmu dan menitikberatkan kepentingan pembelajaran dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Islam menganggap hanya manusia yang dihiasi dengan ilmu pengetahuan saja golongan yang benar-benar bertakwa kepada Allah.

Jelas di sini bahawa ilmu pengetahuan dalam Islam mengandungi satu kefahaman ilmu yang menyeluruh dan bersepadu yang menyaksikan ilmu dan nilai tidak dapat dipisahkan sama sekali. Termasuk dalam konteks ini, ilmu sains dan teknologi adalah antara cabang ilmu pengetahuan yang memberi manfaat dan faedah besar kepada kelangsungan tamadun manusia.

Istilah sains itu sebenarnya berasal daripada perkataan Latin, scientia dan daripada bahasa Arab yang membawa pengertian sama iaitu ilmu pengetahuan. Pada asalnya, ilmu sains ini merangkumi semua cabang ilmu dihasilkan oleh pemikiran manusia cerdik pandai seperti falsafah, matematik, astronomi, geografi, geologi, fizik, kimia, perubatan dan sebagainya. Semua cabang ilmu itu di satu dan disepadukan di bawah bidang ilmu sains. Kemudian, apabila cabang ilmu itu semakin berkembang dan luas perbahasannya, cabang ilmu itu mula memisahkan diri daripada ilmu sains dan mula membentuk identiti ilmunya yang tersendiri.

Maka, lahirlah ilmu geografi, ilmu perubatan, ilmu fizik dan lain-lain.

Al-Quran teras sains Islam, bahkan al-Quran menganjurkan umat manusia sama ada beriman atau tidak, supaya menyelidiki alam sebagai tanda membuktikan kewujudan dan kebesaran Allah.

Jumat, 17 Desember 2010

HAKIKAT SYUKUR



Sebagai manusia yang cerdas dan berbudi pekerti yang mulia, sudah menjadi keharusan untuk selalu melirik, memperhatikan dan mengintrospeksi diri terhadap tingkah laku yang diperbuat, apakah telah melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. Manusia terkadang lupa dan lalai atas beberapa nikmat yang telah didapatkan. Manusia terbuai dan terpesona dengan nikmat dan kebahagiaan sebagai hasil jerih payah yang secara maksimal diusahakan. Manusia sering mengalami kebutaan mata hati dan pikiran tentang apa yang telah ia perbuat. Oleh sebab itu, tanpa disadari ia semakin jauh dari sumber yang telah di berikan keberhasilan dan kebahagiaan serta kesuksesan dalam menjalani hidup yang sementara ini. Bahkan tidak sedikit yang sudah jatuh dalam jalan kemungkaran dan kesesatan.

Kita sebagai seorang muslim yang selalu mengharapkan ridha dan kasih sayang-Nya dalam menjalani kehidupan ini, tidak seharusnya menjauhi dan melupakan nikmat dan rahmat yang Allah berikan pada kita semua. Kita harus ingat bahwa tanpa pertolongan dan rahmat-Nya yang selalu tercurah, kita tidak akan memperoleh apa yang kita inginkan walaupun usaha tersebut sudah maksimal kita kerjakan sesuai dengan rencana dan prosedur yang matang. Untuk itulah, kita harus mampu memahami hakikat dan rasa syukur kita pada Allah SWT, bukan hanya sekadar sebagai kajian dan renungan, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita dapat mengimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Menguak Hakikat Makna Syukur
Secara etimologi, kata syukur berasal dari kata "syakara" yang maknanya antara lain "pujian atas kebaikan" dan "penuhnya sesuatu". Allah SWT. Memperkenalkan dirinya kepada makhluknya dengan menggunakan kata "syakur" sebagai salah satu sifat-Nya, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi: "...innahu ghafurun syakur (...Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri)" (QS. Fathir/35:30) Muhammad Quraish Shihab menyatakan bahwa jika anda melihat makna syukur dari segi pujian, maka dapat disadari bahwa pujian terhadap yang dipuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Oleh sebab itu, segala pujian yang kita ungkapkan kepada manusia, pada hakikatnya kembali pada yang memberikan kebaikan dan kenikmatan, yaitu Allah SWT dalam hal ini, Allah mengajarkan pada manusia agar selalu mengucapkan Al-Hamdulilah sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya.

Kata "syukur" ini dapat juga di artikan dengan "menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya". Dari pengertian ini dapatlah dipahami bahwa makna "syukur" ini memberikan dorongan kepada manusia agar menggunakan segala yang dianugerahkan Allah di alam raya ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya.Dengan demikian, jikalau kita mampu menggunakan nikmat yang Allah berikan pada tempatnya, secara otomatis kita termasuk orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, jikalau kita tidak mampu menggunakan nikmat yang Allah berikan pada tempatnya, secara otomatis kita termasuk orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah SWT.

Di dalam Al-Qur'an, kata "syukur" biasanya diikuti oleh kata "kufur", seperti firman Allah SWT. Yang berbunyi: "...Sesugguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nimat-Ku), maka sesugguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS.ibrahim /14:7). Dari ayat diatas, kata "syukur" juga dapat diartikan dengan "menampakkan sesuatu kepermukaan", sedang kata "kufur" diartikan dengan "menutupi".oleh sebab itu, cara menampakkan nikmat Tuhan antara lain dalam bentuk memberikan sebagian dari nikmat yang Allah berikan kepada pihak yang membutuhkan. Sedangkan cara menutupi nikmat tersebut ialah dengan bersifat kikir kepada orang lain. Dengan demikian, dapatlah kita ketahui bahwa untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan nikmat, kita harus mensyukuri dengan cara menampakkan rasa terima kasih kita kepada Allah SWT. Dengan kata lain bahwa ungkapan rasa syukur tersebut tidak hanya di buktikan dengan ucapan saja, akan tetapi lebih dari pada itu harus dilakukan melalui perbuatan.

Menakar Rasa Syukur Kepada Allah SWT.
Tanpa kita sadari, hari demi hari, minggu ke minggu, selanjutnya bulan berganti bulan begitu cepat berlalu meniggalkan kita. Tak terasa sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru dan meninggalkan tahun yang sedang kita jalani. Begitulah roda kehidupan yang sehari-hari kita lalui dalam meraih sukses secercah harapan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat di mana kita berada. Kita sadar bahwa rezeki, kebahagian dan kehancuran adalah datangnya dari sang pencipta alam raya ini.Oleh sebab itu,kita selalu mengharapkan karunia, nikmat dan rahmat-Nya untuk mendapatkan rezeki dan kebahagian agar kita menjadi manusia yang sukses serta mendapatkan rezeki serta menempatkan diri sebagai orang yang dipandang dalam status sosial kemasyarakatan.

Di samping itu juga kita berharap agar Allah SWT menjauhkan diri kita, keluarga, bangsa dan negara yang kita cintai dari bala serta kesengsaraan yang akan membuat kita hidup dalam kemiskinan. Akan tetapi, pada masa sekarang ini, tidak sedikit manusia yang ingkar terhadap nikmat-nikmat-Nya. Kebanyakan manusia mengangap "boleh jadi dengan rasa keangkuhan" bahwa harta kekayaan, kemewahan yang ia dapatkan semata-mata hasil kerja kerasnya. Mereka lupa bahwa semua itu adalah berkat karunia dan nikmat Allah yang dicurahkan-Nya melalui rahmat dan kasih sayang-Nya kepada semua manusia. Oleh sebab itu, ia merasa berat memberikan sedikit harta yang ia punyai kepada orang yang membutuhkan.

Pada hal, pada hakikatnya, di dalam harta benda yang ia miliki terdapat sebagian hak orang miskin (orang yang membutuhkan) yang harus diberikan yang menjadi kewajibannya Melalui makna syukur dan gambaran fenomena manusia dalam menghayati nikmat dan karunia Allah SWT. Di atas, kita sebagai muslim yang menyakini janji dan ancaman Allah, sewajarnyalah kita selalu merenungi dan mengintrospeksi diri apakah kita telah menggunakan nikmat-Nya kejalan yang benar, apakah kita sudah termasuk pada orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat-Nya atau kita telah melupakan nikmat-Nya bahkan menjauhkan diri kita sendiri dari keridhaan-Nya? Di penghujung tahun ini, mari sama-sama kita perbaiki rasa syukur kita kepada Allah SWT. Dari diri kita sendiri agar kita tidak diberi-Nya kesulitan dan kesengsaraan dalam menjalani kehidupan ini. (Oleh Edi Agusman, SHI )

SYUKUR (Pujian, Terima kasih)
Kata syukur (شُكُوْر) adalah bentuk mashdar dari kata kerja syakara - yasykuru- syukran - wa syukuran - wa syukranan (شَكَرَ - يَشْكُرُ - شُكْرًا - وَشُكُوْرًا - وَشُكْرَانًا). Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf syin (شِيْن), kaf (كَاف), dan ra’ (رَاء), yang mengandung makna antara lain ‘pujian atas kebaikan’ dan ‘penuhnya sesuatu’.

Menurut Ibnu Faris bahwa kata syukur memiliki empat makna dasar. Pertama, pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh, yakni merasa ridha dan puas sekalipun hanya sedikit, di dalam hal ini para pakar bahasa menggunakan kata syukur untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput. Kedua, kepenuhan dan ketabahan, seperti pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat شَكَرَةُ الشَّجَرَة (syakarat asy-syajarah). Ketiga, sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit). Keempat, pernikahan atau alat kelamin. Dari keempat makna ini, M. Quraish Shihab menganalisis bahwa kedua makna terakhir dapat dikembalikan dasar pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Yakni, makna ketiga sejalan dengan makna pertama yang menggambarkan kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedangkan makna keempat sejalan dengan makna kedua karena dengan pernikahan atau alat kelamin dapat melahirkan anak. Dengan demikian, makna-makna dasar tersebut dapat diartikan sebagai penyebab dan dampaknya sehingga kata syukur (شُكُوْر) mengisyaratkan, “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur”.

Al-Asfahani menyatakan bahwa kata syukur mengandung arti ‘gambaran di dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan’. Pengertian ini diambil dari asal kata syukur (شُكُوْر) --seperti dikemukakan di atas-- yakni kata syakara (شَكَرَ), yang berarti ‘membuka’ sehingga ia merupakan lawan dari kata kafara/kufur (كَفَرَ\كُفُوْر), yang berarti ‘menutup’, atau ‘melupakan nikmat dan menutup-nutupinya’. Jadi, membuka atau menampakkan nikmat Allah antara lain di dalam bentuk memberi sebahagian dari nikmat itu kepada orang lain, sedangkan menutupinya adalah dengan bersifat kikir.

Kata syukur (شُكُوْر) di dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 75 kali tersebar di dalam berbagai ayat dan surat di dalam Alquran. Kata syukuran (شُكُوْرًا) sendiri disebutakan hanya dua kali, yakni pada S. Al-Furqan (25): 62 dan S. Al-Insan (76): 9.
Kata syukuran (شُكُوْرًا) yang pertama digunakan ketika Allah Swt. menggambarkan bahwa Allah yang telah menciptakan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Di dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Kasir berpendapat bahwa Allah Yang Mahasuci menjadikan malam dan siang silih berganti dan kejar-mengejar, yang kesemuanya itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hedaknya direnungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur kepada-Nya.

Kata syukuran (شُكُوْرًا) kedua yang terdapat di dalam S. Al-Insan (76): 9 digunakan oleh Alquran ketika Allah menggambarkan pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada orang-orang fakir dan miskin yang tiada lain yang mereka harapkan kecuali keridaan Allah Swt; dan mereka tidak akan pernah mengharapkan dari mereka yang diberi itu balasan serta ucapan terimakasih atas pemberian itu. M. Quraish Shihab menukilkan bahwa adalah Ali bin Abi Talib dan istrinya, Fatimah, putri Rasulullah Saw. memberikan makanan yang mereka rencanakan menjadi makanan berbuka puasa kepada tiga orang yang membutuhkan, dan ketika itu mereka membaca ayat di atas. Karena itu, dari sini dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah di dalam sifat-sifat-Nya dan mencapai peringkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti syukur; di dalam arti, balasan dari yang diberi, atau ucapan terimakasih.
Kalau kata syakara (شَكَرَ) merupakan antonim dari kata kafara (كَفَرَ) maka bentukan dari kedua kata ini pun sering diperhadapkan di dalam Alquran, antara lain pada S. Ibrahim (14): 7. Jadi, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat”, sedangkan hakikat kufur adalah “menyembunyikan nikmat”. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya. Di samping itu, berarti juga menyebut-nyebut nikmat serta pemberinya dengan lidah (S. Adh-Dhuha [93]: 11). Demikian pula pada S. Al-Baqarah (2): 152. Para mufasir menjelaskan bahwa ayat yang disebut terakhir ini mengandung perintah untuk mengingat Allah tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur yang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya. Di dalam kaitan ini, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.
Kata syukur (شُكُوْر) juga berarti ‘puji’; dan bila dicermati makna syukur dari segi pujian maka kiranya dapat disadari bahwa pujian terhadap yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Dengan begitu, setiap yang baik yang lahir di alam raya ini adalah atas izin dan perkenan Allah. Apa yang baik dari kita, pada hakikatnya adalah dari Allah semata; jika demikian, pujian apapun yang kita sampaikan kepada pihak lain, akhirnya kembali kepada Allah jua. Jadi, pada prinsipnya segala bentuk pujian (kesyukuran) harus ditujukan kepada Allah Swt. Di dalam hal ini, Alquran memerintahkan umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya (S. Al-Baqarah [2]:152 dan S. Luqman [31]: 12. Itu sebabnya kita diajarkan oleh Allah untuk mengucapkan “Alhamdulillah” (اَلْحَمْدُ ِلله), di dalam arti ‘segala puji (hanya) tertuju kepada Allah’. Namun, ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Misalnya, Alquran secara tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua orang, yang menjadi perantara kehadiran kita di pentas dunia ini (S. Luqman [31]: 14).
Pada sisi lain, Alquran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedangkan Allah sama sekali tidak memperoleh, bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya (S. An-Naml [27]: 40). Akan tetapi, karena kemurahan Allah, Dia menyatakan diri-Nya sebagai Syakirun ‘Alim (شَاكِرٌ عَلِيْمٌ) di dalam S. Al-Baqarah (2): 158 dan Syakiran ‘Alima (شَاكِرًا عَلِيْمًا) di dalam S. An-Nisa’ (4): 147, yang keduanya berarti ‘Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui’; di dalam arti, Allah akan menganugerahkan tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk yang bersyukur. Demikian M. Quraish Shihab.
Di dalam Alquran, selain kata syukur (شُكُوْر) ditemukan juga kata syakur (شَكُوْر). Kata yang disebut terakhir ini berulang sebanyak sepuluh kali, tiga di antaranya merupakan sifat Allah dan sisanya menjadi sifat manusia. Al-Ghazali mengartikan syakur sebagai sifat Allah adalah bahwa Dia yang memberi balasan banyak terhadap pelaku kebaikan atau ketaatan yang sedikit; Dia yang menganugerahkan kenikmatan yang tidak terbatas waktunya untuk amalan-amalan yang terhitung dengan hari-hari tertentu yang terbatas. Di dalam pada itu, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ada juga hamba-hamba Allah yang syakur, walau tidak banyak, sebagaimana firman-Nya di dalam S. Saba’ (34): 13. Dari sini, tentu saja makna dan kapasitas syakur hamba (manusia) berbeda dengan sifat yang disandang Allah. Manusia yang bersyukur kepada manusia/makhluk lain adalah dia yang memuji kebaikan serta membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak dari apa yang telah dilakukan oleh yang disyukurinya itu. Syukur yang demikian dapat juga merupakan bagian dari syukur kepada Allah. Sebab, berdasarkan hadis Nabi Saw, “Wa-man lam yasykur an-nas lam yasykur Allah” (وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لمَ ْيَشْكُرِ اللهَ = Siapa yang tidak mensyukuri manusia maka dia tidak mensyukuri Allah). (HR. Abu Daud dan At-Turmuzi). Hadis ini antara lain berarti bahwa siapa yang tidak pandai berterimakasih (bersyukur) atas kebaikan manusia maka dia pun tidak akan pandai mensyukuri Allah karena kebaikan orang lain yang diterimanya itu bersumber dari Allah juga. Jadi, syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya serta dorongan untuk bersyukur dengan lidah dan perbuatan.
Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kata syukur (شُكُوْر) dan kata-kata yang seakar dengannya di dalam Alquran meliputi makna ‘pujian atas kebaikan’, ‘ucapan terimakasih’, atau ‘menampakkan nikmat Allah ke permukaan’, yang mencakup syukur dengan hati, syukur dengan lidah, dan syukur dengan perbuatan. Di dalam hal ini, syukur juga diartikan sebagai ‘menggunakan anugerah Ilahi sesuai dengan tujuan penganugerahannya’. [Muhammadiyah Amin]


Apa makna syukur bagi anda?
"Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" QS. Ar Rahman:13
Apa yang anda rasakan ketika mendengar ayat ini? Bahwa tidak ada setitik pun yang ada di dunia ini yang dapat manusia dustakan. Semua keindahan yang diciptakan oleh Ar Rahman diberikan pada tiap partikel ciptaanNya. Pegunungan hijau yang terhampar luas. Lautan biru yang membentang, menyediaakan sumber makanan serta kekayaan bumi yang melimpah ruah yang dapat digunakan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Bintang bintang di langit, bisa menjadi petunjuk jalan ketika seorang musafir, nelayan, atapun sekelompok pecinta Alam yang tengah tersesat mencari jalan keluar. Semua telah ALLAH SWT sediakan bagi manusia. Namun, banyak manusia yang tidak menyadarinya. Lantas, lupa ataupun lalai mengucapkan terima kasih pada-Nya.

Syukur. Apa makna syukur bagi anda? Syukur memiliki begitu banyak definisi. Tergantung pada tiap otak manusia mendefinisikan kata syukur itu seperti apa. Tetapi, bagi setiap muslim. Ketika ia sholat, lalu bersujud dan berdoa di dalam sujudnya mengucapkan terima kasih tiada tara atas apa yang telah Rabb-Nya berikan kepada dia di dalam kehidupannya. Baik itu kemudahaan ataupun kesulitan. Baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan. Namun, ia masih mengucap syukur, "Terima kasih untuk segala nikmat yang telah engkau berikan pada hamba Ya RABB!" di dalam untaian doanya di setiap sujud syukur.


Ketika seorang muslim bersedekah. Memberikan apa yang ia miliki kepada orang lain. Berbagi apa yang dimiliki, entah itu berupa materi, sandang pangan, ataupun darah yang mengalir di dalam tubuhnya untuk di donorkan. Itu juga merupakan salah satu wujud dari rasa syukur kepada Rabb-Nya.

Begitu banyak cara bagi seorang muslim untuk menyatakan bahwa dirinya berbahagia, berterima kasih, lantas bersyukur kepada Rabb-Nya atas nikmat yang telah hadir di dalam kehidupannya. Nikmat sehat, nikmat sakit, nikmat ketika menyantap makanan serta minuman halal, nikmat kasih sayang dari keluarga dan orang yang mencintai kita dengan tulus, dan masih banyak nikmat yang kadang luput dari kesadaran seorang muslim.

ALLAH SWT berfirman,
"Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." QS.Ibrahim:34
"Dan, menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." QS.Luqman:20
"Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah datangnya." QS. An-Nahl : 53

Ketika seorang muslim sudah bisa berada pada titik syukur, dan mensyukuri apapun yang telah dialami dalam kehidupannya. Maka, ia akan lebih mudah mengundang rasa bahagia masuk ke dalam nurani. Kebahagiaan, ketenangan, dan rasa syukur yang senantiasa membuahkan rasa ikhlas dan nyaman dalam menjalani kehidupan. Kecemasan, rasa takut yang berlebihan akan masa depan, berbagai prasangka yang di alamatkan kepada Rabb-Nya ataupun kepada sodara sesama muslim dapat dikelola dengan baik.

Sudahkah anda bersyukur, dan tersenyum atas nikmat serta karunia yang ALLAH SWT berikan pada anda hari ini? :)


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".( QS. Ibrahim: 7 )


Saat ini kembali rasa malu yang amat sangat menyusup di dadaku, ketika ku baca berulang-ulang salah satu isi dari surat cinta-Nya diatas

Sudahkan aku bersyukur dengan tulus terhadap apa yang semua ku miliki sekarang ???
Sudahkah Aku bersyukur terhadap Anugrah terbesar yang DIA berikan kepadaku yaitu Anugrah Islam dan Iman yang diselipkan dalam Qalbuku ???
Sudahkah…….???
Sudahkan……???
Sudahkan……???

Beribu pertanyaan menghujam diriku karena Aku sadar bahwa Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting.Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Menurutku ada dua hal yang sering membuat kita lalai dalam bersyukur…

Yang pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang
kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.Sehingga kita lalai untuk mensyukuri apa yang kita miliki saat ini

Yang kedua, Selalu membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan orang lain seperti istilah yang sering kita dengar “Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.”

Ah…Rasanya Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki karena Orang yang kaya bukanlah yang memiliki segala hal, tapi orang yang bisa menikmati apa yang dimilikinya dengan penuh rasa syukur


SUDAHKAH KITA BERSYUKUR HARI INI ???


وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” ( QS. Al-A`raaf:10 )
Hakikat Syukur!

“Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatku kepada kamu dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabku amatlah keras”.
(Ibrahim: 7)
Bersyukurkah Kita?
Syukur merupakan suatu amalan yang utama dan mulia, oleh itu Allah s.w.t. memerintahkan kita semua untuk bersyukur kepadaNya, mengakui segala keutamaan yang telah Dia berikan , firmanNya:
“Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu (dengan mematuhi hukum dan undang-undangKu), supaya aku membalas kamu dengan kebaikan dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur (akan nikmatKu).
(Al-Baqarah: 152)
Allah SWT juga memberitahu bahawa Dia tidak akan menyeksa mereka yang bersyukur, sebagaimana yang difirmankan, ertinya;
“Apa gunanya Allah menyeksa kamu sekiranya kamu bersyukur (akan nikmatNya) serta kamu beriman (kepada Nyata)? Dan (Ingatlah) Allah sentiasa membalas dengan sebaik-baiknya (akan orang-orang yang bersyukur kepadaNya), lagi Maha Mengetahui (akan hal keadaan mereka)” (An-Nisaa:147)
Mereka yang bersyukur merupakan golongan yang istimewa di hadapan Allah firmanNya:
“Kalaulah kamu kufur ingkar (tidak bersyukur) akan nikmat-nikmatNya itu, maka ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah tidak berhajatkan (iman dan kesyukuran) kamu (untuk kesempurnaanNya) dan Dia tidak redakan hamba-hambanya berkeadaan kufur dan jika kamu bersyukur, Dia meredainya menjadi sifat dan amalan kamu”
(QS Az Zumar: 7)
Allah juga menegaskan bahawa syukur merupakan sebab kekalnya sesuatu nikmat, juga semakin bertambah, firmanNya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabKu amatlah keras”. (Ibrahim: 7)
Hakikat Syukur:
Kesyukuran yang hakiki didirikan di atas lima asas utama yang mana barang siapa mengamalkannya, maka dia adalah seorang yang benar-benar bersyukur iaitu;
1. Merendahkan diri terhadap yang disyukuri (Allah).
2. Rasa cinta terhadap Pemberi Nikmat (Allah).
3. Mengakui seluruh nikmat yang Dia berikan.
4. Senantiasa memuji-Nya atas nikmat tersebut.
5. Tidak menggunakan nikmat untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah.
Jenis-Jenis Syukur:
Imam Ibnu Rajab berkata, “Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan”.
Syukur dengan hati adalah mengakui nikmat tersebut dari Allah, berasal dari-Nya dan atas keutamaannya.
Syukur dengan lisan iaitu selalu memuji Yang Memberi nikmat (Allah), menyebut nikmat itu, mengulang-ulangnya serta menampakkan nikmat tersebut, Allah s.w.t. berfirman, ertinya, “ dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-yebutNya (dengan bersyukur)”. (QS:93:11)
Syukur dengan anggota badan iaitu tidak menggunakan nikmat tersebut, kecuali dalam rangka ketaatan kepada Allah s.w.t., berwaspada dari menggunakan nikmat untuk kemaksiatan kepada-Nya.
Setelah kita tahu hakikat dan jenis-jenis syukur, maka marilah kita memuhasabah diri, adakah selama ini kita telah menjadi seorang hamba Allah yang benar-benar bersyukur?
Kita harus bertanya secara jujur:
Apakah bersyukur ertinya, jika seorang Muslim atau Muslimah meniru-niru gaya hidup orang kafir? Apakah makna syukur bila seorang Muslimah mengikuti model dan gaya hidup wanita musuh Allah? Berpakaian terbuka, bertabarruj dan membantah ketetapan syarak tanpa rasa malu dan segan?
Apakah dianggap bersyukur, jika seorang Muslim meninggalkan solat lima waktu, atau mensia-siakannya atau tidak mahu mengerjakannya dengan berjemaah? Bahkan lebih suka melakukan perkara bidaah dan sesat?
Aoakah termasuk orang syukur kalau meremehkan puasa Ramadan, tidak mahu pergi haji padahal mampu, tidak mahu membayar zakat dan bersedekah?
Apakah merupakan orang yang bersyukur jika tanpa segan silu bergelumang dengan riba, membazirkan harta untuk berfoya-foya, minum-minuman keras, dadah dan seumpamanya?
Apakah tanda syukur jika seorang pemuda suka melepak di pusat membeli belah, tepi jalan, berbual kosong di telefon, membazirkan makanan dan meremehkan nikmat yang dia terima?
Ketahuilah Nikmat Allah:
Sesungguhnya mengetahui dan mengenal nikmat, merupakan di antara rukun terbesar dalam bersyukur. Abu Darda’ mengatakan, “Barang siapa yang tidak mengetahui nikmat Allah selain makanan dan minumnya, maka bererti ilmunya adalah sedikit dan azab telah menimpanya”.
Nikmat-Nikmat yang Utama
Nikmat Allah tidak terhingga banyaknya dan di antara yang utama yang perlu untuk kita sedari ialah:
(1) Islam dan Iman:
Demi Allah, inilah nikmat yang terbesar, d imana Allah menjadikan kita sebagai Muslim. Sufyan Ibnu Uyainah berkata, “Tidak ada satu nikmat pun dari Allah untuk hambaNya yang lebih utama, daripada diajarkannya kalimat LA ILAHA ILLALLAH.”
(2) Penangguhan Azab (balasan) Ke atas Dosa Dan DiTutupnya Dosa Kita.
Ini juga merupakan nikmat yang sangat besar, kerana jika setiap kali kita melakukan dosa lalu Allah Terus membalasnya, maka tentu seluruh alam ini akan binasa. Akan tetapi Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Firman Allah,
“Dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin” (Luqman: 20).
Berkata Muqatil, “Adapun (nikmat) yang lahir (nampak) adalah Islam, sedangkan yang batin adalah ditutupnya kemaksiatan yang dilakukan kalian.”
(3) Peringatan
Peringatan adalah termasuk nikmat yang besar dan ini merupakan salah satu ketelitian Allah agar hamba-Nya tidak terlena. Tanpa kita duga terkadang ada seseorang yang datang meminta makanan atau sesuatu kepada kita, hikmahnya dengan perantaraan orang yang sedang kesusahan tersebut akan membuat kita ingat terhadap nikmat yang diberikan Allah.
(4) Terbukanya Pintu Taubat
Adalah nikmat yang sangat besar dari Allah sekiranya terbukanya pintu taubat kepada kita, walau sebanyak manapun dosa dan kemaksiatan kita. Selagi nafas belum sampai di halkum dan selagi matahari belum terbit dari barat, maka pintu taubat sentiasa terbuka.
(5) Kesihatan, Kesejahteraan Dan Keselamatan Anggota Badan
Salman al-Farisi mencerikan tentang seorang yang diberi harta melimpah lalu kenikmatan tersebut dicabut, sehingga dia jatuh miskin namun orang tersebut masih memuji Allah. Maka ada seorang bertanya, “aku tidak tahu, atas alasan apa engkau masih memuji Allah? Dia menjawab, “Aku memujiNya atas sesuatu yang andainya aku diberi seluruh yang diberikan kepada manusia, maka aku tidak mahu menukarnya”. Orang itu bertanya, “Apakah benda itu?” Dia menjawab, “Apakah engkau tidak memperhatikan kesejahteraan penglihatanmu, lisanmu, kedua tangan dan kakimu?”
(6) Nikmat Harta (Makan Minum dan Pakaian)
Aisyah r.a. berkata, “Tidaklah seorang hamba yang meminum air sejuk, lalu masuk ke dalam perut dengan lancar tanpa ada gangguan dan keluarnya juga dengan lancar, kecuali wajib baginya bersyukur”
Marilah kita sama-sama menginsafi, tidakkah segala jenis nikmat yang disebutkan di atas amat tinggi nilainya dalam kehidupan kita ini. Nikmat-nikmat ini tidak dapat ditukar wang ringgit hatta seluruh isi alam ini sekalipun tidak dapat menandingi nikmat yang diberikan Nya kepada kita.
Apakah kita telah bersyukur?
Apakah tanda kita bersyukur?
Apakah kita terus bersyukur?

TATA CARA SHALAT NABI MUHAMMAD TIGA MASALAH PENTING DALAM SHALAT



Segala puji hanya milik Allah semata, shala-wat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada hamba dan utusanNya, yaitu Nabi Muhammad, keluarga dan para shahabatnya. Amma ba`du:
Berikut ini adalah uraian singkat tentang sifat (tata cara) shalat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Penulis ingin menyajikannya kepada setiap muslim, baik laki-laki ataupun perempuan, agar siapa saja yang membaca-Nya dapat bersungguh-sungguh dalam mencontoh (berqudwah) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. di dalam masalah shalat, sebagaimana sabda beliau:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari).
Kepada para pembaca, berikut ini uraiannya:
1. Menyempurnakan wudlu;
(Seseorang yang yang hendak melakukan shalat) hendaknya berwudlu sebagaimana yang diperintahkan Allah; sebagai peng-amalan terhadap firmanNya:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melakukan shalat, maka cucilah muka kalian, kedua tangan kalian hingga siku, dan usaplah kepala kalian, dan (cucilah) kedua kaki kalian hingga kedua mata kaki…” (Al-Ma’idah: 6).
dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak diterima shalat tanpa bersuci dan shadaqah dari penipuan.” (HR. Muslim ).
Dan sabdanya kepada orang yang tidak betul shalatnya:
“Apabila kamu hendak melakukan shalat, maka sempurnakanlah wudhu”.
2. Menghadap ke kiblat:
Yaitu Ka`bah, di mana saja ia berada dengan seluruh tubuhnya (secara sempurna), sambil berniat di dalam hatinya untuk melakukan shalat sesuai yang ia inginkan, apakah shalat wajib atau shalat sunnah, tanpa mengucapkan niat tersebut dengan lisannya, karena mengucapkan niat dengan lisan itu tidak dibenarkan (oleh syara`), bahkan hal tersebut merupakan perbuatan bid`ah. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melafadzkan niat begitu juga para sahabat. Disunnahkan meletakkan sutrah (pembatas) baik sebagai imam atau shalat sendirian karena demikian itu termasuk sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Shalat harus menghadap kiblat sebab tidak sah shalat seseorang jika tidak menghadap kiblat kecuali dalam kondisi tertentu yang telah banyak dijelaskan dalam kitab-kitab fikih.
3. Takbiratul ihram dengan mengangkat ke-dua tangan hingga sejajar dengan pundak
sambil mengucap Allahu Akbar lalu mengarahkan pandangan ke tempat sujud.
4. Mengangkat kedua tangan di saat bertak-bir hingga sejajar dengan kedua pundak
atau sejajar dengan kedua telinganya.
5. Meletakkan kedua tangan di atas dada-nya,
Yaitu dengan meletakkan tangan kanan pada punggung tangan kiri, atau pada pergelangan tangan kiri, atau pada lengan tangan kiri, karena hal tersebut ada haditsnya, (seperti) hadits yang bersumber dari Wa’il bin Hujr dan Qubaishah bin Hulb Al-Tha’iy yang ia riwaratkan dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu.
6. Disunnahkan membaca do’a istiftah:
“Ya Allah, jauhkanlah antaraku dengan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat; Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku seba-gaimana pakaian putih disucikan dari segala kotoran; Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesa-lahan-kesalahanku dengan air, es dan salju” (Muttafaq `alaih yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).
Boleh juga membaca do’a yang lain sebagai gantinya, seperti:

“ Maha Suci Engkau, Ya Allah, dengan segala puji bagiMu, Maha Mulia NamaMu, dan Maha Tinggi kemuliaanMu, tiada Tuhan yang yang berhak disembah selain Engkau“.
Karena do’a ini ada dalil shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan diperbolehkan membaca do’a istiftah lain dari keduanya yang ada dalil shahihnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun yang lebih afdhal (utama) adalah pada suatu saat membaca do`a istiftah yang pertama dan pada saat yang lain membaca yang kedua atau yang lainnya yang ada dalil shahihnya, karena yang demikian itu lebih sempurna dalam ber-ittiba` (mencontoh Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam).
Kemudian membaca:
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk ” “Dan dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang“.
Dan dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak syah shalat seseorang yang tidak membaca Surat Al-Fatihah “, dan sesudah itu membaca “Amin” secara jelas (nyaring) dalam shalat jahriyah, dan sirr (tersembunyi) dalam shalat sirriyah.
Kemudian membaca ayat-ayat Al-Qur’an, dan diutamakan bacaan dalam shalat Zhuhur, Ashar dan Isya’ dari surat-surat yang agak panjang, dan pada shalat Shubuh surat-surat yang panjang, sedangkan pada shalat Maghrib surat-surat pendek dan pada suatu saat boleh juga membaca surah yang panjang atau setengah panjang, maksudnya pada shalat Maghrib, sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan pada shalat Ashar hendaknya membaca surat yang lebih pendek dari pada bacaan shalat dzuhur
7. Ruku` sambil bertakbir dan mengangkat kedua tangan hingga sejajar
dengan kedua pun-dak atau kedua telinga, dengan menjadikan kepala sejajar dengan punggung dan meletakkan kedua tangan pada kedua lutut dengan jari-jari terbuka sambil thuma’ninah di saat ruku` dan mengucapkan:
“Maha suci RabbKu Yang Maha Agung”
Dan lebih diutamakan membacanya tiga kali atau lebih, dan di samping itu dianjurkan pula membaca:
“Maha Suci Engkau, Wahai Rabb kami dan dengan segala puji bagiMu, Ya Allah, ampunilah aku”.
8. Mengangkat kepala dari ruku’,
sambil mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua pundak atau kedua telinga
sambil membaca:
“Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya”.
baik sebagai imam atau shalat sendirian. Lalu di saat berdiri mengucapkan:
“Wahai Rabb kami, milikMu segala pujian sebanyak-banyaknya lagi baik dan penuh berkah, sepenuh langit dan bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki kelak”.
Dan jika ditambah lagi sesudah itu dengan do’a:
“ Pemilik puja dan puji, ucapan yang paling haq yang diucapkan oleh seorang hamba; dan semua kami adalah hamba bagiMu; Ya Allah, tiada penghalang terhadap apa yang Engkau berikan, dan tiada yang dapat memberikan terhadap apa yang Engkau halangi, tiada berguna bagi orang yang memiliki kemuliaan, karena dariMu lah kemuliaan”.
Maka hal tersebut baik, karena yang demikian itu ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa hadits shahih.
Adapun jika ia sebagai ma’mum, maka di saat mengangkat kepala membaca:
“Wahai Rabb kami, milikMu lah segala puji-an“… hingga akhir bacaan di atas.
Dan dianjurkan meletakkan kedua tangannya di atas dadanya, sebagaimana yang ia lakukan pada saat berdiri sebelum ruku`, karena keshahihan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan demikian, yaitu hadits yang bersumber dari Wa’il bin Hujr dan Sahal bin Sa`ad radhiyallahu ‘anhu.
9. Sujud sambil bertakbir dengan meletak-kan kedua lutut sebelum kedua tangan, jika hal tersebut memungkinkan. Dan jika tidak, maka men-dahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut, sambil menghadapkan jari-jari kedua telapak kaki dan jari jari kedua telapak tangan ke qiblat, dengan posisi jari-jari telapak tangan rapat. Dan sujud di atas tujuh anggota tubuh, yaitu dahi bersama hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari kedua telapak kaki, sambil membaca do’a:
“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi.” tiga kali atau lebih:
Dianjurkan pula membaca:
“Maha Suci Engkau, Ya Allah Rabb kami, dengan segala puji bagiMu. Ya Allah ampunilah aku “.
Dan memperbanyak do’a, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Adapun ruku`, maka agungkanlah Tuhan pada saat itu, dan adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdo’a, sebab layak untuk diterima bagi kalian.”
Dan juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:
“ Posisi terdekat seorang hamba dari Tuhannya adalah di saat ia sedang sujud, maka dari itu perbanyaklah do’a.”
Kedua hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya.
Hendaknya (diwaktu sujud) ia memohon kepa-da Tuhannya kebaikan dunia dan akhirat untuk dirinya dan untuk orang lain dari kaum muslimin, baik itu dalam shalat wajib maupun dalam shalat sunnah. Dan (diwaktu sujud) hendaknya mereng-gangkan kedua lengan tangan dari kedua lambung dan perut dari kedua pahanya sambil mengangkat kedua hasta/lengah tangannya dari tanah, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“ Tegak luruslah kalian di saat sujud dan jangan ada seorang dari kalian meletakkan kedua lengan tangannya seperti anjing meletakkan kedua lengan tangannya.” (Muttafaq `alaih).
10. Mengangkat kepala sambil bertakbir,
bertumpu pada kaki kiri dan mendudukinya, sedang-kan kaki kanan ditegakkan, meletakkan
kedua tangan di atas ujung kedua paha dan kedua lutut, lalu mem-baca:
“Wahai Rabbku, ampunilah aku; wahai Rabbku, ampunilah aku; wahai Rabbku, ampunilah aku. Ya Allah, ampunilah aku, belas kasihilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, berilah aku kesehatan dan tutupilah kekuranganku.”
Hendaknya thuma’ninah (berhenti sebentar) di waktu duduk, hingga setiap persendian benar-benar berada pada posisinya, sebagaimana di saat ia berdiri i`tidal sebelum ruku`, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanjangkan (waktu) i`tidalnya sesudah ruku` dan ketika duduk di antara dua sujud.
11. Sujud yang kedua sambil bertakbir,
dalam melakukannya sebagaimana ia melakukan pada sujud pertama.
12. Mengangkat kepala (bangun) sambil bertakbir,
dan duduk sejenak seperti duduk antara dua sujud. Ini disebut duduk istirahat, hukumnya sunnah menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat para ulama, dan jika ditinggalkan maka tidak apa-apa. Dan pada duduk ini tidak ada bacaan atau pun do’a.
Lalu bangkit dan berdiri untuk melakukan raka`at yang kedua dengan bersanggah pada kedua lutut jika memungkinkan, dan jika tidak memung-kinkan, maka bersanggah kepada kedua tangan di atas lantai, kemudian membaca Al-Fatihah dan sete-rusnya seperti apa yang dilakukan pada raka`at yang pertama. Tidak boleh bagi seorang ma’mum menda-hului imam, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya dari tindakan seperti itu, demikian juga dibenci memba-rengi imam. Sunnahnya bagi ma`mum, gerakan-gerakannya harus sesudah gerakan-gerakan imam-nya dengan tidak berbarengan, dan harus setelah terhentinya suara imam, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“ Sesungguhnya imam itu dijadikan sebagai imam agar diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya, oleh karena itu, jika ia bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan jika ia ruku` maka ruku`lah kalian, dan apabila ia membaca: “Sami`allahu liman hamidah”, maka bacalah: “Rabbana wa lakal-hamdu”, dan apabila ia sujud, maka sujudlah kalian” (Muttafaq `alaih).
13. Jika shalat itu adalah shalat dua raka`at, seperti shalat Subuh, shalat Jum`at dan shalat `Id, maka duduk iftirasy setelah bangkit dari sujud kedua, yaitu dengan menegakkan kaki kanan, dan bertumpu pada kaki kiri, tangan kanan diletakkan di atas paha kanan dengan menggenggam semua jari kecuali jari telujuk untuk berisyarat kepada tauhid di saat meng-ingat Allah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berdo’a. Jika jari manis dan jari kelingking tangan kanan digenggamkan, sedangkan ibu jari dibentuk lingkaran dengan jari tengah dan berisyarat dengan jari telunjuk, maka hal tersebut sangat baik sekali, karena kedua cara tersebut ada di dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan afdhalnya melakukan cara yang pertama pada suatu saat dan cara yang kedua pada saat yang lain. Sedangkan tangan kiri diletakkan di atas (ujung) paha kiri dan lutut; lalu membaca Tasyahhud, yaitu:
Kemudian dilanjutkan dengan membaca:
Lalu memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal dengan membaca:

Kemudian berdo’a, memohon kepada Allah untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dan apabila berdo`a untuk kedua orang tua atau untuk kaum muslimin, maka dibolehkan, baik di waktu shalat wa-jib ataupun shalat sunnah, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Ibnu Mas`ud radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarinya Tasyahhud, beliu bersabda:
“Kemudian hendaknya ia memilih do`a yang lebih disukai, lalu berdo`a”
Do`a yang disebutkan dalam hadist di atas men-cakup semua apa saja yang berguna bagi seseorang dalam kehidupan dunia dan akhirat. Setelah itu memberi salam dengan menoleh ke kanan dan salam dengan menoleh ke kiri, seraya mengucapkan:
14. Jika shalat yang dikerjakan adalah tiga raka`at, seperti shalat Maghrib, atau empat raka`at, seperti shalat Zhuhur, `Ashar dan Isya’, maka hendak-nya ia membaca tasyahhud tersebut di atas dengan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian bang-kit dengan bersanggah kepada kedua lututnya, sambil mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua pundak dan membaca Allahu Akbar, lalu mele-takkan kedua tangan di dada sebagaimana diterang-kan di atas kemudian membaca Al-Fatihah saja.
Jika ia membaca surah atau ayat pada raka`at ketiga dan keempat dalam shalat dzuhur sesudah al-Fatihah pada saat-saat tertentu, maka tidak apa-apa. Karena ada hadits shahih yang menunjukkan hal tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersumber dari Abu Sa`id radhiyallahu ‘anhu.
Dan jika tidak membaca shalawat pada tasyah-hud pertama, maka tidak apa-apa, karena hukumnya sunnah, tidak wajib dalam tasyahhud awal. Kemudian membaca tasyahhud setelah raka`at ketiga pada shalat Maghrib, dan setelah raka`at keempat dari shalat Zhuhur, Ashar dan Isya’, berikut dengan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , dan memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara yang disebutkan di atas (adzab Neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah kehi-dupan dan kematian dan dari kejahatan fitnah Dajjal), lalu perbanyak berdo`a.
Dan di antara do`a yang diajarkan pada akhir tahiyyat (tasyahhud) dan juga dalam kesempatan-kesempatan lainnya adalah:
“ Ya Rabb kami, karuniakan kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari adzab api Neraka”.
Karena ada hadits shahih yang bersumber dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Kebanyakan dari do`a-do`a Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah wa qina adzaban nar.
Sebagaimana telah disebutkan di atas dalam shalat yang dua raka`at, hanya saja posisi duduk saat ini adalah duduk tawarruk, yaitu duduk dengan meletakkan telapak kaki kiri di bawah betis kaki kanan dan kemudian mendudukkan pantat di atas tanah, sedangkan kaki kanan tegak, berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Humaid. Kemudian memberi salam ke kanan sambil mengucapkan: dan salam ke kiri seraya mengucapkan:
Sehabis itu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah tiga kali, membaca:
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Selamat dan dariMu-lah keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Pemilik keagungan dan kemulia-an; tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya lah kerajaan, dan milikNya-lah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu; tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Ya Allah, tiada yang dapat menghalangi terhadap apa yang Engkau berikan, dan tiada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau halangi, tidaklah bermanfaat kemuliaan bagi pemiliknya kecuali kemuliaan itu dari Engkau. Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepadaNya; kepunyaanNya lah kenikmatan dan milikNya lah karunia, dan bagiNya-lah sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan tulus ikhlas tunduk kepadaNya sekalipun orang-orang kafir tidak suka”.
Kemudian bertasbih (mengucapkan Subhanallah ) sebanyak 33 kali, memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah) 33 kali dan bertakbir (mengucapkan Allahu akbar) 33 kali, serta digenapkan menjadi seratus dengan mengucapkan:
“Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kepunyaan-Nya-lah kerajaan, dan milikNya-lah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Lalu membaca ayat Kursi, Surat Al-Ikhlash, surat Al-Falaq dan Surah An-Nas pada setiap kali selesai shalat. Dan dianjurkan (disunnahkan) meng-ulang tiga surat tersebut sebanyak 3 kali setelah selesai shalat Maghrib dan shalat subuh, berdasarkan hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menganjurkan tentang hal itu, begitu pula dianjurkan (disunnahkan) menambah dzikir tersebut di atas, terutama setelah shalat Maghrib dan shalat Subuh dengan dzikir berikut 10 kali:
“Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kepunyaan-Nya-lah kerajaan, dan milikNya-lah segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Semua itu berdasarkan hadits shahih dari Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jika ia sebagai imam, maka hendaknya berbalik menghadap para ma’mum sesudah beristighfar 3 kali dan mengucapkan:
“Ya Allah, Engkau Yang Maha selamat dan dariMu lah keselamatan, Maha Tinggi lagi Maha Suci Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan”.
Kemudian membaca dzikir-dzikir sebagaimana tersebut di atas, yang banyak disebutkan dalam hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya adalah hadits shahih yang dari `Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Semua dzikir di atas hukumnya sunnah, tidak wajib.
Disunnahkan pula bagi setiap muslim, baik laki-laki atau perempuan shalat sunnah 4 raka`at sebelum Zhuhur dan 2 raka`at sesudahnya, 2 raka`at sesudah shalat Maghrib, 2 raka`at sesudah Isya dan 2 raka`at sebelum shalat Subuh. Jumlah kesemuanya 12 raka`at, yang dinamakan shalat rawatib; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menjaganya di waktu muqim, adapun di waktu beper-gian beliau hanya melakukan shalat sunnat Subuh dan witir. Untuk kedua shalat sunnah tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya baik di waktu muqim maupun di waktu bepergian. Beliau adalah teladan bagi kita, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik”. (Al-Ahzab: 21).
Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”.(HR. Bukhari).
Dan lebih utama (afdhal) shalat-shalat rawatib dan shalat witir dilakukan di rumah, namun jika dilakukan di masjid, maka tidak apa-apa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumah, kecuali shalat wajib.” (Hadits ini disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim)
Menjaga shalat rawatib dengan sungguh-sung-guh merupakan bagian dari sebab seseorang masuk Surga, sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Shahih Muslim dari Ummi Habibah radhiyallahu ‘anhu sesungguh-nya dia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tiada seorang hamba muslim pun yang selalu melakukan shalat sunnat 12 raka`at selain dari shalat wajib pada setiap hari, melainkan Allah bangun untuknya sebuah istana di Surga.”
Dan sesungguhnya Imam At-Tirmidzi di dalam riwayat haditsnya juga menjelaskan (menafsirkan) hadits di atas sebagaimana yang kami sebutkan tadi.
Jika ia melakukan 4 raka`at sebelum shalat Ashar, 2 raka`at sebelum Maghrib, dan dua raka`at sebelum shalat Isya`, maka itu lebih baik sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Allah akan memberi rahmat kepada seseorang yang selalu shalat 4 raka`at sebelum Ashar“. (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan ia menghasankannya; dishahihkan Ibnu Huzaimah, sanad hadits tersebut shahih).
Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“ Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalatnya, di antara dua adzan ada shalatnya, -Lalu beliau bersabda untuk ketiga kalinya: Bagi yang menghendaki.” (HR. Al-Bukhari)
Dan jika shalat 4 raka`at setelah shalat Zhuhur dan 4 raka`at sebelumnya, maka itu pun baik pula, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa yang menjaga 4 raka`at sebelum Zhuhur dan 4 raka`at sesudahnya, maka ia diharamkan oleh Allah atas api Neraka.” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad shahih dari Ummi Habi-bah radhiyallahu ‘anhu)
Maksudnya adalah, ia menambah 2 raka`at atas shalat sunnat rawatib sesudah Zhuhur, karena shalat sunnat rawatib Zhuhur itu 4 raka`at sebelumnya dan 2 raka`at sesudahnya. Maka jika ia melakukan dua rak`at shalat sunnat lagi sesudahnya, tercapailah apa yang disebutkan di dalam hadits Ummi Habibah tersebut.
Dan Allahlah Pemberi taufiq, dan semoga Allah tetap mencurahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Nabi Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada ke-luarga dan para shahabatnya serta para pengikutnya hingga hari Kiamat.

Jumat, 04 September 2009

Kesuksesan tidak mudah diraih tanpa ada perjuangan, but semua orang bisa sucses aslkan dia sungguh-sungguh untuk mendapatkan semua itu,contohnya: saya dari kelurga yang biasa saja, tapi dengan niat ingin merubah diri alhamdulillah saya bisa beres kuliah dan dapat kerja. Tapi saya belum merasa puas apabila belum bisa membahagiakan orang tua and kedua adik ku.